Dream Theater dan Bayang-bayang Memori

Sidik Nugroho
Saat ini bekerja freelance sebagai penulis, editor, dan ghostwriter. Lulusan Universitas Negeri Malang, pernah mengajar sebagai guru di SD Pembangunan Jaya, Sidoarjo.
Konten dari Pengguna
19 Maret 2023 10:48 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sidik Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penampilan grup musik Dream Theater saat tampil pada konser "Top Of The World Tour" di Halaman Parkir Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (10/8/2022).  Foto: ANTARA FOTO/Nicolous Irawan/SOLOPOS/POOL
zoom-in-whitePerbesar
Penampilan grup musik Dream Theater saat tampil pada konser "Top Of The World Tour" di Halaman Parkir Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (10/8/2022). Foto: ANTARA FOTO/Nicolous Irawan/SOLOPOS/POOL
ADVERTISEMENT
Lagu pertama yang menjadi prolog di album ini diawali dengan suara mirip detik jam dinding. Lalu desah napas. Lalu masuklah suara merdu seorang penyanyi perempuan. Lalu suara kibor yang hening. Kemudian, suara gitar akustik, diiringi sebuah nyanyian yang lembut. “Regression”, prolog ini, yang merupakan nukilan dari lagu “The Spirit Carries On” (dengan sedikit pengubahan lirik), diciptakan oleh John Petrucci, gitaris Dream Theater.
ADVERTISEMENT
Beberapa kali saya membaca dan mendengar kalau John Petrucci adalah gitaris kurang ekspresif dan cuek. Bahkan bukan hanya Petrucci, gaya bermain para personel Dream Theater dianggap seperti robot--kaku. Bila Anda pernah menyimak video instruksional permainan gitar John Petrucci bertajuk Rock Discipline, apa yang saya baca dan dengar itu memang ada benarnya: John Petrucci memang kalem dan tak menggebu-gebu saat berbicara.
Namun, album Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory ini tampaknya menyuguhkan sesuatu yang kontras dengan kekaleman Petrucci. Petrucci--tentunya dengan kebersamaan di dalam Dream Theater--menyusun skenario album yang matang, sekaligus memadukan musik berirama cadas dan lembut dengan penuh gejolak dan transisi.
Saya menyebut adanya skenario yang matang dalam album ini karena ada jalinan kisah yang amat tragis dan pedih dalam lirik-lirik lagu non instrumental dalam album ini. Petrucci sebagai penggagas album ini menciptakan paling banyak lirik untuk lagu di album ini. Dari 12 lagu (tidak termasuk 2 lagu instrumental), Petrucci menciptakan lima lirik lagu, Mike Portnoy tiga lirik, sementara James LaBrie dan John Myung masing-masing satu lirik.
ADVERTISEMENT

