Tinder dan Jebakan Kepalsuan

Saat ini bekerja sebagai penulis, editor, dan ghostwriter. Lulusan Universitas Negeri Malang, pernah mengajar sebagai guru di SD Pembangunan Jaya, Sidoarjo.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Sidik Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hujan deras turun tanpa aba-aba saat aku tiba di Stasiun Yogyakarta. Waktu itu pertengahan Desember 2023. Aku duduk di kursi panjang dekat pintu keluar. Setelah sepuluh menit, yang kutunggu muncul. "Randy!" sapaku.
Ia menoleh ke arahku, menjabat tanganku sambil tersenyum. Kami mengobrol ringan dan riang tentang perjalanan, pekerjaan, dan sedikit nostalgia masa lalu yang samar. Hujan masih turun walaupun tidak terlalu deras. Suasana agak berubah lebih tenang saat Randy menyebut istrinya yang meninggal saat pandemi. Aku ingat peristiwa mengerikan dan mendadak itu.
Aku dan Randy sangat akrab beberapa puluh tahun silam saat kami bersekolah di SD yang sama. Kami terakhir bertemu sekitar lima tahun lalu. Dia masih saudara jauhku. Umurnya lebih muda empat tahun dariku. Malam itu aku akan mengantarkannya ke hotel di mana keluarga besar kami akan mengadakan acara resepsi pernikahan salah satu saudara jauh kami.
"Kamu sendiri bagaimana, Mas," katanya dengan nada menyelidik, "sudah punya calon?"
Aku menggeleng dan tersenyum. "Belum, Ran!"
Wajahnya tampak tak percaya melihat jawaban dan ekspresiku. "Cari dong, Mas. Kan sekarang zaman udah canggih."
"Maksudnya?" Aku tertarik dengan kata "canggih" yang baru saja dia ucapkan.
Randy menggaruk pipinya dengan telunjuk sambil melihat hujan yang masih deras, berdiri, hendak membeli kopi di lapak yang berjarak tidak sampai lima meter dari kami duduk. "Mas juga mau kopi, ya?" katanya sambil berjalan.
"Boleh," kataku pelan.
Setelah membeli kopi, Randy duduk mengeluarkan ponselnya dan menunjuk ikon Tinder yang terpajang di layar. "Kita ngobrol sebagai pria dewasa ya, Mas. Aplikasi ini mempertemukanku dengan beberapa wanita," katanya tampak setengah geli dan setengah lelah. Karena saat itu kami akan mempersiapkan acara pernikahan, topik yang ia pilih pun langsung terasa relevan.
Ia bercerita tentang salah satu pertemuannya. Seorang janda, tiga tahun lebih muda darinya, tinggal di kota yang sama. Mereka menjadi "match", bertukar nomor, dan beberapa hari kemudian bertemu di sebuah kafe kecil di pusat kota. "Orangnya asyik, gampang tertawa. Waktu aku bilang suka film-film lama, dia langsung ngajak nonton. Di pertemuan kedua, kami duduk berdampingan di bioskop nonton film. Rasanya seperti muda lagi."
Beberapa minggu berikutnya, hubungan mereka menghangat. Hampir tiap malam Minggu mereka menghabiskan waktu bersama di hotel melati di tengah kota. "Tapi tahu nggak," Randy menarik napas dalam, "pas aku ketemu anaknya… aku benar-benar stres!"
Anak lelaki itu kelas 4 SD. Wajahnya, kata Randy, mirip betul dengan almarhum ayahnya, mantan suami si janda. "Dan kelakuannya… gila, susah dijelaskan. Suka teriak, melempar barang kalau dimarahi. Aku coba sabar. Tapi tiap pulang dari rumah mereka, aku ngerasa kayak gagal jadi tamu. Apa lagi nanti jadi bapaknya?"
