Ekspresi Gender di Media: Mengapa Masih Sering Dipersoalkan?
Tulisan dari Nachika siffa azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media memiliki peran besar dalam membentuk cara masyarakat memahami identitas dan ekspresi gender. Melalui tayangan televisi, film, iklan, hingga media sosial, publik terus disuguhi gambaran tentang bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan tampil, bersikap, dan berperan. Namun, ketika ekspresi gender yang ditampilkan tidak sesuai dengan standar sosial yang mapan, respons yang muncul kerap berupa kritik, penolakan, bahkan stigma.
Ekspresi gender sejatinya adalah cara individu mengekspresikan dirinya, baik melalui penampilan, gestur, maupun pilihan peran sosial. Maskulin dan feminin bukanlah kategori yang kaku, melainkan spektrum yang dapat berbeda pada setiap individu. Sayangnya, media sering kali merepresentasikan gender secara terbatas, sehingga ekspresi di luar norma dianggap menyimpang atau kontroversial.
Dalam banyak pemberitaan dan konten hiburan, laki-laki yang tampil feminin atau perempuan yang berpenampilan maskulin masih sering dijadikan bahan sensasi. Alih-alih diposisikan sebagai bentuk keberagaman ekspresi, mereka kerap dilabeli secara stereotipikal atau dijadikan objek hiburan. Praktik ini memperkuat anggapan bahwa ada cara “benar” dan “salah” dalam mengekspresikan gender.
Media sosial memperparah sekaligus membuka ruang baru dalam isu ini. Di satu sisi, platform digital memberi ruang bagi individu untuk menampilkan identitasnya secara lebih bebas. Namun di sisi lain, ekspresi gender yang berbeda juga lebih mudah menjadi sasaran komentar negatif, perundungan, dan penilaian moral. Fenomena ini menunjukkan bahwa penerimaan terhadap keberagaman gender masih belum sepenuhnya tumbuh di masyarakat.
Persoalan ini tidak lepas dari konstruksi sosial yang telah lama tertanam. Sejak kecil, individu diajarkan standar tertentu tentang bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya bersikap. Media kemudian mereproduksi standar tersebut secara terus-menerus, hingga perbedaan dianggap sebagai ancaman terhadap norma. Akibatnya, ekspresi gender yang beragam sulit diterima secara utuh.
Padahal, representasi yang lebih inklusif di media dapat membantu mengurangi stigma dan memperluas pemahaman publik. Ketika media mampu menampilkan ekspresi gender secara manusiawi dan tidak bias, masyarakat akan lebih terbuka terhadap perbedaan. Media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial.
Mempertanyakan ekspresi gender seharusnya tidak berujung pada penghakiman. Yang perlu dikritisi justru bagaimana media membingkai perbedaan tersebut. Selama media masih mempertahankan standar gender yang sempit, persoalan serupa akan terus berulang.
Pada akhirnya, perdebatan tentang ekspresi gender di media mencerminkan proses sosial yang masih berjalan. Penerimaan tidak terjadi secara instan, tetapi dapat dibangun melalui representasi yang adil, sensitif, dan bertanggung jawab. Media memiliki kesempatan besar untuk berkontribusi dalam menciptakan ruang publik yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman.

