Konten dari Pengguna

Fenomena Self-Diagnosis Kesehatan Mental Melalui Media Sosial dan Internet

shifaputriazzahra22

shifaputriazzahra22

Mahasiswi Sosiologi Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari shifaputriazzahra22 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dengan zaman yang semakin berkembang, semakin banyak juga masyarakat dari berbagai belahan dunia yang mempunyai dan menggunakan media sosial dan internet . Di media sosial dan internet kita bisa banyak menemukan informasi mengenai kesehatan atau hal lainnya. Dengan ini, maka bermunculan juga informasi-informasi mengenai kesehatan mental. Menurut UU Nomor 18 Tahun 2014, kesehatan mental adalah kondisi ketika seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut dapat mengatasi tekanan dan dapat bekerja secara produktif. Kesehatan mental menjadi suatu isu yang sedang marak-maraknya dibicarakan karena sudah banyak orang-orang, terutama anak muda dan influencer yang sudah sadar betapa pentingnya kesehatan mental. Influencer sendiri memiliki arti yaitu orang yang memiliki jumlah pengikut yang banyak dalam suatu media sosial dan juga memiliki pengaruh yang besar terhadap suatu masyarakat. Banyak influencer yang memberikan tips-tips ataupun pengalaman mereka sendiri seputar kesehatan mental terhadap pengguna media sosial.

Dengan segala informasi yang beredar di media sosial mengenai kesehatan mental. Hal ini juga mendorong kepada banyak individu untuk melakukan self-diagnosis terhadap dirinya sendiri. Padahal, belum tentu bagi setiap individu untuk mempunyai gejala yang sama terhadap kesehatan mentalnya. Pengetahuan yang diperoleh dari internet tidak bisa menjadi acuan bagi seseorang untuk mendiagnosis diri mereka dengan menilai sendiri gejala-gejala apa yang dirasakan. Menurut White dan Horvitz (2009), self diagnosis adalah suatu cara untuk memutuskan bahwa dirinya sedang mengidap suatu penyakit berdasarkan informasi yang didapatkan (Bochet et al., 2014). Self -diagnose ini sering kali dilakukan karena adanya rasa penasaran dengan gejala-gejala yang dirasakan dan kemudian suatu individu tersebut akan mencari referensi terhadap gejala-gejala yang dirasakan ((Meizara Puspita Dewi et al., 2022).

Sumber: Pexels.com

Kesalahan self-diagnose yang dilakukan oleh suatu individu dapat berdampak buruk apabila individu tersebut tidak melakukan konsultasi ke dokter ataupun tidak mengatasinya dengan melakukan pengobatan yang tepat. Terlebih lagi dengan kesehatan mental, hal ini tidak bisa hanya di diagnosis sendiri, namun harus di konsultasikan dengan seorang ahli. Menurut Psikolog Persada (2021), perilaku self -diagnose ini juga bisa menimbulkan kecemasan atau panik yang berlebih pada suatu individu. Berdasarkan survei penelitian yang dilakukan oleh Imas Maskanah, dari 4 orang responden, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden melakukan self-diagnose setelah melihat referensi yang didapatkan dari media sosial. Akses ini memberikan kemudahan bagi para individu untuk mencari informasi kesehatan dan menyamakan gejala apa yang dirasakan dengan sumber referensi yang tersedia. Selain itu, dari penelitian ini juga terlihat bahwa terdapat dampak buruk yang ditimbulkan dari self-diagnose. Seperti, merasa terganggu dalam menjalankan aktivitas karena merasa hasil dari self-diagnose yang dilakukan benar dan sesuai (Maskanah, 2022).

Risiko yang bisa saja bermunculan akibat perilaku self diagnose ini juga tergolong berbahaya. Hal ini disebabkan dengan tingkat keakuratan informasi yang rendah di internet maupun media sosial. juga internet atau media sosial tidak membedakan informasi yang berasal dari seorang professional atau yang bukan professional. Dengan ini diperlukan kehati-hatian yang tinggi bagi setiap individu jika ingin melakukan self-diagnose, lebih baik jika dikonsultasikan lebih lanjut ke dokter.

References:

Bochet, A., Guisolan, S. C., Munday, M. F., Noury, O. M., Polla, R., Zhao, N., Soulié, P., & Cosson, P. (2014). Cyberchondria. In Revue Medicale Suisse (Vol. 10, Issue 440, p. 4). Editions Medecine et Hygiene. https://doi.org/10.1145/1629096.1629101

Maskanah, I. (2022). Fenomena Self-Diagnosis di Era Pandemi COVID-19 dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental The Phenomenon of Self-Diagnosis in the Era of the COVID-19 Pandemic and Its Impact on Mental Health. JoPS: Journal of Psychological Students, 1(1), 1–10. https://doi.org/10.15575/jops.v1i1.17467

Meizara Puspita Dewi, E., Sari, R., Regina Lestari, D., Nurfath Muqaddimah, M., Ma, M., & Sam, shum. (2022). Psikoedukasi Self Diagnose: Kenali Gangguan anda sebelum menjudge diri sendiri. In PENGABDI: Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat (Vol. 3, Issue 1).

Aminati, Z. (2021, November 23). klikdokter. Retrieved from klikdokter.com: https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/dampak-buruk-self-diagnosis-gangguan-kesehatan-mental