Suku Polahi: Menelusuri Kehidupan, Kepercayaan, dan Tradisi Pedalaman Gorontalo

Mahasiswi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Shinta Murti Rahma Fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Suku Polahi adalah suku yang hidupnya dipedalaman Gorontalo, Mereka memilih bertahan hidup di hutan dan kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa Orang Polahi itu "masyarakat ketinggalan zaman" . Apa penyebabnya mereka memilih bertahan hidup di hutan? Karena pada saat abad ke 17 mereka melarikan diri dari penjajahan Belanda untuk menghindari pajak dan penindasan. Lokasi tempat tinggal Suku Polahi saat ini berada di Gunung Boliyohuto, Gorontalo.
Namun, dari segi pengetahuan mereka tidak mengenal pendidikan, agama, dan interaksi sosial dengan masyarakat luar. Hal ini mengakibatkan Orang Polahi tidak bisa membaca dan menulis sampai saat ini.
Kepercayaan yang dianut oleh Suku Polahi sangat unik dan mempunyai tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun-temurun. Mereka menganut tiga dewa dalam kepercayaan nya, yaitu:
Pulohato adalah sosok suami istri yang dihormati dalam kepercayaan Suku Polahi, berkuasa atas tanah dan hewan di hutan. Sebelum membuka lahan, Orang Polahi meminta izin kepada Pulohuta sebagai bentuk penghormatan. Mereka juga mempersembahkan bagian tubuh tertentu dari hewan buruan, seperti telinga dan lidah. Kepercayaan ini menujukkan hubungan spiritual kuat antara Suku Polahi dengan alam sekitarnya.
Lati adalah sesosok makhluk kecil yang tinggal di pohon besar dan air terjun, dipercaya oleh Orang Polahi memegang kuasa atas pohon. Saat menebang pohon besar atau mengambil madu, Orang Polahi akan membakar kemenyan dan merapal mantra agar Lati pindah ke pohon lain.
Lausala dalam kepercayaan Polahi digambarkan sebagai sosok antagonis yang mirip manusia super yang haus darah, ia memiliki mata merah, membawa pedang menyala, dan mampu berpindah dengan cepat antar bukit. Sosok Lausala digambarkan sebagai bentuk pria maupun wanita tua.
Orang Polahi masih menggunakan tanaman sejenis daun woka sebagai pakaian, dan bentuk bangunan rumah Orang Polahi hanya sebatas tiang kayu dan beratapkan dedaunan kering. Suku Polahi juga melanggengkan praktik perkawinan sedarah yaitu perkawinan antara anggota keluarga dekat. Hal ini bukan karena pilihan budaya tetapi karena jumlah kelompok mereka yang kecil. Ketika ada anggota keluarga mereka yang mati ditempat, maka saat itu juga akan dikuburkan ditempat saat mereka mati, orang Polahi akan meninggalkan tempat tinggalnya karena memiliki rasa takut yang mendalam. Suku Polahi sering kali berpindah tempat lalu membangun gubuk baru. Dengan pola hidup demikian warga Polahi hanya berkomunikasi dengan kelompoknya menggunakan bahasa dialek, di samping itu orang Polahi tidak lancar dalam menggunakan bahasa Indonesia.
Kebiasaan unik yang dimiliki warga Polahi mereka hanya makan satu kali dalam sehari. orang Polahi hanya makan pada waktu sore hari saat pukul 5 sore, mereka hanya memakan sejenis umbi-umbian dan tidak terbiasa memakan nasi seperti masyarakat pada umumnya. Mereka hanya bercocok tanam dengan umbi-umbian, pepaya, dan pisang.
KESIMPULAN
Suku Polahi memiliki tradisi dan kebiasaan unik, seperti melanggengkan kawin sedarah dan pola makannya yang sederhana, serta bertahan hidup dengan memanfaatkan sumber daya alam disekitarnya. Meskipun banyak masyarakat beranggapan Suku Polahi sebagai "masyarakat ketinggalan zaman" namun Suku Polahi tetap menjaga dan melestarikan budaya serta tradisi nya diperubahan zaman.
