Konten dari Pengguna

Sekolah Jalan Terus, Literasi Tertinggal: Kisah Ironi Anak Negeri

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Shifa Rahmadini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masa Depan Dimulai dari Membaca. Sumber: Ron Lach/pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Masa Depan Dimulai dari Membaca. Sumber: Ron Lach/pexels.com

Darurat Literasi di Sekolah Indonesia

Masalah literasi yang masih tertinggal menjadi salah satu ironi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Walaupun proses pembelajaran terus berlangsung, ternyata banyak anak-anak yang belum mampu menguasai keterampilan membaca dasar. Ini menandakan adanya darurat literasi yang harus segera mendapat perhatian serius demi kemajuan pendidikan dan masa depan generasi muda.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Buleleng, Bali, menyuguhkan fakta yang cukup mengejutkan. Dari total 34.062 siswa SMP, tercatat ada 155 siswa yang benar-benar belum bisa membaca (TBM), dan 208 siswa lainnya mengalami kesulitan membaca lancar (TLM). Temuan ini mencuat setelah sorotan media terhadap puluhan siswa yang bahkan kesulitan mengenali huruf dasar.

Kondisi ini sangat memprihatinkan, terutama karena Bali dikenal sebagai daerah yang sangat memperhatikan pendidikan. Namun, yang lebih menyedihkan adalah bahwa masalah ini bukan hanya terjadi di Buleleng saja. Di berbagai wilayah lain di Indonesia, kasus serupa juga ditemukan, menandakan bahwa rendahnya tingkat literasi dasar telah menjadi persoalan nasional yang mendesak untuk segera ditangani.

Fenomena ini mencerminkan tantangan besar dalam dunia pendidikan kita, yang butuh solusi cepat dan nyata supaya tidak menimbulkan dampak yang lebih luas bagi generasi penerus bangsa.

Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sejumlah siswa SMP masih mengalami kesulitan membaca. Faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah keterbatasan tenaga pengajar, minimnya fasilitas sekolah, serta kurangnya pendampingan belajar dari keluarga. Kondisi serupa juga terungkap di Makassar, Sulawesi Selatan, di mana guru di beberapa sekolah mengakui masih ada siswa kelas 8 yang belum lancar membaca akibat budaya naik kelas otomatis.

Di Jawa Barat, khususnya wilayah Bekasi dan Indramayu, penelitian menemukan masih adanya siswa SMP yang belum menguasai keterampilan membaca dengan baik. Hal ini menunjukkan adanya kelemahan dalam evaluasi di tingkat SD, di mana siswa diluluskan meski kemampuan literasi dasarnya belum tuntas. Sementara itu, di Papua, masalah ini semakin kompleks dengan keterbatasan jumlah guru, minimnya sarana belajar, serta jauhnya akses menuju sekolah menjadi faktor utama yang membuat banyak anak SMP di pedalaman Papua masih gagap membaca.

Mengapa Hal Ini Terjadi?

Jika dicermati akar masalah dari berbagai daerah ini hampir sama, yaitu:

  • Motivasi belajar yang rendah, banyak siswa kurang tertarik dan kurang termotivasi untuk belajar membaca dengan baik.

  • Sistem pendidikan yang lebih fokus pada angka partisipasi sekolah dibanding mutu pembelajaran.

  • Naik kelas otomatis yang membuat siswa gagal dibekali kemampuan dasar.

  • Kurangnya kualitas dan efektivitas metode pengajaran di sekolah, serta keterbatasan pelatihan guru dalam mengajarkan literasi yang efektif, pada saat pandemi Covid-19 dan pembelajaran daring yang berlangsung lama juga memperburuk kondisi, karena pembelajaran jarak jauh tidak selalu optimal, terutama bagi siswa yang kurang dukungan di rumah.

  • Keterbatasan guru dan fasilitas belajar, terutama di daerah terpencil.

  • Lingkungan keluarga, peran orang tua yang kurang aktif dan kurang mendukung anak untuk membiasakan membaca.

