Konten dari Pengguna

Tiga Alternatif Meringankan Trauma dari Pelecehan Seksual

Shinta Irmayanti

Shinta Irmayanti

Mahasiswa Desain Komunikasi Visual UPJ

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shinta Irmayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi pelecehan seksual (sumber.https://pixabay.com/id/images/search/pelecehan%20seksual/)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi pelecehan seksual (sumber.https://pixabay.com/id/images/search/pelecehan%20seksual/)

Tiga hal kecil mampu meringankan traumamu

Apakah Anda pernah mendengar tentang kasus pelecehan seksual? Kasus tersebut sudah tidak asing lagi di zaman sekarang. Kasus pelecehan seksual tidak hanya menyerang pada kaum wanita, tetapi kaum pria pun menjadi sasaran para predator pemuas nafsu.

Tidak sedikit orang yang telah mengalami pelecehan dalam berbagai jenis, bisa menceritakan hal yang dialaminya, kepada orang lain. Butuh waktu yang lama hingga orang tersebut mampu membuka diri dan mencurahkan segala hal yang telah mereka alami. Hal ini terjadi dikarenakan korban yang merasa dirinya menjijikan, dan tidak jarang korban mendapatkan ancaman dari pelaku pelecehan. Jika ada di antara kalian yang terjebak dalam kasus pelecehan seperti itu, mungkin tiga alternatif ini bisa menjadi tahap awal dari meringankan trauma yang telah dialami.

Mari Mengenal Tentang Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual bukanlah sesuatu yang selalu mengarah pada perbuatan seks. Banyak bentuk pelecehan seksual yang luput dari perhatian karena sudah dianggap wajar terjadi, yaitu pelecehan verbal, yang pasti dari kalian pernah mengalami hal seperti dipanggil “Sayang”, “Ganteng” atau “Cantik” oleh orang yang tidak dikenal, komentar yang tidak diinginkan, seperti “Mau kemana cantik? Mau ditemenin, nggak?”, “Jangan galak-galak nanti dicium ya!”, diamati tubuhnya oleh orang asing hingga rabaan yang tidak diharapkan. (Dewi, 2019)

Bentuk pelecehan ini masih dianggap sebuah candaan ataupun pujian. Padahal pada dasarnya, hal tersebut mampu menjadi sasaran yang menimbulkan akibat negatif seperti rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri, dan kehilangan kesucian. Jika tindakan yang dilakukan oleh pelaku sudah menimbulkan bekas atau luka, maka itu digolongkan ke dalam kekerasan seksual. Hal tersebut bisa berdampak pada psikologis korban yang dapat menimbulkan efek trauma mendalam. (Yudha & Tobing, 2017)

Seorang anak berinisial S.I korban pelecehan seksual yang kini sudah menginjak usia remaja membagikan pengalaman dirinya dalam mengatasi trauma yang telah dialaminya. Seperti yang dijelaskan di atas, tidak semua korban pelecehan seksual bisa menceritakan dengan gamblang hal yang telah menimpanya. Untuk itu, S.I membagikan caranya dalam mengatasi trauma yang dialaminya.

Belajar dari Menonton Animasi

Teknik audio visual pada animasi merupakan teknik yang paling efektif dalam mengurangi rasa nyeri, kecemasan, trauma, dan dapat memberikan kontrol diri pada seseorang saat merasa tidak nyaman dan aman. (Nugroho & Wahyuningsih, 2022)

Menonton animasi adalah suatu aktivitas yang disukai oleh banyak kalangan. Tidak sedikit dari mereka yang menonton animasi bukan sekedar untuk mengisi waktu luang dan hiburan saja. Dari penuturan S.I sendiri, animasi bagi dirinya adalah dunia ke-dua tempat berkeluh kesahnya. Melalui animasi ia perlahan belajar tentang bagaimana cara menghadapi trauma yang terjadi padanya.

“Saya pernah menonton salah satu animasi Jepang. Animasi itu sangat berkesan di hati saya. Karena, ada satu tokoh yang menginspirasi. Kondisi yang dialami oleh sang tokoh sama seperti yang saya alami saat itu. Meskipun sang tokoh, mengalami pelecehan seksual oleh ayah tirinya, dan sempat mengalami trauma, hingga takut berhadapan dengan pria. Namun, ia selalu ingat bahwa, dirinya tidak bisa hidup dalam ketakakutan selamanya. Tokoh pun tahu bahwa dirinya tidak pernah sendirian.” Ujar S.I

Dari situlah bisa dilihat bahwa menonton animasi mampu menjadi sebuah pembelajaran dan pengobatan. Di mana kita akan melihat bagaimana tokoh lain dalam menghadapi kondisi yang sama dengan apa yang kita alami.

