FOMO: Ketakutan Tertinggal yang Menguras Mental

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fajar Shodiq Haiqal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Punya resolusi 2025? Udah bikin side job? Udah jalan-jalan ke jepang? Udah ikutan volunteer?”
Di tengah cepatnya arus media sosial saat ini, rasanya kita selalu dikejar oleh pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Kalua belum dilakukan, muncul rasa takut dalam diri kita: takut ketinggalan, takut nggak keren, takut nggak diakui.
Fenomena inilah yang biasa orang sebut FOMO (Fear Of Missing Out) — ketakutan tertinggal tren, pengalaman, atau momen penting yang dialami orang lain.
Media Sosial: Mesin Pemicu FOMO
Scroll Instagram, lihat teman reunion, makan di resto mewah, atau nonton konser artis idola. Buka TikTok, semua orang terlihat lebih sukses, lebih produktif, dan nampak sangat bahagia.
Tanpa sadar, kita terus-menerus membandingkan hidup kita dengan highlight orang lain. Padahal, kenyataannya yang ditampilkan di depan kamera hanyalah potongan terbaik, bukan keseluruhan cerita
Dampak FOMO: Insecure, Overthinking, dan Boros
FOMO bukan sekedar rasa ketertinggalan dan ikut-ikutan. Dalam jangka panjang, dapat menimbulkan rasa insecure, overthinking, hingga Keputusan impulsif yang kita lakukan seperti belanja berlebihan hanya demi tidak ketinggalan tren.
Survei di Amerika menunjukkan, bahwa 69% Gen Z mengaku pernah merasa tidak puas akan kehidupannya setelah melihat unggahan orang lain di media sosial.
Cara Mengatasi FOMO
Kalau kamu merasakan perilaku FOMO tadi, cobalah lakukan beberapa hal sederhana ini:
• Sadari bahwa media sosial bukan realita penuh.
• Kurangi waktu scroll (bisa mulai dengan 1 jam offline per hari).
• Latih rasa syukur, buatlah jurnal harian pribadi.
• Fokus pada apa yang benar-benar penting untuk diri sendiri.
Belajar Nikmati Momen
Yuk, kita coba nikmati hidup dengan cara kita sendiri. Kita nggak harus selalu ikut semua tren, nggak wajib datang ke setiap event, atau terus update biar kelihatan keren. Pelan-pelan aja, fokus sama hal-hal yang benar-benar bikin kamu merasa hidup dan bahagia.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling cepat atau paling ramai disorot. Tapi tentang siapa yang paling tulus menikmati setiap langkah perjalanannya, tanpa harus capek mengejar validasi yang nggak ada habisnya