Yang paling membuat Randy ingin mundur justru sang ayah dari si janda, pria tua dengan tatapan curiga dan suara yang selalu meninggi. "Dia ngomong kayak semua orang salah kecuali dia." Randy menghela napas. "Aku tahu dia berharap lebih. Tapi aku nggak bisa lanjut hanya karena nggak enak. Aku tahu aku yang salah."
"Ya gitulah, Ran," kataku pelan. "Kadang cinta bukan soal dua orang saja, kan? Tapi semua yang ada di dalamnya, keluarganya..."
Randy mengangguk-angguk. "Waktu akhirnya kami bicara soal hubungan itu, aku bilang baik-baik kalau aku belum siap jadi ayah sambung, apalagi untuk anak yang nggak bisa kutemui tanpa merasa tertekan." Randy diam sebentar, lalu menambahkan, "Dia nangis. Tapi dia ngerti. Kami pisah tanpa drama, cuma satu pelukan panjang di parkiran hotel tempat kami terakhir bertemu. Aku tetap merasa bersalah. Tapi lebih buruk lagi kalau aku pura-pura kuat demi sesuatu yang aku tahu akan runtuh juga."
Setelah hening sebentar, Randy kupancing. Ia melanjutkan cerita, kali ini tentang wanita kedua.
"Anggap saja namanya Putri," katanya, lalu tertawa kecil. "Wajahnya manis, agak mirip Marissa Haque zaman muda. Umurnya 26, beda hampir 14 tahun denganku, tinggal di kota tetangga, sekitar 40 kilo dari tempatku."
"Wah, Marissa Haque! Idolaku itu, Ran!" kataku.
Randy tertawa, melanjutkan cerita bahwa Putri akuntan di sebuah perusahaan rokok, aktif di media sosial, dan suka mengunjungi tempat-tempat estetik yang cocok difoto, yang instagrammable. Di pertemuan pertama, Putri tampak begitu tertarik pada kisah hidupnya. "Dia bilang aku kuat, dewasa, dan punya pandangan hidup yang unik."
Pertemuan pertama mereka berlangsung hangat. Di pertemuan kedua, suasana tetap menyenangkan. Tapi menjelang rencana pertemuan ketiga, segalanya berubah. Putri mulai susah dihubungi. WA dibaca tapi tak dibalas. Telepon dibiarkan tak diangkat. Saat membalas pun hanya dengan singkat, seringnya berhari-hari kemudian. Tapi ironisnya, Instagram-nya sering memuat story tentang "effort", tentang "kalau cinta ya diperjuangkan," atau "jangan cuma manis di awal."
"Aku jadi mikir, apa aku kurang effort?" Randy mengangkat alis. "Padahal tiap ketemu aku yang nyetir jauh-jauh, makan selalu aku yang bayar. Aku nggak ngeluh. Tapi apa harus juga WA tiap jam, nelpon terus-terusan biar dianggap peduli?"
"Mungkin dia menulis itu untuk pria lain?" tanyaku.
Randy mengacungkan telunjuk. "Aku juga mikir gitu!" Karena lelah dan merasa seperti mengejar bayangan, Randy memutuskan untuk berhenti menghubungi. Sekitar dua minggu setelah batalnya pertemuan ketiga, Putri mengiriminya pesan singkat: 'Kabar kamu gimana?' Randy tersenyum. "Aku balas tiga hari kemudian. Kupikir, supaya fair gitu. Dia balas lama, aku balas lama. Tapi tahu nggak, Mas, pesan itu hanya centang satu! Aku segera sadar aku sudah diblokir. WA sama Instagram-ku diblokir!" Randy tertawa agak keras, tapi terlihat sedih. "Kadang aku heran, apa anak-anak muda itu nyari cinta atau cuma butuh validasi, ya? Supaya merasa penting, diperjuangkan, atau apalah?"
