Konten dari Pengguna

Satu Lowongan, Banyak Peran: Ketika Deskripsi Pekerjaan Makin Melebar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shinta Ayu Zaskia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar dibuat dengan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar dibuat dengan AI

“Dicari Social Media Specialist.” Sekilas, pekerjaan ini terdengar sederhana: mengelola media sosial perusahaan. Namun, coba baca lebih jauh persyaratannya. Membuat konten, mengambil foto dan video, mengedit, menulis copywriting, mengelola iklan, membaca analisis performa, sampai mengurus marketplace. Satu nama jabatan, tetapi daftar pekerjaannya bisa terasa seperti beberapa posisi sekaligus.

Fenomena seperti ini menurut saya semakin mudah ditemukan dalam dunia kerja saat ini. Salah satu lowongan Digital Marketing yang tercantum di KitaLulus, misalnya, menggabungkan pengelolaan marketplace, strategi media sosial, pembuatan foto dan video, copywriting, iklan berbayar di berbagai platform, hingga analisis performa kampanye dalam satu posisi. Contoh lainnya terlihat pada lowongan Content & Social Media Specialist di Glints yang mencakup riset konten, content calendar, pembuatan naskah, shooting, editing video, pengelolaan iklan Meta dan TikTok, optimasi marketplace, membalas komentar dan pesan, sampai membuat laporan berdasarkan ROAS, CPA, CTR, dan CVR.

Menurut saya, hal tersebut menunjukkan bahwa batas sebuah pekerjaan mulai semakin luas. Perusahaan memang membutuhkan pekerja yang mampu beradaptasi dengan perkembangan digital. Namun, ketika terlalu banyak fungsi dimasukkan ke dalam satu posisi, muncul pertanyaan: apakah ini benar-benar mencari pekerja yang serba bisa, atau justru memberikan terlalu banyak tanggung jawab kepada satu orang?

Digitalisasi Membuat Batas Pekerjaan Semakin Kabur

Perubahan ini tentu tidak muncul tanpa alasan. Dunia kerja memang sedang mengalami perubahan kebutuhan keterampilan. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah hingga 2030. Kemampuan teknologi seperti AI, big data, jaringan, dan keamanan siber semakin penting, sementara kemampuan berpikir kreatif, analitis, fleksibilitas, dan adaptasi juga tetap dibutuhkan.

Saya setuju bahwa pekerja memang perlu terus belajar. Apalagi perkembangan teknologi berjalan cepat dan membuat kemampuan yang dibutuhkan perusahaan ikut berubah. Namun, menurut saya, ada perbedaan antara meminta pekerja untuk terus mengembangkan kemampuan dengan meminta satu pekerja mengerjakan hampir semua fungsi dalam sebuah tim.

Seorang Social Media Specialist yang mampu membuat desain, mengedit video, memahami iklan, membaca data, dan mengelola marketplace memang memiliki nilai tambah. Tetapi setiap pekerjaan tersebut membutuhkan waktu dan proses yang berbeda. Membuat strategi konten tidak sama dengan mengedit video. Mengelola iklan juga berbeda dengan mengurus pesanan marketplace.

Kalau semuanya dimasukkan ke dalam satu posisi, pekerjaan yang awalnya memiliki fokus tertentu bisa berubah menjadi pekerjaan yang sangat luas. Bagi saya, di sinilah perusahaan perlu lebih jelas dalam menentukan batas tanggung jawab sebuah posisi.

Serba Bisa Tidak Selalu Berarti Lebih Efisien

Dari sisi perusahaan, mencari pekerja dengan banyak kemampuan tentu memiliki keuntungan. Koordinasi dapat menjadi lebih sederhana dan kebutuhan tenaga kerja bisa disesuaikan dengan kondisi bisnis.

Namun, menurut saya, efisiensi perusahaan tidak seharusnya hanya dilihat dari berapa banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh satu orang. Kualitas pekerjaan dan beban yang diterima pekerja juga perlu diperhatikan.