Kisah Tragis Asmara Victoria

Dream Theater Foto: Munady Widjaja
Saya kurang tahu, apakah ada musisi atau grup band yang pernah menjadikan album mereka seperti yang dilakukan Dream Theater di sini. Dari lagu pertama hingga terakhir, ada benang merah berupa jalinan kisah cinta yang berakhir sangat pedih. Victoria, salah satu tokoh dalam album ini, mati karena cinta segitiga.
Steve Vai, lewat album Real Illusions: Reflections pernah melakukan hal yang mirip dengan menghadirkan tokoh utama bernama Captain Drake Mason. Ia membangun narasi bagi tiap lagu (yang mayoritas instrumental) yang diciptakannya. Namun, kesinambungan kisah antar lagu tak seperti yang dilakukan Dream Theater, kurang runut. Lagipula, ada beberapa lagu Vai yang direkam secara live di album ini, sementara Dream Theater merekam semua lagunya di studio.
ADVERTISEMENT
Victoria Page (fiktif) yang meninggal di tahun 1928 adalah seorang gadis yang memiliki mata yang indah. Penggambaran ini ada di dalam lagu “Through Her Eyes”: “In loving memory of our child, so innocent, eyes open wide.” Victoria menjalin kisah cinta segitiga dengan Julian Baynes (The Sleeper) dan saudaranya, Senator Edward Baynes (The Miracle).
Keterangan Gambar: lustrasi/artistik seorang pria yang merenung. Sumber: Pixabay.com
Di waktu yang lain, di tahun 1999, hiduplah seorang pemuda bernama Nicholas. Ia mengalami gangguan kejiwaan, merasa pikirannya dibayang-bayangi oleh Victoria. Ia pergi ke seorang hipnoterapis untuk menghalau kegalauan batinnya. Di sana ia menjalani sebuah proses regression therapy untuk “bertemu” Victoria. Lagu pertama pun dinyanyikan, berjudul “Regression”. Nicholas masuk ke masa lalu: “My subconscious mind, starts spinning through time, to rejoin the past once again... Hello Victoria, so glad to see you my friend.”
ADVERTISEMENT
Dalam lagu-lagu berikutnya dikisahkan kalau Nicholas mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Victoria. Lewat imajinasi yang muncul dari alam bawah sadarnya, cerita seorang pria tua yang tidak dikenal, dan berita di koran tahun 1928, ia mendapati Victoria telah dibunuh secara misterius. Ia bangun dari tidurnya selama beberapa kali.
Bolak-baliknya Nicholas dari masa lalu (1928) ke masa kini (1999) membuat ia merenungkan nasib malang yang menimpa gadis itu sampai ia menyempatkan diri mengunjungi makam Victoria. “Through Her Eyes” adalah lagu dengan latar makam Victoria. Di sana Nicholas merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Victoria dan merasakan kepedihan hatinya. Simaklah penggalan lirik yang mengagumkan ini:
I'm learning all about my life
ADVERTISEMENT
By looking through her eyes
...
And as her image
Wandered through my head
I wept just like a baby
As I lay awake in bed
Lewat lirik-lirik yang terurai berikutnya, dikisahkan bahwa Julian, kekasih pertama Victoria, telah mengalami kecanduan alkohol. Indikasi ini ditemukan dalam lirik lagu “Home”: “Shine... lake of fire, lines take me higher, my mind drips desire, confined and overtired.” Kecanduan ini membuat Victoria meninggalkannya. Kemudian, perselingkuhan pun terjadi. Victoria jatuh dalam pelukan Senator Edward.
Nicholas masih belum dapat menguak misteri kematian Victoria yang rumit. Namun, dari “pengembaraannya” menyusuri kehidupan Victoria, ia mulai menyadari bahwa Victoria hidup dalam dirinya. Kata-kata hipnoterapis pada lagu “Fatal Tragedy” menjadi jelas maknanya: “Remember that death is not the end but only a transition.
ADVERTISEMENT
Lalu, terdengarlah lagu fenomenal dalam album ini, “The Spirit Carries On”, yang menjadi klimaks ekspresi John Petrucci dan Dream Theater menggambarkan pencerahan batin Nicholas. Di lagu ini dengan gamblang dinyatakan bahwa kehidupan manusia tak hanya berakhir saat kematian. Simaklah kata-kata Nicholas berikut ini:
I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I'm not scared anymore
I know that my soul will transcend
Dan, suara Victoria yang telah mati membuat ia selalu hadir dalam benak Nicholas. Inilah kata-kata Victoria itu:
Move on, be brave
Don't weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear
ADVERTISEMENT
Ya, selamanya Victoria akan membayangi pikiran Nicholas. Pada akhirnya, di lagu terakhir, ”Finally Free”, Nicholas mulai menguak tabir kematian Victoria: Senator Edward yang terbakar cemburu membunuh Julian dengan pistol. Saat itu Victoria memekik, dan Senator Edward berkata, “Open your eyes, Victoria!” lalu turut membunuh Victoria.
Di bagian akhir, kita mendengar hipnoterapis menyalakan mesin mobil, berjalan mengenakan sepatu, mendekati Nicholas. Ia mengucapkan kata-kata yang sama, “Open your eyes, Nicholas!”
Dan Nicholas pun menjerit, “Aaah!!!”
Keterangan Gambar: Ilustrasi/artistik seorang pria menodongkan pistol. Sumber: Pixabay.com
Nicholas: Reinkarnasi atau Terapi?
Begitulah, sosok Nicholas di masa kini (1999) yang “menyatu” lewat regression therapy dengan Victoria Page yang tewas di tahun 1928, digambarkan dalam lagu demi lagu dengan lirik yang apik. Di sinilah Dream Theater menunjukkan kepiawaian mereka menyuguhkan kisah yang surealis nan rumit dalam lirik-lirik lagu di album ini.
ADVERTISEMENT
Para pendengar bebas menyusun anggapan dan kesimpulan sendiri: benarkah memang ada orang yang pernah dihantui dengan orang yang sudah meninggal di masa lalu? Apakah Nicholas memang merupakan reinkarnasi dari Victoria; dan hipnoterapis adalah reinkarnasi dari Edward Baynes (mengingat ia mengucapkan kata-kata yang sama dengan Edward Baynes saat membunuh Victoria)? Kita bebas menyusun anggapan itu. Saya juga bertanya-tanya, apakah regression therapy yang dijalani oleh Nicholas memang ada di dalam dunia psikologi?
Jadi, pertama, bagi yang mempercayai reinkarnasi, kisah Nicholas ini lebih tepat dipahami sebagai percakapan dua orang di alam bawah sadar tentang kehidupan dan kematian. Dan kedua, bagi yang tidak mempercayai adanya reinkarnasi, lagu ini hanyalah pengembaraan pikiran Nicholas yang di alam bawah sadarnya lewat sebuah proses terapi, menemui sosok ciptaannya sendiri bernama Victoria yang tewas mengenaskan, dan Victoria memampukannya untuk menghadapi ajal yang bakal menjemputnya. Dan saya lebih cenderung untuk “mempercayai” yang kedua.
ADVERTISEMENT
Satu hal yang saya sayangkan adalah anggapan beberapa orang yang tampaknya “merohanikan” lagu “The Spirit Carries On”. Saya pernah melihat ada sebuah gambar teman yang sedang berdoa, lalu di bawah gambar itu ia tulisi bait ini:
If I die tomorrow
I'd be all right
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on
Ya, walaupun dalam beberapa konsernya lagu ini dinyanyikan dengan choir yang berseragam mirip choir gerejawi, lagu ini bagi saya tak bisa dikategorikan lagu rohani (Kristen). Spiritualitas di lagu ini terkesan lebih imajinatif-universal. Di lagu ini juga ada bagian yang motivatif dan religius secara universal seperti bait berikut:
I may never find all the answers
I may never understand why
ADVERTISEMENT
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