Menuangkan Segalanya ke Dalam Tulisan

Tulisan adalah tempat yang paling tepat untuk menuangkan segala bentuk keluh kesah yang terjadi. Tidak sedikit dari kita pasti pernah menceritakan peristiwa yang berharga dan berkesan ke dalam jejaring sosisl media. Entah itu dipublikasikan ataupun hanya dijadikan catatan harian, untuk diingat dilain waktu.

“Dulu saya kebingungan ingin menceritakan pengalaman buruk yang dialami ini pada siapa. Saat itu hal yang terpikirkan pertama kali, yah menulis. Jujur saya bukan orang yang suka menulis seperti itu. Tapi karena peristiwa itu terjadi selama bertahun-tahun. Saya dengan perlahan menuliskan perasaan campur aduk saat itu. Sampai saat di mana, saya memutuskan membuat sebuah cerpen dalam bentuk fantasi, yang dipublikasikan di media sosial.” Ujar S.I

Berawal dari tulisan yang biasa, perlahan menghasilkan sebuah karya. Tulisan yang bukan sekedar tulisan. Pengalaman yang terpendam perlahan tertuangkan. Hal ini mengungkapkan bahwa menulis memiliki nilai utama untuk mengurangi pengekangan. Menurut (Utami & Kumara, 2003) “Peristiwa-peristiwa mengganggu yang dituliskan akan memberikan pemahaman baru tentang peristiwa emosional itu sendiri. Menuliskan pengalaman-pengalaman yang mengganggu secara psikologis, dan mungkin secara fisik, cukup menguntungkan.”

Membuat Goresan Abstrak

Satu hal terakhir yang tanpa kita sadari dapat meringankan trauma yang kita alami ialah mencoret-coret sesuatu. Mungkin di antara kita pernah merasa tenang setelah merusak barang ataupun meluapkan amarah dengan berteriak. Tapi, dikemudian waktu kita menyesali hal tersebut. Cobalah disaat kalian tengah butuh ketenangan dan meluapkan emosi tanpa sebuah penyesalan. Kalian ambil pensil atau alat tulis lain, lalu buka buku kosong. Coretlah kertas itu, sesuai perasaan yang tengah kalian rasakan. Inipun dilakukan oleh S.I, begini penuturannya.

“Setelah saya menonton animasi secara terus menerus. Saya mencoba menuangkan ekspresi dan perasaan berbagai tokoh yang ada ke dalam gambar. Awalnya terlihat buruk, tapi entah mengapa goresan yang saya buat di kertas kosong mampu membuat perasaan saya stabil. Dari situlah, setiap saya mengingat kejadian yang menimpa saya. Pasti saya curahkan ke dalam goresan abstrak maupun gambar utuh. Hingga, tanpa saya sadari hal itu menjadi hobi yang saya senangi. Bahkan, saya menekuninya dengan serius.”

Menghasilkan karya seni yang kreatif, ekspresif dan juga menyanangkan. Melalui gambar, coretan, dan warna, merupakan penyaluran emosi untuk menceritakan hal yang membuat kita marah, bahagia, sedih dan merasa tidak aman. (Fauziyyah et al., 2020)

Tanpa kita tahu, arti setiap goresan yang kita buat mencerminkan segala perasaan kita. Bahkan, karakter yang ada di dalam diri kita. Meringankan bukan berarti menyembuhkan. Tidak, ada salahnya tetap berkonsultasi pada ahlinya. Tiga hal ini menjadi alternatif, disaat kita belum siap untuk menceritakan dan menuangkan trauma yang membekas dalam diri, kepada orang terdekat.

Daftar Pustaka

Dewi, I. A. A. (2019). Catcalling : candaan, pujian atau pelecehan seksual. Jurnal Hukum Kenotariatan, 4(2).

Fauziyyah, S. A., Ifdil, I., & Putri, Y. E. (2020). Art therapy sebagai penyaluran emosi anak. SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling, 5(3), 109–114.

Nugroho, B. D., & Wahyuningsih. (2022). Asuhan keperawatan pada pasien demam tifoid dengan pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman.

Utami, D. S., & Kumara, A. (2003). Ekspresi menulis dan menggambar sebagai media terapi. Jurnal Psikologi, 1, 1–22.

Yudha, I. N. B. D., & Tobing, D. H. (2017). Dinamika memaafkan pada korban pelecehan seksual. Jurnal Psikologi Udayana, 4(2), 435–447.

Shinta Irmayanti, mahasiswa Desain Komunikasi Visual UPJ