Pentingnya Menanam Tanaman di Kampung Halaman Anda

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Tulisan dari Shinta Puspitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lingkungan Menjadi Subur dan Penduduk Lebih Sehat
Saat memasuki kawasan pedesaan RT 02 RW 05 Jalan Cisait, kecamatan Kragilan, Anda akan merasakan suasana asri. Di halaman rumah masing-masing warga, berbagai tanaman hias dan pohon buah-buahan tumbuh begitu subur. Setiap keluarga dapat melihat bunga anggrek, kembang sepatu, bugenvil, mawar dan tanaman hias lainnya. Untuk pohonnya terdapat pohon pepaya, jambu biji, jambu air dan mangga.
Setiap warga di desa ini memiliki kewajiban untuk menanam tanaman di halaman rumahnya. Bahkan, beberapa rumah warga ditumbuhi tanaman rimbun di halamannya. Ibu ketua RT, Sri Indrawati, mengatakan, sebelum reboisasi, desa itu sangat tandus. “Dulu sangat kering dan hanya sedikit orang yang menanam tanaman,” katanya.
Warga melakukan kegiatan reboisasi ini mulai tahun 2021. Desa yang hijau dan sejuk tersebut merupakan hasil dari kerja sama warga. "Semua warga RT 02 bergerak melakukan reboisasi. Kami menanam pohon sebulan sekali," jelas Sri. Tak hanya itu, taman toga juga dibangun oleh warga di ujung belakang kampung. Setiap warga yang sakit dapat memetik tanaman di sini.
Celengan Kentongan
Untuk pembibitan dan perawatan, semua warga membayar dengan cara iuran. Terkait iuran, warga RT 02 RW 05 menggantungkan kentongan di depan rumahnya dan dibuat seperti celengan. Sri tidak menetapkan jumlah iuran atau waktu iuran. "Yang penting keikhlasan. Tidak harus bayar setiap hari atau setiap minggu. Semua tergantung warga," jelas wanita asal Serang itu. Warga RT 02 RW 05 memiliki Tim Penggerak Lingkungan yang siap merawat.
Tim Penggerak Lingkungan (TPL) terdiri dari Karang Taruna, Ibu-Ibu PKK, dan dibantu oleh warga lainnya. Anggota Karang Taruna, Muhammad Zidan. Zidan terus terang mengaku sangat senang dengan perubahan di desa yang dulunya terkenal dengan gersang ini. Hal serupa juga diungkapkan warga lainnya, Aditya Pratama. Menurutnya, reboisasi telah mengurangi polusi udara. Dan tanaman obat dapat menjaga kesehatan penduduknya. “Masyarakat semakin sadar akan pentingnya reboisasi,” pungkasnya.
Olahan Produk Makanan dan Minuman Menjadi Nilai Ekonomis
Hasil panen tumbuhan RT 02 RW 05 tidak hanya dimakan sendiri, tetapi juga diolah dan dijual oleh ibu-ibu PKK. Beberapa tumbuhan memang bisa diolah menjadi makanan dan minuman yang bernilai ekonomis. Seperti pepaya dan mangga, dapat diolah menjadi manisan. “Saat panen, setiap warga memetik mangga dan pepaya di depan rumah, lalu mengumpulkannya di aula untuk diolah menjadi manisan,” kata Mardiana, ketua PKK setempat.
Warga juga memanfaatkan buah jambu untuk diolah menjadi produk minuman (jus). “Pada saat yang sama, tanaman toga diolah menjadi jamu,” kata perempuan asal Jakarta itu. Ia mengatakan, jika produk tersebut terjual, hasil penjualan akan digunakan untuk menambah kas desa. “Kami masih memasarkan di desa-desa terdekat dan akan kami kembangkan ke depannya,” jelas Mardiana.
Produk yang dijual Ibu-Ibu PKK dibanderol mulai dari Rp 5.000 (jamu) hingga Rp 8.000 (manisan dan jus). Selain itu, limbah rumah tangga dimanfaatkan Ibu-Ibu PKK untuk menjadi pupuk, sehingga dapat mengurangi pengeluaran untuk perawatan tanaman. “Ada ruangan pengomposan di dekat taman toga, untuk mengolah limbah makanan menjadi pupuk,” tambah Sri Indrawati, ketua RT.