Musikalitas dan Konsistensi Kreativitas

Metallica. Foto: AFP/FRANCOIS GUILLOT
Saya belum banyak belajar tentang sejarah dan perkembangan musik beraliran rock progresif. Musikalitas Dream Theater, menurut banyak kalangan sangat dipengaruhi oleh band-band pencetus aliran ini seperti Yes dan Rush. Namun, saya melihat ada nuansa trash metal mirip Metallica yang juga kental dalam lagu-lagu Dream Theater di album ini. Dibandingkan dengan album mereka sebelumnya, Images and Words dan When Dream and Day Unite, nuansa trash metal lebih kental di sini.
Album ini, yang dirilis di tahun 1999, bertitik tolak dari sebuah lagu di dalam album Images and Words yang rilis tahun 1992. Lagu itu berjudul “Metropolis Pt. 1: The Miracle and the Sleeper”. Saya menemukan kesamaan intro lagu ”The Miracle and the Sleeper dan ”Overture 1928 dan ”Strange Déjà Vu”: intro yang mantap dan menghentak.
ADVERTISEMENT
Hal yang unik dari lagu-lagu Dream Theater di album ini--seperti di album-album lainnya juga--adalah bagaimana mereka konsisten untuk menyuguhkan musik yang “akademis”. Semua personil Dream Theater memiliki catatan akademis musikal yang berbobot. Oleh karena itulah, lagu-lagu mereka agak jarang terkategori easy listening.
Dream Theater selalu tampil idealis--dan bahkan bisa dibilang keras kepala--menyuguhkan musik-musik yang “memaksa” pendengarnya untuk mendengarkan mereka dengan konsentrasi penuh. Selain itu, beberapa lagu mereka juga sering berdurasi panjang. Lagu “Beyond This Life”, “Home”, dan “Finally Free” di album ini semuanya berdurasi di atas sepuluh menit. Syairnya tak terlalu banyak, namun perubahan-perubahan irama dari lambat menuju cepat--atau sebaliknya--mereka lakukan dengan begitu tertata dan mulus.
Keterangan Gambar: Ilustrasi para penonton yang menikmati sebuah acara konser musik. Sumber: Unsplash.com
Sejauh ini, idealisme dan konsistensi para personel Dream Theater telah terbayar dengan popularitas mereka. Popularitas itu pun selalu terjaga dengan kualitas lirik dan lagu yang mereka hasilkan, juga konser-konser yang mereka lakukan. Album ini disebut-sebut sebagai album yang membuat nama mereka berkibar kembali setelah mereka sebelumnya dikenal luas dengan lagu “Pull Me Under” dan “Another Day” yang dimuat dalam album Images and Words tahun 1992. (*)
ADVERTISEMENT
-- Sidik Nugroho; Malang-Sidoarjo, 9-12 Juli 2011
***
Identitas Album Musik:
Judul Album: Metropolis Pt. 2 -- Scenes from a Memory
Musisi: James LaBrie – Vocal | John Petrucci – Gitar | John Myung – Bass | Jordan Rudess – Keyboards | Mike Portnoy – Drums
Rilis: 1999
Produser: Elektra Records