Konten dari Pengguna

Konten Naik Daun, Akhlak Turun

serlly nirmala putri

serlly nirmala putri

Mahasiswi Perbandingan Mazhab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari serlly nirmala putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar yang dibuat oleh penulis dengan bantuan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar yang dibuat oleh penulis dengan bantuan AI

Konten Naik Daun, Akhlak Turun Di era media sosial yang serba cepat, popularitas seolah menjadi mata uang baru. Ukurannya sederhana: jumlah tayangan, tanda suka, dan seberapa sering sebuah konten dibicarakan. Ketika konten “naik daun”, nama pemilik akun ikut terangkat. Namun, di balik euforia itu, muncul kegelisahan yang patut direnungkan: mengapa akhlak justru sering tertinggal?

Fenomena ini terlihat jelas di linimasa. Konten yang memicu tawa lewat ejekan, mempermalukan orang lain, memamerkan aib, atau menabrak batas kepatutan justru lebih mudah viral. Sebaliknya, konten edukatif dan bernilai kebaikan sering tenggelam di antara hiruk-pikuk sensasi. Algoritma bekerja dingin, tanpa mempertimbangkan etika. Akibatnya, banyak orang tergoda menyesuaikan diri demi perhatian.

Dorongan untuk viral perlahan menggeser niat. Konten tak lagi lahir dari keinginan berbagi manfaat, melainkan dari ambisi dilihat dan diakui. Kamera menyala, logika sering dimatikan. Demi satu unggahan, empati bisa dikorbankan. Demi satu momen viral, harga diri bahkan rela dipertaruhkan. Inilah ironi zaman digital: konten naik daun, tetapi akhlak justru menurun.

Dampaknya tidak berhenti di dunia maya. Budaya ini merembes ke kehidupan nyata. Kita menyaksikan orang rela membuat keributan di ruang publik, melanggar norma, bahkan hukum, hanya agar direkam dan dibagikan. Ketika perhatian publik menjadi tujuan utama, batas antara benar dan salah semakin kabur. Yang penting ramai, bukan lagi pantas.

Dalam perspektif Islam, fenomena ini menjadi alarm moral. Islam menempatkan akhlak sebagai fondasi utama kehidupan. Rasulullah ﷺ bahkan menegaskan bahwa misi kerasulannya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Artinya, apa pun bentuk aktivitas, termasuk di ruang digital, tidak boleh mengabaikan adab dan etika.

Islam juga mengingatkan bahwa setiap ucapan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Konten yang diunggah bukan sekadar hiburan sesaat, melainkan jejak digital yang dapat berdampak panjang. Satu unggahan bisa menyakiti, memicu kebencian, atau menyesatkan banyak orang. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa popularitas bukan ukuran kemuliaan.

Budaya konten hari ini kerap mengajarkan standar keliru: semakin ekstrem, semakin dianggap kreatif; semakin kontroversial, semakin dipuji. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan. Kreativitas tidak harus merusak nilai. Hiburan tidak harus mengorbankan akhlak. Media sosial bisa menjadi ruang dakwah, edukasi, dan solidaritas, jika dikelola dengan niat yang benar.

Sayangnya, sebagian orang terjebak pada logika instan. Viral dianggap sebagai pintu kesuksesan tercepat. Akibatnya, muncul pembenaran: “yang penting tidak melanggar hukum” atau “sekadar hiburan.” Padahal, Islam mengajarkan bahwa sesuatu yang tidak melanggar hukum pun bisa tetap tidak pantas secara moral. Akhlak berdiri lebih tinggi dari sekadar aturan formal.

Lalu, bagaimana seharusnya menyikapi fenomena ini? Pertama, meluruskan niat sebelum mengunggah. Bertanya pada diri sendiri: apakah konten ini bermanfaat, jujur, dan tidak menyakiti? Kedua, menahan diri. Tidak semua hal layak dibagikan, tidak semua opini perlu diumbar. Ketiga, mengedepankan empati. Di balik layar, ada manusia dengan perasaan, bukan sekadar objek konten.

Islam tidak anti terhadap popularitas. Namun, popularitas harus berjalan seiring dengan tanggung jawab. Semakin luas jangkauan sebuah konten, semakin besar pula dampak dan konsekuensinya. Di sinilah akhlak diuji: apakah kita menggunakan sorotan untuk kebaikan, atau justru menambah kerusakan?

Pada akhirnya, dunia digital adalah cermin dari nilai yang kita rawat. Jika akhlak dijadikan landasan, konten akan menjadi sarana kebaikan. Namun, jika sensasi menjadi tujuan, penurunan etika hanya soal waktu. Konten boleh naik daun, tetapi akhlak tidak boleh turun. Sebab, sorotan publik bersifat sementara, sementara nilai moral akan menentukan arah hidup jangka panjang—di dunia maupun di akhirat.