Ibu dan Pengorbanan yang Terlalu Sering Dianggap Wajar

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Sherly Mailani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan sosial, peran ibu kerap dipandang sebagai bagian dari kodrat, bukan sebagai kerja yang menuntut tenaga fisik, ketahanan mental, dan pengorbanan personal yang besar. Padahal, pengorbanan ibu selalu hadir dalam rutinitas sehari-hari dan berlangsung secara terus-menerus, tetapi perlahan dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya ada.
Seorang Ibu Tidak Hidup untuk Dirinya Sendiri
Sejak awal kehidupan, ibu menjadi fondasi yang menopang tumbuh kembang anak. Tubuhnya adalah ruang pertama bagi kehidupan yang menanggung perubahan biologis, rasa lelah, hingga risiko kesehatan yang tidak kecil.
Namun proses ini jarang dibicarakan sebagai bentuk pengorbanan. Ia dinormalisasi sebagai konsekuensi alami dari menjadi ibu. Padahal, di baliknya ada kerja fisik yang nyata dan berisiko, yang seharusnya diakui dan dihargai.
Pengorbanan tersebut tidak berhenti pada fase kehamilan dan persalinan. Dalam keseharian, ibu menjalankan kerja perawatan yang berulang dan melelahkan: memastikan anak makan dengan baik, menjaga kesehatan keluarga, mengelola rumah tangga, hingga hadir secara penuh dalam proses tumbuh kembang anak. Kerja ini berlangsung di ruang privat, membuatnya kerap tak terlihat dan jarang masuk dalam perhitungan kontribusi sosial.
Selain kerja fisik, ibu juga memikul beban mental dan emosional yang besar. Ia sering menjadi tempat pertama anak mencari rasa aman, tempat mengadu ketika menghadapi kegagalan, ketakutan, atau kebingungan.
Dalam peran ini, ibu belajar menahan kelelahan emosionalnya sendiri demi menjaga stabilitas keluarga. Beban mental ini jarang diakui, meskipun dampaknya sangat menentukan kesehatan emosional anak dan kualitas relasi dalam rumah tangga.
Lebih jauh, pengorbanan ibu kerap berarti mengorbankan kehidupan pribadinya. Banyak ibu harus menunda atau bahkan melepaskan mimpi, pendidikan, karier, dan waktu untuk dirinya sendiri. Pilihan-pilihan ini sering kali tidak benar-benar bebas, tetapi dibentuk oleh struktur sosial yang menempatkan tanggung jawab pengasuhan secara tidak seimbang pada perempuan.
Pengorbanan Seorang Ibu Harus Diakui
Menganggap pengorbanan ibu sebagai sesuatu yang alami justru berisiko mengabaikan kebutuhan ibu sebagai manusia. Ketika kerja fisik dan mental ibu tidak diakui, kelelahan dan kerentanan yang ia alami menjadi mudah diabaikan.
Padahal, kesejahteraan ibu berbanding lurus dengan kesejahteraan keluarga dan generasi yang ia rawat. Menghargai ibu tidak cukup berhenti pada perayaan simbolik, tetapi membutuhkan pengakuan dan dukungan yang nyata.
Pengorbanan ibu bukanlah sesuatu yang muncul secara otomatis dari kodrat, melainkan hasil dari kerja yang terus-menerus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Mengucapkan terima kasih kepada ibu berarti juga berani berhenti menganggap pengorbanannya sebagai sesuatu yang sewajarnya ada.
Terima kasih, ibu.
Atas tubuh yang terus bekerja,
pikiran yang terus bertahan,
dan cinta yang tetap memberi, bahkan ketika tak diminta.
