Konten dari Pengguna

Warisan Budaya Indonesia : Tari Saman

Shifa Rahmi

Shifa Rahmi

Mahasiswi - Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shifa Rahmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tari Saman adalah tari rakyat dari masyarakat Suku Gayo di Aceh, Indonesia. Tarian ini merupakan salah satu media untuk menyampaikan pesan atau dakwah. Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. ( Gambar di ambil Menggunakan AI & Chat GPT )
zoom-in-whitePerbesar
Tari Saman adalah tari rakyat dari masyarakat Suku Gayo di Aceh, Indonesia. Tarian ini merupakan salah satu media untuk menyampaikan pesan atau dakwah. Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. ( Gambar di ambil Menggunakan AI & Chat GPT )

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dari setiap daerah. Masyarakat Aceh misalnya yang terdiri atas berbagai suku mempunyai kebudayaan dan kesenian masing-masing yang masih dipelihara oleh masyarakatnya. Kesenian tradisional Aceh masih berakar pada masyarakat. Artinya, kesenian tradisonal itu masih terpelihara baik dan juga dibanggakan oleh masyarakat pemiliknya, sekalipun budaya yang lebih "maju" sudah menerobos sampai keseluruh pelosok tanah air bahkan mendunia. Nanggroe Aceh Darusalam (Aceh) merupakan salah satu propinsi di Nusantara yang masyarakatnya bersifat multietnis. Di daerah ini terdapat 8 suku bangsa dan bahasa yaitu Aceh, Alas, Aneuk Jamee, Gayo, Kluet, Simeulu, Singkil, dan Tamiang.

Tari Saman tari tradisional unik masyarakat Gayo atau suku Gayo yang mendiami Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tenggara, dan masyarakat Gayo yang berada di Kabupaten Aceh Timur ini diambil dari nama penciptanya yaitu seorang ulama Gayo bernama Syekh Saman sekitar abad XIV Masehi, dari dataran tinggi Gayo. Pada awalnya, tarian ini merupakan sebuah permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane. Ditambah dengan iringan syair-syair yang berisi pujian-pujian kepada Allah SWT serta diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari. Pada saat itu Tari Saman digunakan sebagai media dakwah oleh para ulama dan biasanya ditampilkan untuk acara tertentu, formasi Tari Saman dilakukan dalam posisi duduk sama halnya dengan posisi duduk dalam Shalat serta membentuk barisan bersama secara lurus yang dipimpin seorang syekh sebagai pemimpin dalam setiap pertunjukan Tari Saman.

Penyajian tari saman :

• Tahap 1 (Persalaman)

Dalam tahap persalaman diiringi lagu Rengum sebagai pembukaan atau mukadimah dari Tari Saman. Salam yang disampaikan dalam permulaan Tari Saman tergantung pada situasi atau tokoh yang hadir dan penonton yang menyaksikan pertunjukan tersebut.

Tahap 2 (Uluni lagu)

Ciri kegiatan Uluni Lagu yaitu menggunakan gerakan yang lembut dengan nyanyian yang tidak terlalu bervariasi.

Tahap 3 (Lagu-lagu)

Pada tahap ini ditampilkan beragam lagu yang diiringi jangin atau syair dengan irama yang disesuaikan dengan gerak tari.

Tahap 4 (Penutup)

Lagu pada penutup terdiri dari anakni lagu yang berbeda dari lagu uluni lagu. Anakni lagu biasanya dilakukan dengan gerakan selang seling atau surang saring. Syair pada bagian ini biasanya bervariasi.

UNESCO telah mengakui Tari Saman Gayo Luwes sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO pada tanggal 24 November 2011 dengan kriteria Warisan Budaya yang memerlukan perlindungan yang mendesak, pada tahun 2011 melalui sidang Intergovermental Comittee ke-6 di Bali, Indonesia. ( Gambar di ambil Menggunakan AI & Chat GPT )

Tari Saman

Tari Saman mulai populer di Aceh (di luar suku Gayo) pada tahun 1972 yaitu pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-2. Lalu Tari Saman dari Aceh Tenggara pertama sekali diundang ke Jakarta tahun 1974 saat peresmian Taman Mini Indonesia Indah. Berikutnya tahun (1975) tari Saman diundang kembali ke Jakarta dalam rangka peringatan hari ulang tahun ke-30 RI. Tahun 1977 tari Saman kembali menjadi wakil Aceh dalam Festival Tari Rakyat I di Jakarta dan tahun berikutnya (1978) menjadi wakil Aceh mengikuti Festival Jakarta. Sejak tahun 1974, tari Saman sudah dikenal luas di Jakarta dan juga pernah tampil di Istana Negara saat tamu negara datang yakni Presiden Ersyad dari Bangladesh dan Raja Husein dari Yordania (1986).

Tari Saman telah ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia dalam Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Tak benda UNESCO di Bali, 24 November 2011. Dan kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga dengan kesenian yang kita miliki. Karena itu adalah warisan yang harus kita jaga dan lestarikan agar tidak punah.