Lupakan Perbedaan, Garap 327 Triliun, Perang Besar di Balik Idul Fitri

Ketua PWM Sumbar 2015-2022, 2000-2005. Rektor UMSB-UM Sumbar 2005-2013. Komisaris PT Semen Padang 2005-2015. DPRD Prov Sumbar 1992-1999. Dosen IAIN-UIN IB 1985-2018. Dosen Pascasarjana UM Sumbar sd sekarang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari shofwan karim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh Shofwan Karim
Malam itu, di sebuah musala kecil di pinggir kota, saya mendengar dua orang bapak berdebat. Yang satu bersikukuh bahwa 1 Syawal jatuh pada Jumat. Yang lain tak kalah yakin bahwa hilal tak mungkin terlihat, dan Sabtu adalah hari yang tepat untuk berhari raya.
“Sudah, Pak,” kata saya memotong. “Muhammadiyah sudah mengumumkan Jumat, 20 Maret. Untuk yang lain mungkin menunggu pwngumuman pemerintah. Yang penting kita saling memaafkan.”
Mereka tersenyum. Berjabat tangan. Lalu kembali menyantap kolak pisang hangat buatan istri saya.
Itulah Indonesia. Boleh berbeda, tapi tetap dalam kebersamaan. Dan Idul Fitri 1447 H ini—entah Jumat atau Sabtu, 20 atau 21 Maret 2026—insya Allah akan kita rayakan dengan satu hati: kemenangan setelah sebulan menahan lapar dan dahaga.
Tapi di balik takbir yang menggema, ada denyut nadi lain yang tak kalah dahsyat. Ia bernama zakat.
Coba bayangkan angka ini: Rp4,2 triliun hingga Rp4,3 triliun. Itu potensi zakat di Sumatera Barat setiap tahunnya. Namun Baznas baru bisa merealisasikan sekitar Rp475 miliar. Masih ada lautan peluang yang belum tergarap.
Dan secara nasional? Potensinya mencapai Rp327 triliun. Angka yang membuat kita menghela napas. Sebesar apa itu? Coba bandingkan dengan APBD provinsi-provinsi kita. Atau bayangkan berapa banyak sekolah bisa dibangun, berapa banyak rumah sakit bisa beroperasi, berapa banyak ibu-ibu bisa tersenyum karena anaknya tak lagi kelaparan.
Empat tahun silam, Ketua Baznas Sumbar pernah berkata dengan jujur kepada media: potensi zakat di Sumbar mencapai setengah dari APBD provinsi. Namun yang terhimpun saat itu baru Rp27 miliar hingga akhir Ramadhan. Target setahun hanya Rp30 miliar.
Jarak antara potensi dan realisasi, bak langit dan bumi.
Tapi tunggu dulu.
Apakah itu berarti umat Islam Indonesia pelit? Saya justru melihat pemandangan sebaliknya setiap kali Ramadran tiba.
Lihatlah kampung-kampung kita. Di nagari-nagari Minang, di jorong-jorong terpencil, para perantau mulai mengirimkan uang. “Ini untuk zakat fitrah kami,” kata mereka lewat telepon. “Tolong bagikan ke fakir miskin di kampung.”
Di masjid-masjid kota, takmir sibuk mendata mustahik. Di kantor-kantor, panitia zakat dibentuk. Perusahaan-perusahaan besar seperti Semen Padang telah puluhan tahun mengelola zakat karyawan. Muhammadiyah punya Lazismu, NU punya Lazisnu, Tarbiyah Islamiyah punya Lazis, bahkan PII—organisasi alumni mahasiswa—punya Lazisku.
Puluhan ribu lembaga amil tersebar di 74.093 desa di Indonesia. Di tiap desa, bisa jadi lebih dari satu lembaga. Belum lagi yang dikelola keluarga, langsung diberikan kepada tetangga yang membutuhkan.
Jadi, ketika ada yang bilang potensi Rp327 triliun belum tergarap maksimal, sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar. Umat telah menjalankannya. Hanya saja, tidak semua melalui Baznas.
Dan tahun ini, 2026, dunia sedang tidak baik-baik saja.
Perang Israel-Amerika melawan Iran mengguncang ekonomi global. Harga-harga naik. Nilai tukar rupiah tertekan. Di kampung-kampung, para perantau mulai mengeluh: “Dagangan sepi, Bu. Tahun ini mungkin fitrahnya pas-pasan.”
Tapi justru di sinilah letak keistimewaan ajaran kita. Dalam QS Ali Imran: 133–134, Allah memuji orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit. Lapang bersyukur, sempit tetap berbagi. Itulah takwa.
Baznas Sumbar untuk tahun ini menetapkan zakat fitrah Rp50.000 per jiwa untuk beras premium, atau setara 2,5-3,5 kg beras. Fidyah berkisar Rp23.000 hingga Rp45.000 per hari. Angka yang mungkin membuat sebagian orang berpikir ulang, tapi bagi yang lain, tetap dijalankan dengan ikhlas.
Saya teringat seorang nenek di kampung halaman. Setiap Ramadhan, meski hanya punya uang pas-pasan, ia selalu menyisihkan beras terbaiknya untuk zakat fitrahnya. “Yang penting niat,” katanya. “Allah yang akan melipatgandakan.”
Idul Fitri kali ini mungkin akan berbeda. Di tengah kabar perang dan resesi, kita tetap akan bersujud di lapangan-lapangan, berpelukan dengan tetangga, dan menyantap ketupat sayur di rumah mertua.
Tapi di balik semua itu, ada sebuah peradaban yang sedang dibangun. Peradaban berbagi yang tak lekang oleh waktu. Peradaban yang membuat Indonesia—dengan segala potensi Rp327 triliun-nya—bisa menjadi contoh dunia tentang bagaimana agama melahirkan kedermawanan.
Maka, saat bedug Magrib berkumandang di penghujung Ramadhan ini, mari kita lupakan perbedaan. Campakkan pertikaian. Rajut selalu kebersamaan .
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA. Pembelajar Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005
