Ekologi yang Retak Bedadung di Tengah Ketidakseimbangan Manusia dan Alam

Akademisi Universitas Jember
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sherina Azahro Anthony tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sungai Bedadung mengalir di wilayah Kabupaten Jember, Kecamatan Balung, Desa Balung Lor, selama ini menjadi penopang penting dalam aktivitas masyarakat. Aliran sungai yang berfungsi sebagai jalur pembuangan atau muara pembuangan air hujan dari sungai-sungai kecil disekitarnya dan didampingin dengan adanya aktivitas manusia yang menonjol seperti ekonomi, pendidikan, dan terdapat pemukiman warga di sekitar aliran sungai. Namun, sejak tahun 2022 kondisi tebing sungai Bedadung tidak dalam keadaan baik karena mengalami kemunduran yang serius. Sebab dari adanya kemunduran ini bukan karena faktor alam saja akan tetapi aktivitas manusia juga menjadi akibatnya.
Longsor Terjadi Dua Kali Tahun 2022 dan 2024
Kemunduran dari Sungai Bedadung dimulai ketika terjadinya longsor pada April 2022 dan kembali terulang pada Desember 2024. Longsor yang terjadi di tebing sungai Bedadung menyebabkan kerusakan parah terutama di jalan disamping sungai yang merupakan penghubung antara Desa Balung Lor dan Balung Kulon. Jalan penghubung ini menjadi akses yang sangat penting bagi aktivitas masyarakat mulai dari eknomi, pendidikan, hingga mobilitas harian.
"Longsor terjadi habis banjir di Bedadung tahun 2022", ungkap kepala Desa Balung Lor yaitu Bapak Imam Mustofa saat di wawancarai. ia menjalaskan bahwa naik turunnya debit air Sungai Bedadung yang membuat tanah menjadi gembur. Selain itu, adanya kendaraan berat yang melintas di jalan tepi tebing sungai makin memperburuk kondisi tanah karena getaran yang dihasilkan. Pandangan serupa juga dikemukakan oleh kepala desa Balung Kulon yaitu Bapak Langgeng Supriyanto, ia mejelaskan bahwa meningginya debit air sungai Bedadung saat musim hujan menjadi penyebab utama erosi tebing. "Air dari hulu yang meluap akhirnya menggerus tebing kanan sungai Bedadung", ungkap Bapak Langgeng Supriyanto.
Kedua kepala desa sepakat bahwa faktor utama penyebab longsor adalah gabungan antara fenomena alam dan aktivitas manusia, ditambah dengan lambatnya penanganan dari pemerintah Kabupaten Jember.
Upaya Penanggulangan Sementara
Setelah longsor tahun 2022, pemerintah desa dengan warga setempat mengambil langkah sementara, yaitu dengan memasang papan peringatan agar kendaraan roda empat tidak melintas. Tanda peringatan ini dipasang pada tahun 2022 ketika longsor pertama kali terjadi, akan tetapi dicopot karena sudah ada perbaikan jalan. Kembali dipasang pada tahun 2024 karena adanya longsor susulan.
Selain itu, juga membuat pembatas di sekitar lokasi longsor untuk mencegah terjadinya kecelakaan. serta melakukan penanaman bambu di area tebing sungai untuk memperkuat struktur tanah. Sayangnya, saat longsor susulan pada tahun 2024, bambu yang telah ditanam hanyut terbawa arus dan hingga saat ini masih belum ada penanaman kembali.
Masyarakat dan Pemerintah desa mengaharapkan adanya tindakan permanen dari pemerintah kabupaten Jember, seperti pembangunan plengsengan di sepanjang tebing sungai. Namun, hingga saat ini pemerintah kabupaten Jember masih sebatas melakukan pengontrolan dan survei lapangan, tanpa adanya tindakan nyata.
Dampak Mengkhawatirkan Ekonomi dan Sosial dalam Kebidupan Masyarakat
Longor yang terjadi di tebing sungai Bedadung tidak hanya sekedar masalah lingkungan saja, teapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. jika dilihat dari sisi ekonomi, distribusi hasil pertanian dan peternakan dari Balung Kulon ke Balung Lor menjadi terhambat. Hal tersebut dikarenakan truk pengangkut hasil panen terpaksa harus menempuh jalur yang lebih jauh. Warga di sekitar tebing juga khawatir akan kehilangan mata pencaharian, terutama bagi warga yang memiliki usaha pande besi di sekitar tepi sungai.
