Konten dari Pengguna

Generasi Sandwich: Saat Gaji Pertama Bukan untuk Diri Sendiri

Shinta Rizki Fauzi

Shinta Rizki Fauzi

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ilmu Komunikasi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shinta Rizki Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: dibuat Pribadi dengan menggunakan aplikasi Canva
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: dibuat Pribadi dengan menggunakan aplikasi Canva

Bagi banyak anak muda, gaji pertama adalah momen yang ditunggu-tunggu. Setelah bertahun-tahun sekolah, kuliah, mengerjakan tugas, hingga melewati proses mencari kerja yang nggak selalu mudah, akhirnya ada kesempatan untuk menikmati hasil usaha sendiri.

Mungkin ada yang sudah punya daftar keinginan sejak lama. Mau beli gadget baru, jalan-jalan, traktir teman, atau mulai menabung untuk masa depan.

Tapi nggak semua Gen Z punya cerita yang sama.

Bagi sebagian orang, gaji pertama justru bukan untuk diri sendiri. Uang yang baru masuk ke rekening harus langsung dibagi untuk kebutuhan rumah, membantu orang tua, membayar biaya sekolah adik, atau memenuhi kebutuhan keluarga lainnya.

Di sinilah banyak Gen Z mulai merasakan realita menjadi generasi sandwich.

Ketika Tanggung Jawab Datang Lebih Cepat

Usia 20-an sering digambarkan sebagai masa untuk mencari jati diri, mencoba banyak hal, dan mengejar mimpi. Namun bagi generasi sandwich, fase ini sering kali berjalan berbeda.

Alih-alih fokus memikirkan diri sendiri, mereka sudah harus memikirkan banyak orang sekaligus. Setiap kali gajian, ada daftar kebutuhan keluarga yang lebih dulu menunggu. Kadang bahkan sebelum sempat membeli sesuatu yang diinginkan, sebagian besar penghasilan sudah memiliki tujuan masing-masing.

Bukan karena terpaksa, tetapi karena ada rasa tanggung jawab yang besar terhadap keluarga.

Bangga, Tapi Juga Lelah

Menjadi generasi sandwich sering kali menghadirkan dua perasaan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, ada rasa bangga karena bisa membantu orang tua dan keluarga. Rasanya menyenangkan ketika akhirnya bisa memberikan sesuatu kepada orang-orang yang selama ini berjuang membesarkan kita.

Namun di sisi lain, ada rasa lelah yang nggak selalu terlihat.

Lelah karena harus memikirkan banyak hal sekaligus. Lelah karena mimpi pribadi terkadang harus ditunda. Bahkan ada kalanya merasa iri ketika melihat teman seusia bisa lebih bebas menggunakan penghasilannya untuk kebutuhan diri sendiri.

Perasaan itu wajar. Dan bukan berarti seseorang kurang bersyukur.

Media Sosial dan Tekanan yang Nggak Kelihatan

Di era media sosial, tekanan menjadi generasi sandwich bisa terasa lebih berat. Saat membuka Instagram atau TikTok, kita sering melihat teman-teman yang sedang liburan, membeli barang impian, atau menikmati hasil kerja mereka. Sementara di sisi lain, ada Gen Z yang masih berusaha membagi penghasilannya untuk banyak kebutuhan keluarga.

Tanpa sadar, muncul perasaan tertinggal. Padahal setiap orang memiliki kondisi hidup yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Tidak semua perjuangan diunggah ke internet.

Membantu Keluarga Bukan Berarti Melupakan Diri Sendiri

Salah satu hal yang sering dilupakan generasi sandwich adalah bahwa mereka juga berhak memiliki mimpi. Membantu keluarga memang penting. Namun bukan berarti semua kebutuhan pribadi harus selalu dikorbankan.

Menabung, beristirahat, membeli sesuatu yang diinginkan, atau menikmati hasil kerja sendiri bukanlah bentuk egoisme. Itu juga bagian dari menghargai diri sendiri setelah bekerja keras.

Karena pada akhirnya, seseorang tidak bisa terus menjadi penopang bagi orang lain jika dirinya sendiri kelelahan.

Perjuangan yang Jarang Dibicarakan

Menjadi generasi sandwich bukanlah sesuatu yang mudah. Di usia ketika banyak orang masih belajar membangun hidupnya, ada sebagian Gen Z yang sudah harus menjadi tempat bersandar bagi keluarganya.

Mereka mungkin tidak selalu menceritakan kesulitannya. Tidak semua mengunggah perjuangannya di media sosial. Namun di balik senyum dan aktivitas sehari-hari, ada tanggung jawab besar yang mereka pikul.

Meski begitu, mereka tetap melangkah. Tetap bekerja, tetap berusaha, dan tetap berharap masa depan yang lebih baik bisa datang untuk diri mereka sendiri maupun keluarga yang mereka cintai.

Karena bagi generasi sandwich, gaji pertama mungkin bukan untuk diri sendiri. Tapi di balik pengorbanan itu, ada bentuk kasih sayang dan perjuangan yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang.