Konten dari Pengguna

Kisah Nabi Muhammad dan Keutamaannya dalam Sebuah Manuskrip

Sheva Widianti Putri

Sheva Widianti Putri

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sheva Widianti Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: digital.soas.ac.uk
zoom-in-whitePerbesar
sumber: digital.soas.ac.uk

Sekarang ini, kata manuskrip sudah sangat jarang terdengar. Kebanyakkan orang bahkan tidak mengetahui arti dari kata manuskrip itu sendiri. Padahal manuskrip ini ialah sebuah sumber kekayaan pengetahuan yang berharga karena berasal dari masa lampau. Dari sebuah manuskrip ini, kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan manusia di masa lampau. Maka, manuskrip dapat dijadikan sebagai penambah sumber pengetahuan kebudayaan. Pembahasan kali ini akan memperlihatkan sebuah manuskrip yang berisi kisah dari sebuah kegiatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Namun, sebelumnya akan dibahas dahulu mengenai manuskrip.

Apa Itu Manuskrip?

Manuskrip berasal dari ungkapan bahasa Latin yaitu codicesmanu scripti. Ungkapan tersebut berarti buku-buku yang ditulis dengan tangan. Kata manu berasal dari kata manus, yang memiliki arti tangan, dan scriptus dari kata scribere, yang berarti menulis. Menurut Oman Faturahman (2010: 4-5), secara umum istilah naskah atau manuskrip ini juga bisa digunakan untuk menyebut informasi yang dibuat secara manual pada benda keras, seperti inskripsi. Manuskrip sendiri ialah istilah lain dari naskah. Pada bidang kajian Filologi, kata naskah dan manuskrip digunakan bergantian dan memiliki pengertian yang sama, sebagai dokumen kuno tulisan tangan.

Pada masa lampau, semua dokumen kebanyakkan dihasilkan dalam bentuk tulisan tangan, dikarenakan belum ditemukannya mesin cetak pada saat itu. Dokumen tulisan tangan itu juga dapat berbentuk gulungan (scroll) atau buku (codex). Sebuah tempat di mana naskah klasik disalin biasa disebut skriptorium (scriptorium). Awalnya skriptorium ini digunakan untuk menunjuk pada ruangan di dalam biara pada zaman pertengahan Eropa yang ditujukan untuk menyalin manuskrip oleh penulis monastik. Manuskrip sendiri dapat berisi tentang mantra, silsilah, cerita rakyat, sejarah, politik, pemerintahan, ketuhanan, ajaran budi pekerti, teknologi tradisional, jimat, syair, hukum adat, undang-undang, hikayat, obat-obat dan cara mengobati dalam tradisional, dan lain sebagainya. Dalam Ahmad Rahman (2009: 184), keberadaan manuskrip telah dilindungi sebagai benda cagar budaya oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992. Di mana isinya ialah bahwa benda cagar budaya meliputi benda-benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagian atau sisa-sisa yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Hikayat Nabi Bercukur dan Keutamaannya

Hikayat ini tersimpan di beberapa perpustakaan di dunia, tersimpan tujuh buah manuskrip (bundel) yang terdiri atas sembilan naskah di PNRI. Kemudian tersimpan juga di Leiden, London, dan di ‘sGravenhage. Naskah Hikayat Nabi Bercukur ini ketika ditemukan terdiri atas beberapa macam bahasa, seperti bahasa Bugis, bahasa Sunda, bahasa Makasar, dan bahasa Aceh yang memiliki nama lain Nabi Meucuko. Dalam Mussaif (2017), di Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang NAD) sekurang-kurangnya terdapat dua buah naskah Nabi bercukur yang ditulis dalam bahasa Aceh dengan huruf Jawi, yaitu Hikayat Nabi Meucuko dengan nomor MS.Inv. 1528 yang terdiri atas 112 halaman dan MS.Inv. 1595 yang terdiri atas 14 halaman. Naskah Hikayat Nabi Bercukur ini juga pernah diterbitkan di Jakarta tahun 1953 dan diterbitkan berulang kali di Singapura.

