Konten dari Pengguna

Berdamai Itu Menyelesaikan Masalah, Bukan Menambah Masalah

shofa fadhilah

shofa fadhilah

mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari shofa fadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Shofa Fadhilah Almusyarofah (Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)

Masyarakat Indonesia memiliki beraneka ragam suku, bangsa, bahasa, agama, ras, dan kebudayaan. Namun, dalam perbedaan ini masyarakat Indonesia memiliki norma-norma yang mengatur cara perilaku manusia untuk menuju kebahagiaan yang mendamaikan dirinya dan lingkungannya. Norma atau etika adalah suatu ilmu yang menanyakan baik buruk perilaku setiap orang, orang akan dikatakan baik jika tidak merugikan orang lain.

Banyak kalangan yang memahami perdamaian sebagai keadaan tanpa perang, kekerasan, atau konflik. Pemahaman seperti ini merupakan contoh dari definisi perdamaian negatif. Menurutu Johan Galtung, perdamaian negatif didefinisikan sebagai situasi absennya berbagai bentuk kekerasan lainnya. Definisi ini memang sederhana dan mudah difahami, namun melihat realitas yang ada, banyak masyarakat tetap mengalami penderitaan akibat kekerasan yang tidak nampak dan ketidakadilan.

Melihat kenyataan ini, maka terjadilah perluasan definisi perdamaian dan munculah definisi positif. Definisi perdamaian positif adalah absennya kekerasan struktural atau terciptanya keadilan sosial serta terbentuknya suasana yang harmoni. Sama hal nya dengan islam, islam melarang keras tindakan kekerasan. Islam memandang keadilan sebagai salah satu nilai inti seperti dalam Al-Qur’an tertulis:

يَٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, tetaplah kalian berdiri teguh untuk (menegakkan) keadilan, menjadi saksi karena Allah, meskipun (kesaksian itu berat) terhadap dirimu sendiri atau orang tua dan kaum kerabatmu. Jika dia kaya atau miskin, maka Allah lebih berhak atas keduanya. Oleh karena itu, janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan kata atau menolak untuk memberikan kesaksian, sesungguhnya Allah maha mengetahui tentang apa yang kalian kerjakan.”

Konsep Damai dalam Islam

Kitab suci Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia yang beriman, memuat berbagai aspek problematika dalam kehidupan manusia. Salah satunya adalah islah (perdamaian) yang sudah menjadi sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia di dunia. Realitasnya, seringkali terjadi peristiwa konflik pada masyarakat, baik yang sifatnya horisontal (antar masyarakat atau kelompok sosial) dan vertikal (masyarakat dengan pemerintahan). Hal tersebut disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai konsep islah, ukhuwah, silaturahmi dan mewujudkan situasi damai dalam jangka panjang.

Islah sendiri memiliki makna perdamaian, yang berasal dari sebuah kata al-shullahu. Term tersebut juga mempunyai arti menghindarkan perpecahan antar manusia. Dalam syariat Islam, Islah bertujuan mengakhiri sebuah konflik dan perselisihan sehingga mereka dapat mewujudkan kembali relasi atau hubungan baru penuh dengan keharmonisan.

Secara terminologi, islah digunakan dalam dua pengertian yakni sebagai proses keadilan dan penciptaan perdamaian. Beberapa ahli menjelaskan pengertian islah, seperti Zamakhsyari berpendapat bahwa islah adalah mengondisikan sesuatu terhadap keadaan yang lurus kemudian dapat dikembalikan fungsinya sekaligus dimanfaatkan. Sedangkan Sayyid Sabiq menerangkan bahwa islah merupakan jenis akad dalam rangka mengakhiri sebuah pertikaian dan permusuhan antara dua orang ataupun kelompok.

Beberapa waktu lalu topik etika dalam melakukan perdamaian ramai di media sosial, karna dengan etikalah hidup seseorang akan baik. kata etika berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu ethos dan ethikos. Ethos berarti sifat, watak. Kebiasaan. Ethikos berarti susila, keabadian, kelakuan dan perbuatan yang baik. Sempat terjadi kasus di suatu daerah yang dimana seorang wali murid meminta kepada teman anaknya untuk meminta maaf karna telah mengejek anaknya dengan cara membungkuk dan menggonggong seperti anjing.

Cara meminta maaf seperti ini yang membuat masyarakat yang melihat kejadian tersebut merasa tidak terima karna tidak manusiawi akan hal tersebut. Kasus seperti inilah yang membuat masyarakat melaporkannya kepada pihak hukum, sehingga menyebabkan yang semulanya untuk menyelesaikan masalah malah memperbesar masalah.

Islam tidak mengajarkan cara meminta maaf dengan cara tersebut, tetapai islam mengajarkan bahwa dengan cara bermusyawarah saja sudah cukup untuk menyelesaikan suatu masalah. Perdamaian dalam islam merupakan salah satu cita-cita mulia yang harus diperjuangkan oleh umat islam. Islam mengajarkan bahwa perdamaian bukan berarti tidak adanya konflik, tetapi juga tentang keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

https://fitk.almaata.ac.id/2024/06/24/5-ayat-perdamaian-dalam-al-quran/

https://moderanesia.com/2022/09/konsep-membangun-perdamaian-dalam-islam/

burung merpati putih melambangkan perdamaian dan tangan bergambarkan dunia/peta melambangkan bahwa perdamaian dunia ada di tangan kita. sumber: NoName_13 (https://pixabay.com/it/photos/)