Sibuk Biar Dianggap Keren: Fenomena Gen-Z Haus Validasi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fajar Shodiq Haiqal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih kamu lihat temanmu yang seolah selalu super busy? Timeline Instagram penuh story rapat sana-sini, meeting sambil ngopi di kafe aesthetic, ngerjain proyek sambil update “no sleep” di jam 2 pagi. Kalau dilihat, hidupnya kayak nggak pernah punya jeda, selalu produktif, selalu “on fire”. Tapi di balik semua itu, ternyata ada satu motivasi tersembunyi: validasi.
Fenomena sok sibuk ini bukan hal baru, tapi semakin marak di era Gen-Z. Generasi yang lahir di tengah gempuran media sosial ini memang tumbuh dengan tekanan untuk selalu terlihat “keren” dan “berhasil”. Bukan cuma soal prestasi, tapi juga tentang citra diri yang dipamerkan ke publik.
Sibuk: Gaya Hidup atau Strategi?
Bagi banyak Gen-Z, kesibukan sudah berubah fungsi. Dulu, sibuk identik dengan bekerja keras demi tujuan tertentu—misalnya lulus tepat waktu, membangun bisnis, atau mengejar beasiswa. Sekarang, sibuk juga dijadikan branding. Semakin sibuk, semakin kelihatan penting.
Tak jarang kita lihat orang yang suka bilang, “Aduh, sorry ya, lagi hectic banget nih,” padahal kalau ditanya lebih dalam, ternyata banyak tugas yang sengaja ditumpuk atau bahkan diada-adakan supaya terlihat penuh agenda. Kesibukan bukan lagi soal efektif atau produktif, tapi lebih ke bagaimana orang lain memandang kita.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan budaya hustle yang mengagung-agungkan kerja tanpa henti. Bedanya, kalau di era milenial hustle culture diartikan sebagai semangat mengejar mimpi, di Gen-Z, hustle justru jadi ajang pamer—untuk menunjukkan kehebatan diri di mata followers.
Media Sosial: Lahan Subur Validasi
Media sosial jadi panggung utama yang membuat banyak orang berlomba-lomba menunjukkan “saya sibuk”. Story berisi laptop, gelas kopi, dan caption “deadline mood” seolah sudah jadi ritual wajib. Padahal, nggak semua benar-benar sepadat itu.
Satu sisi, wajar jika kita ingin diapresiasi. Tapi jika terlalu sering mencari validasi eksternal, lama-lama bisa bikin kita kehilangan makna asli dari kesibukan itu sendiri. Sibuk jadi bukan tentang proses berkembang atau pencapaian pribadi, melainkan sekadar alat mendapatkan likes, views, dan komentar “keren banget!”.
Bahaya Membohongi Diri
Kesibukan palsu ini bisa berbahaya. Pertama, kita jadi mudah membandingkan diri dengan orang lain. Melihat teman terlihat produktif bisa bikin kita merasa tertinggal, padahal kenyataannya belum tentu seperti yang terlihat.
Kedua, kita bisa kelelahan mental. Karena terus memaksakan diri agar terlihat aktif, energi dan waktu habis untuk pencitraan, bukan untuk kegiatan yang benar-benar bermakna. Stres, burnout, bahkan rasa hampa bisa muncul diam-diam.
Ketiga, kita bisa kehilangan jati diri. Sibuk demi validasi membuat kita lupa pada prioritas pribadi. Lama-lama, kita nggak tahu lagi mana aktivitas yang benar-benar kita sukai dan mana yang cuma demi penilaian orang lain.
Saatnya Balik ke Diri Sendiri, buat sibuk yang sehat
Memang nggak ada yang salah dengan sibuk. Bekerja keras, punya banyak agenda, atau aktif berkegiatan itu baik. Tapi, penting untuk bertanya: sibuk ini buat siapa?
Kalau jawabannya untuk diri sendiri—untuk berkembang, belajar, atau memenuhi target pribadi—maka lanjutkan. Tapi kalau jawabannya demi dipandang “hebat” di mata orang lain, mungkin sudah waktunya rehat sejenak dan meninjau ulang motivasi kita.
Daripada sibuk demi konten, coba fokus pada kesibukan yang membuat kita benar-benar bertumbuh. Misalnya, mengembangkan skill, memperdalam hobi, atau membangun koneksi yang tulus.
Sesekali, cobalah untuk offline. Nikmati waktu tanpa harus update. Rasakan kesunyian dan kelegaan tanpa harus mengejar “keren” di mata orang lain.
Dan yang paling penting: jangan takut dibilang “nggak produktif”. Kita nggak harus selalu sibuk untuk merasa berharga. Istirahat juga bagian dari proses tumbuh.