  • Penggunaan gadget dan media sosial yang berlebihan membuat siswa lebih mahir teknologi digital namun kurang latihan membaca dan menulis secara manual, sehingga menghambat kemampuan literasi mereka.

Fakta yang Terungkap

Situasi ini berpotensi melahirkan generasi muda yang mengalami kesulitan besar dalam mengikuti proses pembelajaran. Akibatnya, mereka lebih rentan putus sekolah dan terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit dihindari. Fenomena ini juga memperlebar jurang kesenjangan pendidikan antarwilayah. Anak-anak di perkotaan relatif lebih mudah mengakses bacaan digital maupun sumber belajar lain, sedangkan anak-anak di pelosok, termasuk banyak siswa SMP di daerah terpencil, masih berjuang sekadar mengenali huruf. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan masalah personal bagi para siswa, tetapi juga menghambat pembangunan kualitas sumber daya manusia dan semakin memperdalam ketidakmerataan sosial ekonomi antar daerah.

Kasus di Buleleng dan wilayah lain menjadi bukti nyata bahwa literasi dasar harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam kebijakan pendidikan nasional. Kurikulum boleh terus berubah dan teknologi boleh hadir di ruang kelas, namun tanpa memastikan setiap anak mampu membaca, maka semangat Merdeka Belajar hanya akan berakhir sebagai jargon tanpa makna.

Langkah Apa yang Perlu Ditempuh?

Upaya perbaikan untuk mengatasi kasus siswa SMP yang belum bisa membaca melibatkan berbagai strategi menyeluruh dan terintegrasi. Beberapa langkah penting yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menyediakan program remedial literasi di tingkat SMP khusus bagi siswa yang masih mengalami kesulitan membaca.

  • Melakukan pemantauan ketat sejak jenjang SD kelas awal (1–3) agar kemampuan dasar calistung benar-benar tercapai sebelum naik ke kelas lebih tinggi.

  • Meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan pengajaran membaca dengan metode yang kreatif, efektif, dan inovatif.

  • Memeratakan fasilitas pendidikan seperti perpustakaan sekolah yang memadai serta akses internet yang mudah dijangkau.

  • Menguatkan budaya literasi sekolah, misalnya dengan membiasakan siswa membaca 15 menit sebelum kegiatan belajar dimulai.

  • Partisipasi Keluarga dan Masyarakat, mengajak orang tua dan masyarakat aktif mendukung dan membangun budaya literasi di rumah dan lingkungan sosial siswa.

Membuka Jendela Dunia Lewat Bacaan. Sumber: Antoni Shkraba Studio/pexels.com

Upaya kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga pendidik, keluarga, dan masyarakat sangat diperlukan agar perbaikan literasi dapat berlangsung efektif dan berkelanjutan, demi menciptakan generasi muda yang melek aksara dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Fenomena siswa SMP yang masih belum bisa membaca, baik di Buleleng, Kupang, Makassar, Indramayu, hingga Papua, adalah tanda bahaya bagi sistem pendidikan kita. Naik kelas tanpa benar-benar menguasai keterampilan membaca merupakan ironi yang tidak bisa dibiarkan. Masalah ini hanya bisa diatasi jika semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, orang tua, hingga masyarakat, bersatu, saling mendukung, dan bersama-sama menyalakan kembali harapan bagi masa depan anak-anak kita.

Jika dibiarkan berlarut, kondisi ini berisiko melahirkan “generasi hilang” yang kesulitan bersaing di tengah arus globalisasi. Oleh karena itu, perbaikan kebijakan, peningkatan kualitas guru, penyediaan sarana prasarana pendidikan yang layak, pendampingan dalam penggunaan gadget, serta dukungan penuh dari keluarga menjadi kunci penting untuk membangun kembali fondasi literasi anak-anak kita.

Pendidikan sejatinya bukan sekadar formalitas naik kelas, melainkan hak dasar setiap anak untuk menguasai keterampilan yang akan menentukan masa depannya. Harapan besar tertuju pada komitmen semua pemangku kepentingan agar generasi muda Indonesia dapat tumbuh cerdas, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan zaman.