Perempuan dalam Bencana Alam

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sherly Mailani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa kasus bencana alam yang terjadi, laporan menunjukkan lebih banyak korban perempuan dibanding korban laki-laki. Seperti kasus bencana alam yang baru-baru ini terjadi di Sumatera Barat, Divisi Identifikasi Korban Bencana (DVI) Polda Sumatera Barat merilis data terbaru jumlah korban bencana banjir dan longsor dengan total 126 jenazah yang telah berhasil diidentifikasi, terdiri dari 62 laki-laki dan 64 perempuan.
Selain korban meninggal, DVI Polda Sumbar juga mencatat adanya 220 orang yang masih dinyatakan hilang atau belum ditemukan, dengan rincian 97 laki-laki dan 123 perempuan.
Beberapa hal dapat menjadi pola penyebab banyaknya perempuan meninggal dan hilang dalam bencana alam di Sumatera. Misalnya, para perempuan harus menjaga anak atau keluarganya yang lain saat banjir datang. Sedangkan laki-laki, saat banjir datang, cenderung bisa berenang atau memanjat pohon.
Ketimpangan akses dan kekerasan pasca bencana
Salah satu riset di Bangladesh menunjukkan bahwa fasilitas yang kurang memadai selama bencana alam yang terjadi di sana menyebabkan perempuan lebih rentan terhadap masalah kesehatan seksual dan reproduksi, serta meningkatnya kekerasan seksual.
Dalam perspektif gender, perempuan lebih banyak menjadi korban dalam situasi bencana karena memiliki akses yang lebih rendah terhadap sumber daya seperti toilet dan air yang bersih selama di shelter pengungsian dibanding laki-laki. Selain itu, kurangnya sarana prasarana juga mempersulit untuk memenuhi kebutuhan perempuan seperti menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui anak.
Ditambah lagi beragam adat, budaya, dan keyakinan agama yang dianut perempuan, yang menyebabkan tidak mudahnya perempuan untuk mengakses fasilitas yang tersedia di tempat pengungsian.
Selain itu, keterbatasan ruang privasi di tempat pengungsian membuat banyak perempuan merasa tidak aman dan tidak nyaman. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya kekerasan seksual pada perempuan harus diwaspadai di lingkungan pengungsian. Perempuan dan anak-anak yang terpisah dari keluarga yang biasanya melindunginya, akan merasa semakin tidak berdaya di pengungsian.
Suara perempuan
Tidak semua kebutuhan perempuan hanya tentang kebutuhan fisik saja. Perempuan yang kehilangan suami, kehilangan anak, atau kehilangan keluarganya akan mengalami trauma psikologis yang relatif panjang. Sangat dibutuhkan pemulihan trauma psikologis dengan penyesuaian pendekatan pada setiap jenis kasus yang terjadi.
Minimnya kesempatan perempuan menjadi pemimpin dalam pengungsian seringkali menghambat terdengarnya suara perempuan, sehingga kebutuhan perempuan seringkali tidak menjadi pemenuhan utama. Kesempatan untuk hadir dan berbicara dalam mitigasi maupun pasca bencana untuk pertemuan dengan stakeholder lebih banyak diwakili oleh laki-laki.
Pelibatan perempuan dalam mitigasi dan pasca bencana
Dengan melihat pada jumlah korban bencana alam yang sudah dilaporkan, dan didominasi oleh perempuan, kita perlu melibatkan dan mendengar lebih banyak suara perempuan, terutama dalam proses mitigasi dan pasca bencana. Sama halnya seperti laki-laki, perempuan juga dapat berperan sebagai edukator dan perlu dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan.
