Konten dari Pengguna

Apakah Orang Tua Siap ?

Shinata Putra

Shinata Putra

Guru Produktif SMK

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shinata Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini sudah hari kesekian dimana semua harus berada rumah sesuai dengan arahan pemerintah demi mengurangi dan mencegah penyebaran COVID-19 termasuk kegiatan belajar yang seharusnya dilaksanakan di sekolah kini proses pembelajaran dilakukan secara daring atau online. Tapi pada kenyataannya proses pembelajaran jarak jauh ini diartikan banyak guru sebagai memberikan tugas rumah yang tidak dibarengi dengan komunikasi langsung antara siswa dengan guru.

Proses Pembelajaran di Kelas Tatap Muka
zoom-in-whitePerbesar
Proses Pembelajaran di Kelas Tatap Muka

Ini sudah melenceng jauh dari arti kegiatan belajar mengajar, saya sering kali mengatakan kepada siswa bahwa

Sekolah tidak membuat kalian pintar, kalau kalian mau pintar tonton youtube, pilih hal yang kalian suka, pelajari dengan tekun maka kalian akan ahli. Sekolah itu tempat membentuk karakter, kalian harus taat aturan, taat pada guru, menghormati guru, disiplin waktu, tanggung jawab tugas.

Dari semua proses kegiatan belajar mengajar di sekolah semua dibutuhkan kehadiran guru, guru sebagai sumber belajar harus ada. Banyak guru tentu terampil dan mampu mengondisikan siswa dalam proses pembelajaran tatap muka, namun tidak semua guru terampil dan mampu melaksanakan kegiatan belajar mengajar jarak jauh.

Orang tua di rumah yang kini harus menggantikan kehadiran guru bagi anak sendiri, setidaknya sampai himbauan untuk tetap di rumah ditarik atau sampai wabah COVID-19 ini selesai. Namun orang tua yang diharapkan dapat menggantikan guru di rumah justru memprotes karena orang tua merasa terlalu besar beban tugas yang diberikan guru ke anaknya.

Bagaimana mungkin orang tua memprotes kegiatan pembelajaran guru dengan anaknya. Di sini bukankah ada pertanyaan yang muncul kenapa orang tua bisa memprotes proses pembelajaran dengan anaknya. Inilah beberapa alasan yang masuk akal...

  1. Tugas yang diberikan guru kepada muridnya terlalu banyak dengan batas waktu yang singkat sehingga memaksa muridnya untuk mengerjakan sampai larut malam.

  2. Guru tidak melakukan komunikasi yang baik sehingga bisa jadi dalam satu hari siswa mendapatkan tugas dari beberapa guru dengan batas waktu yang sama.

  3. Tugas yang diberikan guru adalah materi yang belum pernah dijelaskan di kelas, sehingga siswa kesulitan mengerjakan.

  4. Orang tua tidak terbiasa melihat anaknya belajar mandiri.

  5. Orang tua bingung karena dimintai bantuan anaknya.

  6. Orang tua tidak memiliki gambaran bagaimana anaknya belajar dalam kelas.

Alasan tersebut bisa berbeda dengan kondisi di setiap daerah yang sarana, fasilitas dan tingkat orang tua sadar pendidikan anak berbeda-beda.

Dengan kondisi seperti ini maka sudah seharusnya semua pihak bisa menerima dengan baik bagaimana proses pembelajaran ini tetap dilaksanakan, tentu dengan banyak evaluasi dan usaha untuk beberapa hari kedepan supaya roh dari proses kegiatan belajar mengajar tetap ada. Semoga kita semua bisa melewati wabah ini dan kembali di aktivitas seperti biasa. amin...