Sementara jika dilihat dari sisi sosial, akses jalan yang rusak membuat siswa dari Balung Lor yang bersekolah di Balung Kulon akan menempuh jarak yang lebih jauh. Serta kekhawatiran dan kecemasan masyarakat akan terjadinya longsor susulan saat musim penghujan.
Penantian Masyarakat akan Kepedulian Pemerintah
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan dengan kepala desa Balung Lor dan Balung Kulon serta masyarakat disekitar, dapat dilihat secara jelas bahwa terjadinya longsor merupakan gabungan antara faktor alam dan aktivitas manusia. akan tetapi, lambatnya penanganan dari pemerintah Kabupaten Jember semakin memperparah dampaknya.
Jika bencana longsor ini tidak segera ditangani, akan memungkinkan akses jalan yang menghubungkan desa Balung Lor dan Balung Kulon akan terputus, bahkan mengancam pemukiman dan mata pencaharian masyarakat kedepannya. Harapan dari pemerintah desa dan masyarakat sederhana, pemerintah kabupaten Jember bisa segara membuat bangunan permanen seperti plengsengan agar longsor tidak terjadi kembali.
Selama belum ada penanganan permanen dan langkah nyata dari pemerintah dan masih sebatas penanganan sementara yang dilakukan oleh pemerintah desa. Sungai Bedadung akan menjadi bukti bagaimana ketidak seimbangan antara manusia dan alam akan membawa dampak nyata bagi masyarakat di sekitarnya.
Fakta-Fakta Menarik di Balik Longsor Tebing Sungai Bedadung Tahun 2022 dan 2024
Peristiwa longsor ditebing Sungai Bedadung ternyata menyimpan fakta-fakta menarik yang menjadi bukti hubungan komplek antara manusia dan alam. Longsor yang terjadi dua kali pada tahun 2022 dan 2024 keduanya terjadi di musim penghujan ketika debit air Sungai Bedadung meningkat. Peristiwa ini menunjukan adanya pola yang berulang seperti naiknya debit air Sungai Bedadung ketika musim hujan yang membawa air dari hulu dan menggemburkan tanah di tebing sungai sehingga mudah untuk longsor. Disisi lain, adanya jalan penghubung antara Desa Balung Lor dan Balung Kulon menjadi faktor tambahan, lalu lintas kendaraan berat seperti truk dan pick up yang melintas setiap hari menimbulkan getaran dan mempercepat terjadinya longsor.
Menariknya kepala desa Balung Lor dan Balung Kulon menilai bahwa longsor tidak hanya disebabkan oleh faktor alam tetapi juga oleh aktivitas manusia, ditambah dengan lambatnya penanganan dari pemerintah Kabupaten. Sejak kejadian longsor pertama tahun 2022 belum ada pembangunan permanen seperti plengsengan di bibir sungai. Pemerintah Kabupaten Jember masih sebatas melakukan pengontrolan saja tanpa adanya tindakan nyata, hingga terjadinya longsor susulan tahun 2024. Pemerintah Desa dan masyarakat sekitar melakukan penanganan sementara dengan melakukan pemasangan tanda larangan kendaraan roda empat dan menananm bambu di sekitar tebing sungai. Sayangnya bambu yang telah ditanam terbawa arus saat terjadinya longsor susulan tahun 2024.
Dampak terjadinya longsor di tahun 2022 dan 2024 sangat besar. akses jalan terganggu dan terputus untuk sementara waktu, distribusi hasil pertanian dan peternakan harus menempuh jarak yang lebih jauh, serta masyarakat diliputi rasa cemas dan khawatir bencana serupa akan terulang ketika musin penghujan tiba. fakta-fakta inilah yang memperlihatkan bahwa longsor di Sungai Bedadung bukan hanya peristiwa alam saja, melainkan ketidak seimbangan hubungan antara manusia dan lingkungan sekitarnya.
