Perang Tak Hanya Terjadi di Medan Tempur, tetapi Juga di Media Sosial

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Shifra Badzlina W tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap kali konflik besar pecah, linimasa media sosial hampir selalu penuh dengan foto ledakan, video serangan, dan pernyataan para pihak yang berseteru. Semuanya tersebar dalam hitungan menit, melintasi negara, dan sampai ke ponsel orang yang jauh dari lokasi kejadian. Kita merasa sedang menyaksikan perang secara langsung. Padahal, yang kita lihat belum tentu seperti yang tampak. Di balik layar, ada pertarungan lain yang tidak kalah menentukan, yakni perebutan informasi dan pengaruh atas cara publik memandang sebuah peristiwa.
Perang yang Pindah ke Linimasa
Media sosial mengubah cara kita mengikuti konflik. Dulu kabar datang lewat konferensi pers dan laporan media, sedangkan sekarang warga biasa bisa merekam kejadian di sekitarnya dan mengunggahnya saat itu juga. Akses informasi menjadi jauh lebih luas, terutama ketika wartawan sulit menjangkau lokasi. Namun kemudahan yang sama berlaku bagi siapa pun, dan tidak ada proses verifikasi sebelum sebuah unggahan sampai ke jutaan layar. Di situlah celahnya terbuka, sebab setiap pihak yang berkonflik punya kepentingan agar dirinya tampak benar, lawannya tampak berbahaya, dan dukungan publik berpihak kepadanya.
Caranya tidak selalu dengan berbohong terang-terangan. Memilih gambar tertentu, memotong video, atau menonjolkan satu fakta sambil menyembunyikan yang lain sudah cukup untuk membentuk cara orang menafsirkan sebuah peristiwa. Inilah yang disebut perang informasi, yaitu upaya memengaruhi persepsi publik lewat informasi. Persoalannya, banyak orang menerima informasi dalam bentuk potongan singkat yang kehilangan konteks. Rekaman ledakan yang sungguh nyata pun bisa menyesatkan kalau diklaim berasal dari tempat atau waktu yang berbeda, dan ketika konten itu dibagikan berulang kali, ia terasa semakin dipercaya, apalagi jika disertai keterangan yang menggugah emosi atau sejalan dengan keyakinan audiens.
Disinformasi, Bot, dan Keamanan Siber
Dua istilah sering tertukar dalam pembicaraan soal informasi palsu. Disinformasi adalah informasi salah atau menyesatkan yang sengaja dibuat atau disebarkan untuk menipu. Misinformasi sama-sama keliru, tetapi dibagikan tanpa niat menyesatkan, misalnya oleh orang yang mengira kontennya asli. Keduanya mudah menyebar di media sosial, hanya motif dan prosesnya yang berbeda, dan membedakannya penting karena cara menanganinya pun tidak sama.
Di titik ini keamanan siber ikut masuk. Penyebaran sebuah narasi bisa dibantu akun palsu, jaringan akun yang bergerak serempak, atau bot yang membuat pesan tertentu tampak didukung banyak orang. Kalau ditambah peretasan dan pembajakan akun, persoalannya bukan lagi sebatas isi informasi, melainkan keamanan akun dan sistem digital itu sendiri. Perkembangan kecerdasan buatan menambah tantangan, karena gambar, video, dan suara sintetis kini makin mudah dan murah dibuat. Batas antara dokumentasi, propaganda, dan manipulasi pun semakin sulit dikenali oleh orang awam.
Meski begitu, tidak semua informasi keliru adalah bagian dari operasi yang terorganisasi. Untuk menyimpulkan adanya operasi tertentu, dibutuhkan bukti soal sumber, pola penyebaran, dan hubungan antaraktor. Konten yang salah tidak serta-merta membuktikan keterlibatan negara atau kelompok tertentu, sehingga kehati-hatian dalam menuduh sama pentingnya dengan kewaspadaan terhadap manipulasi.
Jurnalis di Antara Cepat dan Benar
Bagi jurnalis, media sosial adalah sumber yang berharga sekaligus berisiko. Rekaman warga dan unggahan saksi mata bisa membantu memahami perkembangan peristiwa saat akses ke lokasi terbatas. Tetapi semuanya harus diperlakukan sebagai petunjuk, bukan fakta. Wartawan perlu memastikan siapa yang merekam, kapan dan di mana rekaman itu dibuat, dan apakah konteksnya cocok dengan peristiwa yang diberitakan.
Verifikasi dapat dilakukan dengan menelusuri kemunculan pertama gambar atau video, mencocokkannya dengan sumber lain, dan membaca petunjuk visual seperti bangunan atau papan nama untuk memastikan lokasi. Pernyataan resmi pun perlu dibandingkan dengan sumber independen, sebab pihak yang berkonflik punya kepentingan atas narasi yang mereka sampaikan. Tekanan untuk menayangkan lebih dulu memang selalu ada. Namun satu kekeliruan di media arus utama bisa memberi stempel kredibel pada kabar yang salah, lalu memengaruhi cara masyarakat memandang pihak-pihak yang terlibat. Kalau sesuatu belum bisa dipastikan, lebih baik media berterus terang soal keterbatasannya daripada menyajikannya sebagai fakta.
Kita Juga Bagian dari Mata Rantai
Perang informasi tidak hanya melibatkan negara dan kelompok yang bertikai. Setiap kali kita menekan tombol bagikan, kita ikut menentukan seberapa jauh sebuah klaim menjalar. Banyak orang tidak berniat menyesatkan, tetapi dampaknya tetap sama. Karena itu, kebiasaan kecil sebelum membagikan sesuatu bisa membuat perbedaan yang nyata, mulai dari mengecek sumber aslinya, mencari pemberitaan dari beberapa media tepercaya, hingga menelusuri apakah foto atau video itu pernah muncul dalam peristiwa lain.
Meski begitu, tidak ada satu alat pemeriksa yang selalu tepat, jadi hasil pengecekan pun perlu disikapi secara kritis. Platform media sosial juga punya tanggung jawab menindak jaringan akun palsu dan konten manipulatif secara transparan, tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi dan hak masyarakat memperoleh informasi. Pada akhirnya, perang modern berlangsung di dua tempat, yaitu medan tempur dan layar ponsel kita. Yang di layar memang tidak menumpahkan darah, tetapi ikut menentukan pihak mana yang dianggap benar. Jadi, sebelum membagikan video konflik berikutnya, ada baiknya bertanya dulu: benarkah ini dari sana, dan benarkah terjadi hari ini?
