Matematika Jadi Momok di Sekolah?

Mahasiswi aktif, program studi Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Shifalya Sakinaros tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak siswa menganggap matematika adalah mata pelajaran yang sulit, membosankan, mimpi buruk bahkan sebagian dari mereka mengganggap matematika sebagai momok. Kata "momok" memiliki arti hantu atau sesuatu yang menakutkan. Sehingga mereka seperti menyamakan matematika sebagai hantu dengan wujud soal-soal yang sulit dipecahkan dan rumus rumus yang sulit dihafalkan. Lalu mengapa mereka menganggap matematika adalah mata pelajaran yang sangat sulit?. Itu karena sejak awal mereka menanamkan gagasan bahwa “matematika itu sulit” hal itu mengisolasi pikiran siswa dan membuat mereka enggan belajar matematika dengan cara yang lebih menyenangkan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pelajaran ini 'beda' dengan pelajaran lain. Untuk bisa menguasai matematika, siswa harus punya logika yang kuat, punya strategi atau rumus tepat, serta mental pantang menyerah dalam memecahkan masalah matematika.
Berikut beberapa alasan mengapa matematika dianggap sebagai momok:
Berisi angka, angka, dan angka. Matematika, kalau bukan angka ya simbol, pada mata pelajaran lain, pembelajaran sering diberikan lewat cerita, membangun cerita ketika sedang mempelajari sesuatu adalah metode yang kerap dipakai untuk mengajar. Hampir semua mata pelajaran punya kisah yang dapat diceritakan. Namun matematika tetaplah pelajaran logika dan fakta, tidak semuanya mengandung cerita menarik. Terlebih jika diajarkan pada anak usia dini, sehingga akan lebih cepat bosan. Kegiatan pembelajaran yang monoton sering kali membuat siswa merasa jenuh dan bosan saat belajar. Jika hal ini terus dibiarkan maka nilai siswa akan turun dan minat belajarnya akan berkurang. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk mengubah suasana pembelajaran. Guru dapat mengajak siswa untuk belajar di luar kelas, misalnya di sekolah atau di taman. Suasana pembelajaran akan berbeda dengan hari biasanya membangkitkan semangat siswa untuk belajar. Selain itu, menerapkan pembelajaran di luar kelas juga tidak terlalu buruk. Dengan belajar di luar kelas, akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru.
Sulit untuk dipahami. Tidak hanya perempuan yang dinilai memiliki sifat dan sikap yang sulit dipahami, matematika juga demikian. Tiada hari tanpa rumus, logika, dan konsep dalam matematika. Banyaknya rumus dan cara penyelesaian matematika membuat matematika tidak mudah untuk dipahami. Pemahaman konsep dasar dalam matematika sangatlah penting. Kalau tidak bisa memahami konsep perkalian dasar atau perhitungan campuran, maka akan membuat kesulitan memecahkan soal tingkat lanjut. Matematika dianggap sebagai mata pelajaran sulit salah satunya karena faktor ketidakpahaman konsep.
SALAH atau BENAR. Dalam matematika hanya terdapat 2 pilihan, kalau tidak SALAH, ya BENAR. Aturan bermain matematika sangat sederhana, kalau tidak salah ya benar. Sekalipun siswa menjelaskannya dengan rumus yang rumit dan penjelasan yang panjang, jika jawaban akhir siswa salah, maka itu salah. Berbeda dengan mata pelajaran lainnya, jawaban masih dapat ditolerir dan dianggap benar meskipun terdapat beberapa kesalahan.
Asumsi-asumsi tersebut semakin lengkap pula, ketika seorang guru mengajarkan pelajaran Matematika secara monoton , tidak menarik, dan menimbulkan ketegangan karena wajah guru yang galak. Situasi semacam ini semakin menjauhkan rasa ketertarikan siswa dalam mempelajari matematika. Pelajaran matematika sebenarnya menyenangkan. Namun hal ini memerlukan motivasi belajar yang kuat, semangat belajar yang besar dan rasa percaya diri. Salah satu cara untuk membangkitkan semangat siswa dalam belajar matematika adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran dapat disesuaikan dengan materi yang akan diberikan dan kondisi siswa.
