kumplus- Opini Shofwan Al Banna

Mutually Assured Destruction yang Terlupakan: Perubahan Iklim

Shofwan Al Banna Choiruzzad adalah dosen di Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
6 April 2022 13:34
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Setelah sempat lama jarang dibicarakan, istilah Mutually Assured Destruction (MAD) kembali sering disebut-sebut dalam perdebatan. Konsep yang sering diterjemahkan sebagai “Kehancuran Timbal Balik yang Pasti” ini merupakan konsep yang populer pada masa Perang Dingin dan pada tahun-tahun awal pascakeruntuhan Uni Soviet. Kini, bayang-bayangnya muncul kembali seiring dengan invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina, menghadirkan dilema yang membuat intervensi kekuatan-kekuatan Barat lebih terbatas.
Sebagai contoh, untuk mendukung sikap NATO menolak Zona Larangan Terbang yang diminta oleh Zelensky, Brian Finucane dan Olga Oliker mengutip sebuah simulasi dari Universitas Princeton yang menyebutkan bahwa sebuah serangan nuklir oleh Moskow untuk peringatan akan memicu perang nuklir berskala penuh dengan jumlah korban mencapai 90 juta jiwa. Tentu saja ini adalah simulasi yang dibuat dengan asumsi-asumsi tertentu yang belum tentu sama dengan dunia nyata, namun hal ini sekaligus menunjukkan betapa gagasan MAD masih menempati benak akademisi maupun pembuat kebijakan.
Kekuatan gagasan MAD terletak pada kelugasannya: keberadaan persenjataan nuklir membuat politik internasional menjadi lebih stabil karena daya hancurnya yang terlalu besar. Saking dahsyatnya, jika dua negara yang memiliki nuklir terlibat konflik, keduanya akan menjadikan persenjataan nuklir tersebut sebagai pencipta daya cegah (deterrent) namun tidak akan menggunakannya. Mengapa? Karena jika salah satu bertindak tidak rasional dengan menggunakannya, kedua pihak pasti sama-sama hancur karena karena kekuatan nuklir lainnya juga akan membalas.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Perang Rusia-Ukraina membuat upaya transisi energi menjadi tersendat. Padahal, tanpa perang ini pun, transisi bahan bakar fosil yang jumlahnya 80% itu bukan perkara mudah. Kolom Shofwan Al Banna, dosen Hub. Internasional UI, setiap Rabu.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten