Konten dari Pengguna

Kontekstualisasi Sosiologi melalui Fiksi Pamali 2023

Shubuha Pilar Naredia

Shubuha Pilar Naredia

Sosiologi FISIP UNS Praktisi Mentari Sehat Indonesia

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shubuha Pilar Naredia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kontekstualisasi adalah usaha menempatkan sesuatu dalam konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan menyatu dengan keseluruhan seperti benang dalam tekstil. Dalam hal ini tidak hanya tradisi kebudayaan yang menentukan, tetapi situasi dan kondisi sosial pun turut berbicara. Memahami Sosiologi secara kontekstual artinya menempatkan atau mengkaji konsep-konsep dasar sosiologi pada berbagai kondisi, baik dalam realitas bahkan dapat pula melihatnya dari sisi imajinasi untuk mengkonstruksi perilaku masyarakat atau lebih dikenal dengan perencanaan sosial. Dilansir dari cognite.com, kontekstualisasi adalah proses mengidentifikasi dan merepresentasikan hubungan antar data untuk mencerminkan hubungan yang ada antar elemen data di dunia. Pertanyaan yang menarik adalah apakah mungkin melakukan pembelajaran kontekstualisasi atas sosiologi melalui media fiksi seperti film misalnya? Nampaknya menarik jika hal tersebut dilakukan. Sebut saja misal pada Film Pamali: Dusun Pocong, sebagai film fiksi dengan genre horor apakah memungkinkan di dalamnya dapat diidentifikasi pembelajaran kontekstualisasi atas sosiologi? Mari sejenak kita ulas.

Film “Pamali : Dusun Pocong” yang rilis pada tahun 2023 menceritakan sebuah desa terpencil yang jauh dari kota, desa tersebut terkena wabah penyakit yang tidak diketahui apa penyebabnya. Hampir seluruh warga desa terkena wabah penyakit itu, tetapi karena di desa tidak ada tenaga kesehatan, hal itu menyebabkan wabah penyakit itu menjadi semakin tidak bisa ditangani dan setiap harinya ada yang meninggal karena wabah penyakit ini. Kemudian didatangkanlah dua orang penggali kubur yaitu Cecep dan Deden karena Mang Ujang penggali kubur desa tersebut juga terkena wabah penyakit sehingga tidak bisa menguburkan mayat yang sudah dua hari belum dikubur. Tenaga kesehatan dari Kecamatan Cikahurip juga mendatangkan tim tenaga kesehatan yaitu Gendis, Mila, dan Puput untuk merawat dan menyembuhkan warga desa yang terkena wabah penyakit. Mereka datang bersama-sama ke desa tersebut dengan diantarkan oleh Mang Yusuf menggunakan perahu karena harus melewati danau dan hutan untuk sampai ke desa. Setibanya mereka di sana, mereka menemukan kejanggalan-kejanggalan yang ada di desa itu salah satunya yaitu pada saat mereka ke tempat penyimpanan mayat yang belum dimakamkan, Puput merasa kalau di antara mayat-mayat tersebut ada yang belum meninggal. Kemudian pada saat tim tenaga kesehatan tiba di rumah yang akan mereka singgahi, Puput melihat ada payung hitam yang dibiarkan terbuka di dalam rumah, yang membuat Puput merasa keheranan dan menutup payung itu. 

Adegan dalam film Pamali: Dusun Pocong, Sumber: pilar.id/Retno Wulandari
zoom-in-whitePerbesar
Adegan dalam film Pamali: Dusun Pocong, Sumber: pilar.id/Retno Wulandari

Cecep dan Deden tiba di rumah yang akan mereka singgahi yang terletak persis di kuburan desa itu. Deden pada saat itu berkata sesuatu hal yang tidak sopan (sompral) yang kemudian ditegur oleh Cecep untuk tidak berkata sembarangan ketika berada di suatu desa yang belum pernah mereka kunjungi. Ketika Cecep sedang melihat-lihat isi rumah itu, terdapat buku “Tata Cara Penguburan Jenazah” tetapi Cecep tidak peduli dengan isi yang ada di dalam buku itu dan  berkata kalau ia sudah tau bagaimana cara untuk mengubur jenazah. Padahal di desa tersebut mempunyai tata cara penguburan jenazah yang berbeda dengan penguburan biasanya. Keesokan harinya, Gendis, Mila dan Puput sebagai tim tenaga kesehatan sudah mulai merawat dan mengecek keadaan warga desa yang terkena wabah penyakit. Penggali kubur yaitu Cecep dan Deden juga sudah mulai menguburkan mayat yang sudah meninggal beberapa hari yang lalu.

Beberapa hari mereka lalui di desa tersebut, tim tenaga kesehatan mulai kehabisan perlengkapan hingga obat-obatan. Gendis meminta tolong kepada Cecep untuk menghubungi Mang Yusuf untuk membawakan perlengkapan dan obat-obatan tetapi Cecep sulit untuk mencari sinyal di dalam desa tersebut sehingga tidak dapat menghubungi Mang Yusuf yang mengakibatkan keadaan di desa tersebut semakin tak terkendali. Eneng yaitu salah satu warga desa tersebut meminta tim tenaga kesehatan untuk datang ke rumahnya karena Ibu Eneng terkena wabah penyakit dan tidak mau dibawa ke tempat dimana tim tenaga kesehatan mengobati warga desa yang terkena wabah penyakit. Namun, Gendis menolak permintaan Eneng karena tim tenaga kesehatan sendiri kewalahan untuk merawat banyaknya warga desa yang terkena wabah penyakit. Tetapi, mila merasa kasihan kepada Eneng, sehingga Mila diam-diam pergi ke rumah Eneng tanpa sepengetahuan teman-temannya yaitu Gendis, Puput, Cecep dan Deden untuk memeriksa kondisi Ibu Eneng. 

Ketika Mila berangkat menuju rumah Eneng, Mila ingin buang air kecil yang kemudian Eneng mengantarkannya ke rumah temannya yang sudah meninggal yaitu Sari. Ketika Mila sedang buang air kecil, Eneng tiba-tiba melihat ada Sari yang sedang tertawa sambil berlari. Eneng kemudian menghampirinya dan ternyata yang berlari bukan Sari. Lalu Eneng ketakutan dan bersembunyi di bawah meja. Setelah Mila selesai buang air kecil, Mila mencari keberadaan Eneng yang ternyata sedang menangis sambil berjongkok. Ketika Mila ingin mendekati Eneng, ternyata yang semula Eneng berubah wujud menjadi hantu perempuan. Setelah sampai di rumah Eneng, Mila diminta untuk duduk terlebih dahulu. Ketika Mila sedang duduk, disitu Mila melihat seorang perempuan yang memakai kebaya sambil menyisir rambutnya di kamar depan. Eneng datang menghampiri Mila dan memintanya untuk masuk ke kamar Ibu Eneng, Mila merasa kebingungan karena yang Mila kira sebelumnya adalah Ibu Eneng tetapi malah bukan. Di kamar Ibu Eneng, Mila menyarankannya untuk datang ke tempat dimana para warga yang terkena wabah penyakit dirawat. Namun Ibu Eneng masih tidak mau dibawa kesana dan berkata jika nantinya ia meninggal, ia ingin dikuburkan satu liang dengan Bapak Eneng. 

Mila berpamitan untuk kembali ke desa lagi, Eneng menawarkan untuk mengantarkan Mila tetapi Mila tidak mau. Ketika berada di luar rumah Eneng, tiba-tiba Eneng bersiul. Mila menegur Eneng karena bersiul di tengah malam itu pamali. Kemudian Eneng menjelaskan apa arti siulan menurut di desa tersebut. Arti siulan di desa tersebut itu merupakan suatu penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia. Mila mengerti dan ia segera bergegas untuk kembali ke desa. Ketika melewati hutan, Mila tersesat dan terus bolak balik di tempat yang sama. Mila panik dan ia melihat banyak pocong di hutan, Mila berlari sampai kemudian ia terjatuh dan ia dikelilingi oleh para pocong. Di malam hari, ketika Gendis, Puput, Cecep dan Deden sedang berkumpul untuk mendiskusikan masalah terkait tidak ada sinyal untuk menghubungi Mang Yusuf. Gendis menyadari bahwa Mila sedari tadi tidak ada bersama mereka. Gendis marah dan panik, ia ingin mencari Mila sendirian tetapi terlalu berbahaya. Deden menyarankan untuk mencari Mila bersama dan Puput sendiri diminta untuk menjaga para warga yang sakit. Setelah mereka pergi, Puput mendengar suara gedor-gedor dari luar. Ia pun segera keluar untuk melihat ke sekitar tempat para warga dirawat, tetapi tidak ada apa-apa. Kemudian ia menuju ke tempat dimana para mayat yang belum dikubur disimpan. Puput mengecek satu persatu para mayat tersebut sampai akhirnya lampu padam dan Puput melihat ada banyak pocong disitu. Puput kabur dari tempat itu tetapi ia diseret sampai tangannya putus dan puput dinyatakan meninggal di situ. 

Adegan teror dalam Film Pamali: Dusun Pocong, Sumber: Khairunnisa Zenfin/jatimnow.com

Keadaan menjadi semakin tidak kondusif di desa tersebut setelah kejadian Puput yang meninggal. Gendis yang keras kepala ingin segera pergi dari desa itu. Tetapi Mila masih memikirkan bagaimana nasib warga desa, kemudian terjadilah kontroversi antara keduanya. Gendis akhirnya tetap meninggalkan desa tersebut sendirian. Mila, Eneng, Cecep dan Deden memikirkan cara untuk keluar dari desa tersebut dengan mengajak warga desa yang masih belum terkena penyakit untuk keluar tetapi tidak ada yang mau keluar dari desa itu. Deden segera menghubungi Mang Yusuf untuk segera menjemput mereka tetapi hanya ada sinyal di atas sumur. Deden kemudian naik ke atas sumur, ketika panggilannya tersambung hpnya malah jatuh ke dalam sumur. Ketika Deden ingin mengambil hpnya ke dalam sumur, ia malah ditarik oleh hantu di sumur itu dan Deden meninggal di dalam sumur. Setelah banyak kejadian yang terjadi di desa itu, akhirnya Mila, Cecep, dan Eneng pergi meninggalkan desa. Tetapi pada saat melewati hutan, mereka terus diteror oleh para pocong. Kemudian Cecep ditarik oleh para pocong dan terjatuh ke dalam lubang. Ketika mereka sedang menarik Cecep dari lubang Cecep mengatakan kepada eneng untuk membaca kan mantra yang ada di belakang buku tata cara penguburan tersebut. Lalu eneng bergegas lari untuk mengambil buku yang terlempar ke tanah. Setelah eneng mengambil buku itu eneng langsung membaca mantranya dan betul saja ketika eneng sudah membacakan mantra tersebut pocong yang menarik Cecep menghilang.

Ilustrasi Buku Mantra, Foto: id.pngtree.com

Berdasarkan cerita film di atas maka dapat dianalisis bahwa film tersebut mengandung empat pokok kontekstual sudut pandang sosiologi. Dilansir dari kompas.com, Vanya Karunia Mulia Putri menerangkan bahwa terdapat empat pokok bahasan sosiologi yaitu: Fakta sosial, Tindakan sosial, Realitas sosial, dan Imajinasi sosiologis. Adapun ulasan sederhananya yang dapat diidentifikasi pada film fiksi Pamali: Dusun Pocong 2023 di atas yaitu nampak pada cerita dimana terdapat sebua desa dengan wabah penyakit yang mengakibatkan masyarakatnya banyak yang sakit hingga meninggal. Masyarakat di desa itu juga mempunyai kebiasaan bersiul Tengah malam untuk menghormati orang-orang yang sudah meninggal.  Inilah yang dapat dipandang sebagai Realitas Sosial karena itu merupakan kenyataan yang terjadi di suatu wilayah tertentu. Film ini juga menampilkan praktik adat seperti tata cara penguburan di desa itu berbeda pada umumnya, ini merupakan Fakta Sosial karena dipandang sebagai kebenaran yang diyakini oleh masyarakat yang dianggap benar tanpa merasakan paksaan serta menjadi sistem di luar kendali individu itu sendiri. Hal lain juga nampak pada momen membuka  payung dalam rumah yang dianggap dapat menghindarkan dari hal-hal buruk, bersiul malam hari untuk menghormati orang-orang yang sudah meninggal, serta tata cara penggalian kubur yang  menjadi adat tersendiri bagi masyarakat di desa tersebut, semua itu merupakan tindakan sosial yang ditujukan untuk menata atau mengendalikan perilaku di masyarakat dimana tindakan tersebut merupakan segala bentuk tindakan yang dilakukan individu yang dapat mempengaruhi individu lain. Lebih lanjut, pada film ini juga merepresentasikan sebuah imajinasi sosial yang direpresentasikan dengan kedatangan tim nakes untuk menyembuhkan suatu kelompok masyarakat yang terkena wabah dimana hal tersebut menjadikan warga masyarakat memiliki keinginan dan harapan.

Berdasar ulasan singkat film "Pamali: Dusun Pocong" di atas maka dapat ditemu-kenali kami berbagai aspek utama sosiologi diantaranya, realitas sosial, fakta sosial, tindakan sosial, imajinasi sosial. Keberadaan kelompok serta bentuk lainnya seperti sosialisasi, interaksi sosial, kelompok sosial, tatanan sosial, pengendalian sosial, institusi dan lembaga sosial menjadi hal pendukung lain dalam meniliknya dari aspek sosiologis. Film "Pamali: Dusun Pocong" menyuguhkan pandangan sosiologis mengenai budaya, kepercayaan, dan kulturalitas masyarakat Indonesia. Melalui representasi sosialnya terhadap keberadaan pocong, film tersebut menggambarkan bagaimana tradisi (adat) dan kepercayaan budaya dapat mempengaruhi perilaku, pandangan, dan tindakan sosial masyarakat. Film Pamali juga memperlihatkan bagaimana norma-norma sosial, nilai-nilai, dan kepercayaan lokal dapat memainkan peran yang penting dalam membentuk identitas individu dan berpengaruh pada interaksi sosial di masyarakat. Pesan yang dapat diambil dari film ini adalah sebaiknya sebelum melakukan tindakan apapun, penting untuk mengetahui dan mempelajari adat dan kebiasaan di suatu daerah untuk terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti konflik ataupun gesekan-gesekan sosial lainnya. Hal ini sangat disarankan karena setiap daerah memiliki adat yang berbeda-beda. Dengan begitu, melalui pemahaman semacam itu dapat meningkatkan pemahaman serta wawasan terkait aspek-aspek sosial yang ada dalam masyarakat.