Kenapa Gen Z Sering Bilang "Gapapa", Padahal Sebenarnya Tidak Baik-Baik Saja?

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Shinta Rizki Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Aku gapapa, kok." Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Namun, di balik dua kata tersebut, sering kali tersimpan banyak hal yang tidak diungkapkan. Mulai dari rasa lelah, kecewa, cemas, hingga perasaan ingin dimengerti tanpa harus menjelaskan semuanya. Di kalangan Gen Z, mengatakan "gapapa" sudah seperti respons otomatis. Saat ditanya kabar, saat menghadapi masalah, atau ketika sedang merasa tidak baik-baik saja, jawaban itu sering kali keluar begitu saja. Padahal, kenyataannya belum tentu demikian. "Gapapa" Bukan Selalu Berarti Baik Ada banyak alasan kenapa seseorang memilih menjawab "gapapa". Sebagian merasa tidak ingin merepotkan orang lain. Ada juga yang takut dianggap terlalu sensitif atau drama jika menceritakan apa yang sedang dirasakan. Akhirnya, memilih diam terasa lebih mudah daripada harus menjelaskan semuanya. Di sisi lain, tidak semua orang pandai mengungkapkan perasaannya. Ada yang membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan sebelum akhirnya mampu menceritakannya kepada orang lain. Karena itu, kata "gapapa" sering kali menjadi cara paling sederhana untuk mengakhiri percakapan. Terlihat Kuat, Padahal Sedang Lelah Media sosial membuat kita terbiasa melihat orang lain tampil baik-baik saja. Feed yang rapi, unggahan yang ceria, dan cerita tentang pencapaian sering kali membuat banyak orang merasa harus terlihat kuat. Tanpa sadar, muncul tekanan untuk selalu terlihat mampu menghadapi semuanya. Akibatnya, ketika sedang merasa lelah atau kehilangan semangat, sebagian orang memilih menyimpannya sendiri. Mereka tetap tersenyum, tetap bercanda, tetapi di dalam hati sebenarnya sedang berjuang menghadapi banyak hal. Pentingnya Punya Ruang untuk Bercerita Tidak semua orang yang berkata "gapapa" benar-benar ingin ditinggalkan sendirian. Terkadang mereka hanya belum menemukan tempat yang membuatnya merasa aman untuk bercerita. Mendengarkan tanpa menghakimi bisa menjadi hal sederhana yang sangat berarti. Tidak selalu harus memberi solusi, karena terkadang seseorang hanya ingin didengar dan dipahami. Begitu juga untuk diri sendiri. Tidak apa-apa jika sesekali mengakui bahwa kita sedang lelah atau tidak baik-baik saja. Mengungkapkan perasaan bukan berarti lemah, tetapi bentuk kejujuran terhadap diri sendiri. Tidak Harus Selalu Baik-Baik Saja Di tengah tuntutan untuk terus produktif dan terlihat kuat, kita sering lupa bahwa menjadi manusia berarti memiliki berbagai macam emosi. Ada hari ketika semuanya berjalan lancar, tetapi ada juga hari ketika kita merasa kehilangan semangat. Dan itu adalah hal yang wajar. Mungkin sudah saatnya kita mulai mengurangi kebiasaan menyembunyikan perasaan di balik kata "gapapa". Sebab, tidak ada yang salah dengan mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Karena terkadang, keberanian terbesar bukanlah berpura-pura kuat, melainkan berani berkata jujur tentang apa yang sedang kita rasakan.
