Konten dari Pengguna

Perjalanan Menuju Watu Lunyu

Shinta Priliyani Wibowo

Shinta Priliyani Wibowo

Mahasiswa S1 Teknik Telekomunikasi di Institut Teknologi Telkom Purwokerto

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shinta Priliyani Wibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunung Sumbing, Sumber : Foto Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gunung Sumbing, Sumber : Foto Pribadi

Pada suatu hari, aku sedang mengerjakan tugas dikamar karena kuliah online sudah selesai. Lalu adikku menghampiri dan mengajakku untuk berjalan-jalan ke hutan dekat rumah. Didekat rumahku ada wisata alam yang kurang terkenal bernama Watu Lunyu yang artinya batu licin. Lokasinya berada di jalur pendakian Gunung Sindoro via basecamp Kapencar.

Kami berangkat sekitar pukul 10.00 WIB, dari rumah menuju jalan Watu Lunyu kami menggunakan motor sampai setengah perjalanan, nanti menuju lokasi wisatanya kami harus jalan kaki. Jalan menuju tempat memang sudah diperbaiki, namun karena memang disekitar tempat tersebut hanya ada kebun jadi memang jalannya bergejolak.

Disepanjang jalan kami sudah disuguhi pemandangan yang sangat indah, karena pada hari itu cuaca memang sedang cerah sekali dan langitnya bersih, tampak pemandangan pedesaan dari atas sangat jelas dan kami bisa memfoto Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing dengan cantik. Suasananya pun sangat nyaman untuk berjalan santai, karena pada hari itu juga cuacanya sedang berangin.

Kami berjalan menyusuri jalan sambil melihat warga yang sedang berkebun. Setelah 20-30 menit berjalan, kami sampai di Hutan Cemoro yang mana merupakan pos satu dari pendakian Gunung Sindoro. Memang jika mengunjuki tempat tersebut untuk pertama kalinya terasa seram, karena di dalam hutan tersebut sangat sepi dan redup karena banyak pohon sehingga pencahayaan matahari kurang. Di tempat tersebut disediakan tempat istirahat dan mushala juga disebelahnya, namun karena ada ayunan dari kayu jadi kami ingin istirahat sambil mencoba ayunan tersebut.

Hutan Cemoro, Sumber : Foto Pribadi

Setelah cape hilang, kami melanjutkan perjalanan. Walaupun hanya main ke wisata alam Watu Lunyu, tapi rasanya seperti akan mendaki Gunung Sindoro. Aku tidak menyangka jika perjalanannya jauh karena adikku bilang ini dekat, jadi kami tidak membawa bekal minum. Ternyata perjalanannya jauh dan kami kehausan, walapun suasana saat itu sangat sejuk. Tapi kata adikku nanti di Watu Lunyu ada aliran air, jadi kami bisa minum disitu. Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya kami sampai di Watu Lunyu. Karena memang sudah kehausan, kami langsung menuju kran air untuk minum, tapi ternyata kran airnya mati tidak ada airnya, kami hanya bisa menelan ludah untuk menhilangkan dahaga.

Sesampainya di wisata Watu Lunyu, kami berniat untuk berfoto sebentar. Namun tiba tiba pada saat kami ingin berfoto, datang dua burung elang yang terbang lama kelamaan seperti ingin menghampiri kami. Kami takut, keadaan disitu jauh dari pemukiman dan kami hanya berdua. Jika burung elang tersebut menyerang kita, bisa jadi susah untuk meminta tolong kepada orang. Akhirnya kita memutuskan untuk tidak foto di Watu Lunyu dan kembali jalan pulang. Karena kami masih kehausan, diperjalanan pulang kami mampir ke musala yang dekat Hutam Cemoro. Kami coba untuk memutar kran yang ada dan ternyata airnya keluar, air pegunungan memang sangat segar dan dingin membuat dahaga kami hilang. Setelah itu kami pulang dengan oleh oleh air Gunung asli yang sudah menyembuhkan dahaga, dan beberapa foto yang sangat indah walaupun kami tidak sempat foto di Watu Lunyu.