Konten dari Pengguna

Konflik Bukan untuk Dihindari, tapi Dihadapi: Belajar dari LDKM

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Karin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi pribadi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi penulis

Biasanya Konflik hampir selalu dianggap sesuatu yang perlu dijauhi, begitu pun bagi saya. Saat terjadi perbedaan pendapat, saya lebih memilih untuk diam agar tidak ada orang yang tersinggung. Sampai akhirnya saya mengikuti serangkaian kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDKM) selama beberapa hari, saya sadar bahwa konflik yang saya hindari tidaklah hilang, melainkan ia membesar dan mulai menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Maka dari itu konflik lebih baik dihadapi, tapi dengan cara yang tepat.

Perlu diketahui bahwa menghindar hanyalah menunda masalah. Perbedaan pendapat yang diabaikan biasanya akan muncul kembali, dan dapat menjadi konflik yang lebih besar dari sebelumnya. Ada pepatah mengatakan bahwa mengalah dan diam adalah cara terbaik untuk menjaga perdamaian, dan itu tidak sepenuhnya salah. Sebenarnya tidak semua perbedaan layak dipermasalahkan, namun beda cerita jika itu menyangkut hal yang mempengaruhi kerja sama. Diam secara terus-menerus justru akan mulai menjadi konflik dan merusak perdamaian itu sendiri.

Materi yang saya dapatkan dari LDKM membuat cara berpikir saya berubah menjadi seperti sekarang. Salah satunya materi tentang Kepemimpinan. Ia menegaskan bahwa kualitas pemimpin terlihat dari caranya menghadapi masalah. Pemimpin yang baik seharusnya tahu kapan harus mengarahkan, mendengarkan, dan berani mengambil keputusan yang bijak bahkan disaat tidak semua orang setuju dengan keputusannya. Lalu ditambah materi tentang Etika dan moral yang menjadi bahan pelengkapnya. Saat menghadapi konflik kita harus mempunyai emosional intelligence yang tinggi, sikap menghargai, dan dapat menyampaikan pendapat dengan baik. Sebagai mahasiswa hukum saya merasa materi cukup relate. Aturan bisa saja dipelajari dari buku, namun cara bersikap saat menghadapi perbedaan dan konflik, itu hanya bisa terbentuk dari kesadaran dan kemauan dari diri sendiri.

Banyak pengalaman nyata yang dapat dijadikan contoh. Contohnya pengalaman yang pernah saya alami, terutama saat jelajah malam di malam kedua LDKM. Saat itu Badan sudah terasa sangat lelah setelah seharian mengikuti rangkaian kegiatan, ditambah udara malam yang menusuk langsung ke kulit, dan kami harus tetap berjalan bersama kelompok menyusuri perkebunan untuk memenuhi kegiatan dari rangkaian acara. Dalam kondisi seperti itu, hal kecil bisa menjadi konflik yang cukup besar. Namun karena kita memberikan hak kebebasan berpendapat, saling mendengarkan, saling percaya, dan saling menghargai, kita dapat melalui perjalanan itu tanpa adanya konflik. Karena Kepercayaan dan rasa nyaman akan membuat kita berani menghadapi konflik. Mungkin rasa dingin malam itu tidak hilang, namun malam menjadi terasa lebih menyenangkan karena dilalui dengan orang orang yang dapat dipercaya karena kedekan dari rasa nyaman.

Dokumentasi pribadi penulis

Dari semua itu saya menyimpulkan bahwa konflik tidak perlu dihindari, harus dihadapi namun tidak dengan emosi. Keberanian untuk berbicara harus dilatih, kesabaran untuk mendengar, dan dapat mengambil keputusan jalan tengah dengan bijak. LDKM memberi saya ruang untuk melatih semua hal itu dalam waktu singkat, tetapi dampaknya terjadi sampai sekarang. Ketika sedang ada konflik karena perbedaan, saya tidak lagi diam. Saya mulai mendengarkan dan menyampaikan pendapat saya dengan baik. Hasilnya memang belum sempurna, namun itu adalah awal yang baik untuk awal perubahan saya. Jadi berhentilah menghindar dan mulai hadapi.