Konten dari Pengguna

Gen Z Bukan Generasi yang Malas: Manifesto Pendidikan Politik

Shifa Rahmi Mulia

Shifa Rahmi Mulia

Mahasiswi - Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shifa Rahmi Mulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gen Z sering disebut sebagai generasi yang malas, mudah menyerah, dan tidak tahan bekerja. Namun, apakah benar sesederhana itu?

Gen Z terjebak antara pendidikan, pekerjaan, dan tuntutan ekonomi. (gambar di ambil dari Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Gen Z terjebak antara pendidikan, pekerjaan, dan tuntutan ekonomi. (gambar di ambil dari Shutterstock)

Di balik label tersebut, ada banyak anak muda yang setiap hari bekerja untuk membantu keluarga. Ada yang kuliah sambil bekerja, ada yang harus mencari uang setelah lulus sekolah, bahkan ada yang terpaksa meninggalkan pendidikan karena kebutuhan ekonomi.

Bagi sebagian Gen Z, pendidikan bukan tidak penting. Masalahnya, kebutuhan hidup terkadang datang lebih dulu. Ketika keluarga membutuhkan penghasilan, mengejar pendidikan bisa menjadi pilihan yang sulit.

Haruskah anak muda memilih antara pendidikan dan bertahan hidup?

Bekerja untuk Bertahan, Bukan Karena Malas

Gen Z sebenarnya tidak takut bekerja. Banyak yang memanfaatkan teknologi untuk mencari penghasilan, mulai dari bekerja sebagai karyawan, freelancer, berjualan online, hingga membangun usaha sendiri.

Yang menjadi persoalan adalah ketika anak muda harus bekerja dalam kondisi yang tidak layak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kami ingin bekerja, tetapi kami juga ingin mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan tenaga dan kemampuan kami.

Kami tidak meminta kehidupan yang mudah. Kami hanya ingin kesempatan yang lebih adil.

Ketika Gen Z Menjadi Tulang Punggung

Menjadi tulang punggung keluarga di usia muda bukan sesuatu yang selalu direncanakan. Ada yang harus membantu orang tua, membiayai adik, atau memenuhi kebutuhan rumah.

Di saat sebagian anak muda sibuk memikirkan cita-cita, sebagian lainnya justru sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk hari esok.

Karena itu, menyebut Gen Z sebagai generasi malas tidak bisa menggambarkan seluruh keadaan. Setiap orang memiliki perjuangan yang berbeda.

Di Mana Peran Negara?

Masalah ekonomi anak muda tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Pemerintah juga memiliki peran melalui kebijakan pendidikan, lapangan pekerjaan, upah, perlindungan pekerja, dan kesempatan bagi anak muda untuk berkembang.

Politik bagi Gen Z seharusnya bukan hanya tentang pemilu. Politik juga tentang bagaimana keputusan pemerintah memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.

Persoalan korupsi juga menjadi bagian penting dalam pembahasan ini. Berdasarkan Corruption Perceptions Index 2025 dari Transparency International, Indonesia memperoleh skor 34 dari 100 dan berada di peringkat 109 dari 182 negara. Persoalan tata kelola dan integritas pemerintahan masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.

Manifesto Politik Gen Z

Kami Gen Z tidak ingin sekadar menjadi generasi yang mengikuti keadaan. Kami ingin menyampaikan apa yang kami harapkan.

Kami ingin pendidikan yang lebih terjangkau agar tidak ada anak muda yang harus meninggalkan sekolah atau kuliah hanya karena masalah ekonomi.

Kami ingin pekerjaan yang layak, upah yang sesuai, dan kesempatan kerja yang tidak hanya terbuka bagi mereka yang memiliki koneksi atau latar belakang tertentu.

Kami ingin pemerintah yang transparan dan bertanggung jawab dalam menggunakan uang negara.

Dan yang paling penting, kami ingin didengar. Bukan hanya ketika suara kami dibutuhkan dalam pemilu, tetapi juga ketika kebijakan yang dibuat akan menentukan masa depan kami.

Kami Bukan Generasi yang Malas

Kami mungkin memiliki cara yang berbeda dalam bekerja dan menjalani kehidupan. Namun, bukan berarti kami tidak mau berusaha.

Kami bekerja. Kami belajar. Kami membantu keluarga. Kami beradaptasi dengan perubahan zaman. Kami hanya tidak ingin perjuangan tersebut membuat kami kehilangan kesempatan untuk memiliki masa depan.

Kami Gen Z bukan generasi yang malas. Kami adalah generasi yang sedang berjuang.

Kami tidak meminta negara memberikan masa depan kepada kami. Kami hanya ingin diberikan kesempatan yang adil untuk membangunnya.