Aku mengangkat pundak, hanya bisa tersenyum kecut. Di stasiun yang perlahan mulai lengang, cerita Randy terasa seperti potongan dari dunia kencan yang semakin asing bagiku. Dunia yang tak lagi sederhana. Aku beberapa kali mendengar, banyak wanita muda yang jadi makin egois karena pengaruh media sosial; begitu juga pria-pria muda. Tuntutan mereka atas orang lain terlalu tinggi, sementara mereka sendiri masih menapak bumi. Bayangan mereka tentang sosok kekasih, asmara, dan romantika dipengaruhi oleh imajinasi serba sempurna yang muncul dari media sosial.
Hari sudah mulai malam, Randy menatap ke arah peron yang mulai sepi. Namun, aku masih tertarik mendengar cerita-ceritanya. Aku pun bertanya, "Ada pengalaman lain? Nggak buru-buru, kan?"
"Sebenarnya ada beberapa. Tapi ada satu yang… bisa kusebut paling absurd. Tinggalnya di beda provinsi. Kami ngobrol di Tinder, dia banyak unggah foto yang… ya, cukup menggoda. Aduhai deh pokoknya. Bikin aku penasaran."
Wanita itu mau diajak bertemu. Randy, yang masih percaya mungkin saja jodoh datang dari jauh, akhirnya memesan tiket bus, menuju kota si wanita aduhai selama 5 jam. "Sampai terminal di sana jam empat sore. Dari sana masih harus naik ojek online setengah jam ke restoran yang dia pilih. Dan, di resto itu masih aja aku nungguin dia satu jam. Padahal kami udah sepakat dari jauh-jauh hari soal waktunya."
Saat wanita itu akhirnya datang, Randy tertegun. Bukan karena kecantikannya---yang memang aduhai---melainkan karena ia datang dengan dua temannya. "Aku kaget, tapi coba santai. Kupikir ya... mungkin dia agak gugup. Tapi ternyata malah mereka bertiga yang asyik bercanda sendiri, kayak aku nggak ada di situ." Malam itu Randy yang membayar semua makanan dan minuman. "Aku cuma pengen malam itu cepat selesai."
Seminggu setelahnya, wanita itu menghubunginya kembali. Randy membalas. Awalnya sekadar menanyakan kabar, lalu menyusul pesan lain, meminta pinjaman uang cukup besar untuk bayar kos. "Aku baca pesannya, terus taruh HP. Nggak pernah kubalas," kata Randy datar. "Aku bukan mesin ATM keliling."
Ia tertawa kecil, tapi suara tawanya terdengar pahit. "Kadang aku mikir, apa yang sebenarnya mereka cari di aplikasi itu? Koneksi? Hiburan? Atau… hanya seseorang untuk dijadikan cadangan ketika hidup sedang membosankan?"
Aku tidak lekas menjawab. "Jadi, dengan semua pengalaman itu, kamu masih terus mencoba, nggak kapok?" tanyaku.
"Sejujurnya, aku menunjukkan aplikasi ke Mas ini karena besok juga mau ketemu teman Tinder-ku yang lain di kota ini. Mumpung di sini, sekalian ketemu. Ya... bagaimanapun, tetap perlu dicoba, Mas. Kurasa Mas juga perlu mencoba."
Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sambil tersenyum. Aku bukan seorang duda yang pernah menikah, tidak pantas banyak menilai. Aku hendak balik bertanya kepadanya: apakah yang benar-benar dicari Randy? Kepuasan sesaat? Hubungan jangka panjang? Untuk hubungan jangka panjang, aku masih belum yakin ia benar-benar membutuhkannya. Aku mau menanyakannya tapi menahan diri. Aku bangga dengan semangat dan kejujurannya; tapi kasihan bila dia bertemu orang yang keliru, atau justru ia yang melakukan kekeliruan dari hubungan-hubungan yang rawan diselimuti kepalsuan itu.
Sudah hampir jam sepuluh malam. Hujan sudah berhenti, kami melangkah menuju tempat parkir.
---Yogyakarta, 2 Januari 2024
(Catatan: Tulisan ini dibuat setelah minta izin kepada Randy---bukan nama sebenarnya.)