ILO pada 2025 menyoroti bahwa transformasi digital dapat mengubah beban kerja. Teknologi memang dapat membantu merampingkan tugas dan meringankan pekerjaan, tetapi penggunaan teknologi yang tidak dikelola dengan baik juga dapat memunculkan risiko baru, termasuk beban kerja yang didorong oleh sistem digital dan kondisi selalu terhubung yang dapat berkontribusi pada stres dan kelelahan.

Karena itu, semakin banyak keterampilan yang diminta tidak otomatis berarti semakin baik. Menurut saya, yang lebih penting adalah apakah seluruh tanggung jawab tersebut masih realistis dikerjakan oleh satu orang dengan waktu, target, dan kompensasi yang sesuai.

Pencari Kerja Akhirya Harus Menjadi "Paket Lengkap"

Persoalan ini juga memberikan tekanan tersendiri bagi pencari kerja, terutama mereka yang baru masuk dunia profesional.

Pelamar bukan hanya diminta memiliki satu keahlian utama. Mereka bisa merasa harus menguasai desain, editing, pemasaran digital, analisis data, hingga berbagai perangkat AI agar tidak kalah dalam proses rekrutmen.

Saya sendiri melihat bahwa kondisi seperti ini bisa membuat pencari kerja merasa harus menjadi “paket lengkap” sebelum berani melamar sebuah pekerjaan. Padahal, tidak semua orang harus menguasai semuanya. Seseorang bisa saja memiliki keahlian utama yang kuat dan tetap membutuhkan kerja sama dengan orang lain untuk mengerjakan bidang yang berbeda.

Data WEF menunjukkan bahwa kesenjangan keterampilan memang menjadi salah satu tantangan utama perusahaan. Sebanyak 63 persen perusahaan yang disurvei menyebut skills gap sebagai hambatan penting dalam transformasi bisnis. Pada saat yang sama, 85 persen perusahaan memperkirakan akan melakukan upskilling terhadap tenaga kerjanya hingga 2030.

Menurut saya, data tersebut justru menunjukkan bahwa perusahaan juga memiliki peran dalam mengembangkan kemampuan pekerjanya. Kebutuhan keterampilan baru memang nyata, tetapi bukan berarti seluruh kebutuhan tersebut harus langsung dibebankan kepada calon pekerja sejak awal.

Jangan Sampai "Multitalenta" Menjadi Nama Lain dari Beban Berlebih

Memiliki karyawan yang mampu melakukan banyak hal bukanlah sesuatu yang buruk. Justru, pekerja dengan kemampuan luas dapat membantu perusahaan beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan pasar.

Yang perlu diperhatikan adalah batasnya.

Jika seorang Social Media Specialist harus membuat strategi, menjadi fotografer, videografer, editor, copywriter, pengelola iklan, analis data, sekaligus admin marketplace, menurut saya perusahaan perlu menjelaskan dengan transparan bagaimana seluruh tanggung jawab tersebut dihitung sebagai satu pekerjaan.

Bagi pencari kerja, membaca lowongan juga tidak cukup hanya dari nama posisi dan nominal gaji. Daftar tanggung jawab perlu diperhatikan karena dari sanalah gambaran pekerjaan sebenarnya terlihat.

Pada akhirnya, menurut saya, perkembangan teknologi memang membuat dunia kerja membutuhkan manusia yang semakin adaptif. Namun, adaptif bukan berarti harus mampu mengerjakan semuanya sendirian. Kemampuan untuk bekerja sama, membagi tugas, dan mengetahui batas kemampuan juga merupakan bagian dari profesionalitas.

Jangan sampai istilah “serba bisa” justru digunakan untuk menyamarkan semakin banyaknya pekerjaan yang diberikan kepada satu orang. Menurut saya, dunia kerja yang berkembang bukan hanya tentang mencari pekerja yang bisa melakukan banyak hal, tetapi juga tentang menciptakan pembagian kerja yang tetap masuk akal dan manusiawi.