Konten dari Pengguna

Sulitnya Mencari Kerja: Tantangan Ekonomi bagi Generasi Muda

Nadia

Nadia

Mahasiswa Manajemen S1 Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Caption: Ilustrasi proses seleksi kerja yang menjadi salah satu tantangan bagi generasi muda dalam mendapatkan pekerjaan. Sumber: Resume Genius/Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Caption: Ilustrasi proses seleksi kerja yang menjadi salah satu tantangan bagi generasi muda dalam mendapatkan pekerjaan. Sumber: Resume Genius/Unsplash.

Sudah Lulus, tetapi Kenapa Masih Sulit Mendapatkan Kerja?

Bagi banyak orang, lulus kuliah menjadi salah satu momen yang paling ditunggu. Setelah bertahun-tahun belajar, muncul harapan untuk mendapatkan pekerjaan, memperoleh penghasilan sendiri, dan mulai membangun masa depan. Namun, kenyataannya tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Ada yang sudah mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, tetapi belum mendapatkan panggilan wawancara. Ada juga yang berhasil sampai tahap wawancara, tetapi akhirnya harus menerima kabar bahwa dirinya belum lolos. Situasi seperti ini bisa membuat pencari kerja merasa bingung, terutama ketika lowongan yang sesuai terasa semakin sulit ditemukan.

Masalahnya, mencari pekerjaan sekarang bukan sekadar mengirim CV dan menunggu balasan. Pelamar harus bersaing dengan banyak orang yang mungkin memiliki pendidikan, kemampuan, atau pengalaman serupa. Sementara itu, perusahaan biasanya memiliki kriteria tertentu untuk menentukan siapa yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Bagi lulusan baru, tantangannya bisa terasa lebih besar karena banyak lowongan meminta pengalaman kerja. Padahal, kesempatan untuk mendapatkan pengalaman itulah yang sedang mereka cari. Akhirnya, muncul pertanyaan yang cukup sering dirasakan pencari kerja: bagaimana bisa mendapatkan pengalaman kalau belum diberi kesempatan untuk bekerja?

Angka Pengangguran Turun, tetapi Tantangan Masih Ada

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan gambaran mengenai kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Dalam rilis 5 November 2025, BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2025 sebesar 4,85%, turun dari 4,91% pada Agustus 2024. Jumlah penduduk yang bekerja juga meningkat menjadi 146,54 juta orang.

Angka tersebut menunjukkan adanya perkembangan dalam penyerapan tenaga kerja. Namun, penurunan tingkat pengangguran tidak berarti seluruh pencari kerja langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan harapan mereka.

Ada orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan, ada yang bekerja di luar bidang pendidikannya, dan ada pula yang akhirnya memilih pekerjaan dengan penghasilan atau kondisi kerja yang belum sesuai harapan. Karena itu, kondisi pasar kerja perlu dilihat bukan hanya dari jumlah orang yang bekerja, tetapi juga dari kualitas pekerjaan dan kesesuaiannya dengan kemampuan tenaga kerja.

Bagi generasi muda, persoalan ini menjadi penting karena pekerjaan pertama sering kali menjadi langkah awal untuk membangun pengalaman dan kemandirian finansial. Ketika proses mendapatkannya berlangsung lama, rencana untuk memenuhi kebutuhan pribadi atau membantu keluarga juga bisa ikut tertunda.

Pendidikan Penting, tetapi Pengalaman Juga Dibutuhkan

Pendidikan tetap menjadi bekal penting saat seseorang memasuki dunia kerja. Namun, ijazah saja terkadang belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan perusahaan. Selain pengetahuan, perusahaan dapat mempertimbangkan kemampuan komunikasi, kerja sama tim, pemecahan masalah, dan keterampilan menggunakan teknologi.

Hal ini membuat mahasiswa perlu mempersiapkan diri bahkan sebelum lulus. Pengalaman organisasi, magang, kepanitiaan, pelatihan, atau proyek sederhana bisa menjadi kesempatan untuk belajar menghadapi situasi kerja. Pengalaman tersebut juga dapat membantu mahasiswa mengenali kemampuan yang perlu dikembangkan.

Bukan berarti semua orang harus memiliki pengalaman yang panjang sebelum melamar pekerjaan. Bagi lulusan baru, yang penting adalah mampu menunjukkan keterampilan yang dimiliki dan menjelaskan bagaimana keterampilan itu bisa digunakan untuk pekerjaan yang dilamar.

Misalnya, mahasiswa yang pernah menjadi panitia kegiatan kampus dapat menjelaskan pengalamannya dalam mengatur jadwal, bekerja sama dengan anggota tim, atau menyelesaikan masalah saat acara berlangsung. Pengalaman seperti ini bisa menjadi nilai tambah jika disampaikan secara jujur dan relevan dengan posisi yang dituju.

Jangan Hanya Fokus Mengirim Lamaran Sebanyak-banyaknya

Saat belum mendapatkan pekerjaan, mengirim banyak lamaran mungkin terasa seperti pilihan yang paling masuk akal. Namun, jumlah lamaran bukan satu-satunya hal yang menentukan hasilnya. Pelamar juga perlu memperhatikan kesesuaian antara kemampuan yang dimiliki dan posisi yang dituju.

CV sebaiknya disesuaikan dengan pekerjaan yang dilamar. Informasi yang dicantumkan perlu jelas, mudah dibaca, dan menonjolkan pengalaman atau keterampilan yang relevan. Sebelum melamar, pencari kerja juga perlu memahami tugas pekerjaan serta persyaratan yang diminta perusahaan.

Selain itu, pencari kerja dapat memanfaatkan waktu untuk meningkatkan keterampilan yang memang dibutuhkan di bidang yang diminati. Pelatihan daring, proyek mandiri, dan pengalaman magang bisa menjadi pilihan, selama disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Tentu saja, persiapan pribadi bukan satu-satunya jawaban. Kesempatan kerja, kebutuhan industri, lokasi, dan kondisi ekonomi juga berpengaruh. Karena itu, sulitnya mendapatkan pekerjaan tidak tepat jika selalu dianggap sebagai akibat kurangnya usaha atau kemampuan pencari kerja.

Mencari Kerja Perlu Usaha, tetapi Kesempatan Juga Penting

Sulitnya mencari pekerjaan menjadi tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta generasi muda untuk lebih rajin mengirim lamaran. Pencari kerja memang perlu meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan diri, tetapi mereka juga membutuhkan kesempatan kerja yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Perusahaan, lembaga pendidikan, dan pemerintah memiliki peran masing-masing dalam mempertemukan kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan pencari kerja. Informasi lowongan yang mudah diakses, pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri, serta kesempatan magang yang berkualitas dapat membantu proses tersebut.

Pada akhirnya, mendapatkan pekerjaan memang membutuhkan usaha, kesabaran, dan persiapan. Namun, keberhasilan seseorang memasuki dunia kerja juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan kesempatan yang tersedia. Memahami kedua sisi ini penting agar persoalan pengangguran tidak hanya dilihat sebagai masalah individu, tetapi juga sebagai tantangan bersama yang perlu dicari solusinya.