Konten dari Pengguna

Mbok Siwuh, Perempuan yang Dipercaya Menjaga Sendang Ngijo

Shofiy Lestifah

Shofiy Lestifah

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shofiy Lestifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bukit Bintang, Gunung Kidul. Sumber: Koleksi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Bukit Bintang, Gunung Kidul. Sumber: Koleksi Pribadi

Sendang itu terletak tak jauh dari permukiman warga. Airnya jernih dan tak pernah kering, mengaliri sawah serta kebun di sekitarnya. Bagi masyarakat Dusun Ngijo, Sendang Ngijo bukan sekadar sumber air, tetapi juga ruang yang diselimuti kepercayaan turun-temurun.

Menjadi juru kunci bukan pilihan yang ia rencanakan. Amanat itu datang perlahan, seiring kepercayaan warga yang tumbuh padanya. Mbok Siwuh mengaku tidak memiliki kemampuan khusus. Ia bahkan tidak sepenuhnya percaya pada cerita-cerita mistis yang berkembang tentang sendang tersebut.

“Aku ke sendang kalau ada tetangga yang minta tolong saja,” ujarnya.

Namun, di mata warga, kehadiran Mbok Siwuh di sendang memiliki arti lain. Ketika seseorang hendak menggelar hajatan besar seperti pernikahan, khitanan, atau acara penting lain, mereka akan mendatangi Mbok Siwuh. Ia diminta mengantarkan sesajen ke Sendang Ngijo, sebagai bentuk permohonan agar acara berjalan lancar.

Sendang Ngijo memiliki empat tingkatan. Setiap tingkat dipercaya memiliki aturan tersendiri. Mbok Siwuh hafal betul pembagian sesajen itu, meski ia sendiri tidak pernah mengklaim mengetahui alasannya. Kepala ayam mentah untuk tingkat paling atas, disusul bagian-bagian lainnya hingga ceker ayam di tingkat terbawah. Ritual serupa juga dilakukan setiap malam satu Suro.

Ada kalanya Mbok Siwuh merasa bingung dengan perannya. Ia tak merasa punya kuasa apa pun, tetapi orang-orang menggantungkan harapan padanya. Jika terjadi sesuatu yang dianggap “tidak wajar”, namanya pula yang disebut-sebut. Ia dihormati, sekaligus dibebani kepercayaan.

Di Sendang Ngijo hidup ikan gabus yang tak pernah disentuh warga. Konon, siapa pun yang berani mengambilnya akan tertimpa kesialan besar. Mbok Siwuh tidak pernah membuktikan cerita itu. Namun larangan tersebut membuat sendang tetap terjaga. Tak ada yang serakah, tak ada yang merusak.

Bagi Mbok Siwuh, sendang adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan ruang yang menakutkan. Ia datang dan pergi tanpa mantra, tanpa ritual berlebihan. Air sendang terus mengalir, memberi kehidupan bagi sawah-sawah warga sehingga dianggap sebuah manfaat nyata yang tak terbantahkan.

Kini, kedua anak Mbok Siwuh merantau ke Jakarta. Ia menjalani hari tuanya bersama suami, tetap di dusun yang sama, dengan peran yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia tidak tahu sampai kapan akan terus dipanggil sebagai juru kunci. Yang ia lakukan hanyalah memenuhi permintaan tetangga, menjaga hubungan baik, dan menghormati apa yang dipercaya bersama.

Di Dusun Ngijo, kepercayaan tentang Sendang Ngijo hidup bukan semata karena cerita mistis, melainkan karena orang-orang seperti Mbok Siwuh dengan kesederhanaannya, menjadi penghubung antara tradisi, alam, dan kehidupan sehari-hari.