Rembug Bantengan Tirtomoyo, PkM FIB UB & Desa Bersinergi Memperkuat Seni Tradisi

Mahasiswi Universitas Brawijaya 2023 Fakultas Ilmu Budaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sherly Agusta Nur Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya menggelar Seminar Rembug Bantengan Tirtomoyo pada 8 Agustus 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program kerja PKM yang berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Tirtomoyo melalui program Penyuluhan Penggerak Seni Desa Tirtomoyo. Seminar ini menjadi ajang pertemuan antara akademisi, komunitas seni, dan masyarakat untuk membahas strategi pelestarian seni tradisi, khususnya Bantengan, sebagai identitas budaya desa.
Acara ini dihadiri tidak hanya oleh komunitas Bantengan, tetapi juga kelompok seni lain seperti jaranan, pencak silat, dan komunitas kesenian lokal. Kolaborasi ini mencerminkan semangat kebersamaan dalam menguatkan peran seni tradisi di tengah arus modernisasi. Pembukaan seminar diawali dengan penampilan Tari Bali dan Tari Betawi oleh mahasiswa PkM FIB UB yang menambah semarak suasana. Kepala Desa Tirtomoyo dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran penggerak seni dalam menjaga, mempromosikan, dan menurunkan nilai budaya lokal kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Dua narasumber kompeten turut hadir memberikan wawasan. Materi pertama disampaikan oleh Dimas Bagus Atmananto dari Bidang Seni Pertunjukan Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM), yang menyoroti pandangan generasi muda terhadap Bantengan dan nilai seni yang terkandung di dalamnya. Materi kedua dibawakan oleh Prof. Dr. Sony Sukmawan, M.Pd., Guru Besar FIB UB, melalui presentasi bertajuk “Bantengan: Gerbang Kosmos yang Digugat Zaman”. Ia membahas sejarah, filosofi, dan unsur-unsur penting dalam Bantengan, termasuk peran juru kunci, musik pengiring, makna topeng, serta ritual yang menjadi ciri khas pertunjukan. Prof. Sony juga memaparkan strategi pelestarian melalui penguatan narasi budaya, inovasi pertunjukan tanpa menghilangkan nilai tradisi, serta pemanfaatan seni sebagai sarana edukasi masyarakat.
Setelah pemaparan, forum dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang diikuti warga, pemuda, dan pelaku seni. Diskusi ini menjadi ruang bertukar gagasan untuk memastikan kesenian tradisional tetap relevan, berkualitas, dan diminati masyarakat luas. Seminar Rembug Bantengan Tirtomoyo diharapkan dapat mempersiapkan para penggerak seni untuk menjaga, mengembangkan, dan mengemas tradisi secara lebih kreatif, sekaligus memperkuat nilai luhur budaya Tirtomoyo.
“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang sosialisasi budaya, tetapi juga memperkuat sinergi antara pemerintah desa, komunitas seni, dan akademisi dalam melestarikan warisan budaya. Kehadiran generasi muda dalam forum diskusi menunjukkan antusiasme dan harapan baru bagi keberlangsungan seni tradisi di tengah perkembangan zaman”, ujar Tasya selaku penanggungjawab program kerja Seminar Rembug Bantengan.
Seminar Rembug Bantengan Tirtomoyo memiliki keterkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Desa. Kegiatan ini mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dengan memberikan pemahaman mendalam terkait seni dan budaya kepada masyarakat. Kegiatan ini juga mencerminkan SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan karena berfokus pada pelestarian warisan budaya sebagai identitas desa, serta berperan dalam pencapaian SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan, terlihat dari kerja sama erat antara akademisi, komunitas seni, dan pemerintah desa dalam mengembangkan budaya lokal.
Seminar Rembug Bantengan Tirtomoyo juga selaras dengan 18 Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Desa, yaitu tujuan pembangunan berkelanjutan yang dirancang sesuai konteks pedesaan Indonesia. Salah satu fokus penting kegiatan ini adalah SDGs Desa poin 18, Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif, yang menekankan penguatan peran kelembagaan desa serta kemampuan budaya lokal untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Melalui forum diskusi dan kolaborasi antara pemerintah desa, akademisi, serta komunitas seni, kegiatan ini menunjukkan bagaimana warisan budaya Bantengan tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan sebagai modal sosial dan identitas desa. Dengan demikian, seminar ini turut mendukung pencapaian SDGs Desa secara luas, mulai dari pendidikan berkualitas, kemitraan untuk pembangunan, hingga pelestarian budaya yang berkelanjutan.
Dengan semangat kebersamaan, seminar ini menjadi momentum penting bagi Desa Tirtomoyo untuk memperkenalkan kekayaan seni tradisi ke khalayak yang lebih luas dan menjadikannya sebagai salah satu aset berharga dalam pembangunan desa berkelanjutan.