Dalam teks Hikayat Nabi Bercukur menyatakan kalau Nabi Muhammad bercukur setelah pulang perang melawan Raja Luhud pada hari senin, sembilan belas hari di bulan Ramadhan. Dalam teks juga dituliskan ketika atas izin Nabi Muhammad Jibril datang kepada Allah menanyakan mengenai topi yang akan digunakan setelah Nabi Muhammad Bercukur, seperti:

“Maka firman Allah ta‘ala kepada Jibril ‘Adapun kekasihku itu bercukur di hadapan cahaya dirinya jua kerana ia cahaya nabi- nabi dan yang mencukur kekasihku itu engkau Jibril dengan firmanku dan kopiah yang akan dipakai kekasihku jika sudah bercukur ambil olehmu daun kayu Tuba yang amat hijau warnanya di dalam syurga, perbuat olehmu akan kopiah kekasihku daripada nugerahku’.” (Hikayat Nabi Bercukur)

Pada saat bercukur Nabi Muhammad disaksikan oleh empat para sahabat Nabi. Mengenai jumlah rambut Nabi Muhammad juga dimunculkan dalam kedua teks manuskrip itu, seperti pada kutipan:

“Adapun banyak rambut tuan hamba itu, sakti dua laksa enam ribu enam ratus enam puluh enam helai." (Hikayat Nabi Bercukur)

Dalam teks Hikayat Nabi Bercukur menjelaskan bahwa jumlah rambut Nabi Muhammad adalah satu keti (10.000) dua leksa (200.000), enam ribu enam ratus enam puluh enam (6.666); berarti total 216.666.

Berlangsungnya Nabi Muhammad bercukur oleh malaikat Jibril, Allah menurunkan firman kepada para bidadari di surga. Mereka disuruh untuk turun ke bumi untuk menyaksikan bercukur, dan disuruh untuk mengambil sehelai rambut-Nya, seperti pada kutipan:

“Maka firman Allah ta‘ala menitahkan segala anak bidadari ‘Hai anak-anakan bidadari keluarlah engkau sekalian dari dalam syurga, pergilah engkau segera turun ke dunia mengambil rambut kekasihku yang dicukur oleh Jibril dan sehelai rambutnya pun janganlah gugur ke bumi. Ambillah olehmu sehelai seorang akan mukjizat, ikatkanlah pada lengan kamu yang kanan supaya kuampuni sekelian dosa kamu’” (Hikayat Nabi Bercukur).

Selain menceritakan suatu kegiatan yang mulia dari Nabi Muhammad, manuskrip ini juga berisi perintah dari Allah SWT. yang terkandung di dalamnya. Beberapa perintah menunjukkan bahwa baik untuk diamalkan oleh kita (yang membaca). Beberapa contoh kutipan mengenai perintah tersebut bisa dilihat, sebagai berikut:

“Barang siapa menaruh perilaku bercukur ini, maka Allah ta‘ala menurunkan rahmat-Nya dibalas rumah kamu berpuluh amal dan beberapa rizki”.

“Barang siapa perdayakan padanya, nescaya bertambah rahmat Allah turun pada rumahnya pada sehari-hari jua adanya”.

Di dalam Hikayat Nabi Bercukur juga dijelaskan bahwa bagi siapa yang mau mengambil rambut Nabi Muhammad kemudian letakkan di lengan kanan, maka semua dosa akan diampuni oleh Allah. Hikayat Nabi Bercukur ini ialah teks yang berisi keutamaan bagi yang penulis, pendengar, atau pembaca. Pernyataan kalam dalam hikayat ini berada pada bagian akhir teks. Banyaknya keutamaan atau amanat yang dapat diambil dari sebuah cerita yang berasal dari naskah kuno ini menambah nilai tambah tersendiri. Itulah mengapa dikatakan bahwa manuskrip ialah sebuah harta karun yang tersembunyi. Dari sebuah manuskrip kita bisa mengetahui sebuah kebudayaan atau bahkan banyak kebudayaan yang ada di masa lampau yang belum kita ketahui sebelumnya. Perlu menyelam lebih dalam untuk mengetahui apa saja dan berapa banyak harta karun yang belum terjamah oleh tangan-tangan manusia.