Konten dari Pengguna

Bukber: Silaturahmi atau Ajang Update Instagram?

Shinta Rizki Fauzi

Shinta Rizki Fauzi

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ilmu Komunikasi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shinta Rizki Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi Gemini AI

Ramadhan selalu identik dengan satu agenda yang hampir pasti muncul di kalender: bukber. Mulai dari grup sekolah, kuliah, kantor, sampai komunitas lama yang tiba-tiba aktif lagi. Notifikasi masuk, polling tanggal bertebaran, dan satu pertanyaan klasik muncul: “Outfit-nya nanti gimana?” Bukber memang jadi momen yang ditunggu. Tapi di era media sosial seperti sekarang, muncul pertanyaan kecil yang sering terlintas: bukber itu tentang silaturahmi… atau sekadar update Instagram? Bukber dan Tradisi Silaturahmi Secara makna, buka puasa bersama adalah momen kebersamaan. Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk mempererat hubungan, memperbaiki komunikasi, bahkan menyambung kembali relasi yang sempat renggang. Tidak sedikit yang memanfaatkan bukber sebagai ajang reunian kecil. Bertemu teman lama, berbagi cerita hidup, atau sekadar tertawa mengenang masa lalu. Dalam konteks ini, bukber jelas punya nilai sosial yang kuat. Ia bukan sekadar makan bersama, tapi ruang untuk kembali terhubung. Era Digital Mengubah Dinamika Namun, realitas hari ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Sebelum makanan datang, sering kali yang lebih dulu “disajikan” adalah kamera. Meja ditata rapi, minuman belum disentuh, tapi foto sudah diambil dari berbagai sudut. Story Instagram dipersiapkan, caption dirancang, dan lokasi ditandai. Fenomena ini sebenarnya wajar. Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mengabadikan momen bukan hal yang salah. Bahkan, itu bisa menjadi dokumentasi kenangan. Yang menjadi refleksi adalah ketika fokus kebersamaan bergeser menjadi fokus pencitraan. Antara Eksistensi dan Esensi Di satu sisi, membagikan momen bukber bisa menjadi bentuk ekspresi diri. Kita ingin berbagi kebahagiaan, menunjukkan bahwa relasi sosial tetap terjaga, dan menikmati momen Ramadhan bersama orang terdekat. Namun di sisi lain, ada juga tekanan sosial yang tidak selalu disadari. Tak sedikit yang merasa “harus ikut” bukber agar tidak terlihat tertinggal. Ada pula yang lebih sibuk memikirkan konten dibanding menikmati percakapan di meja makan. Bukber akhirnya berada di antara dua hal: eksistensi dan esensi. Pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar hadir dalam momen itu, atau hanya hadir untuk dokumentasinya? Refleksi Kecil di Bulan yang Besar Ramadhan sejatinya adalah bulan refleksi. Momentum untuk menata ulang niat, memperbaiki diri, dan memperdalam makna kebersamaan. Bukber tidak salah. Mengunggah foto pun tidak keliru. Yang perlu dijaga adalah niat dan keseimbangan. Jangan sampai momen yang seharusnya mempererat hubungan justru terasa hampa karena perhatian terpecah pada layar. Mungkin sesekali, tak ada salahnya menyimpan ponsel lebih lama di tas. Menikmati percakapan tanpa notifikasi. Mendengarkan cerita tanpa terganggu pencahayaan kamera. Karena pada akhirnya, yang paling diingat bukanlah seberapa estetik unggahan kita, melainkan seberapa hangat kebersamaan yang benar-benar dirasakan. Bukber boleh jadi konten. Tapi semoga tetap berawal dari silaturahmi.