Dari Smartwatch hingga Mobil Listrik Smart Student Ajak Pelajar Desa Nagarawangi

Mahasiswa Jurnalistik di Bandung
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sifa Nurfauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar membaca, menulis, dan menghitung tidak selalu harus berlangsung di antara halaman buku. Di SDN Citungku, Desa Nagarawangi, pelajar diperkenalkan pada cara belajar yang memanfaatkan teknologi melalui smartwatch. Di jenjang yang lebih tinggi, siswa SMPN 1 Rancakalong diajak memahami listrik dan energi surya lewat mobil listrik serta kipas angin hasil praktik mahasiswa.
Rangkaian pembelajaran tersebut menjadi bagian dari program kerja Smart Student yang dilaksanakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 5 dan 6 Universitas Islam Nusantara (UNINUS) pada 10–14 Agustus 2026. Program ini menyasar pelajar lintas jenjang dengan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok usia.
Smart Student tidak dirancang sekadar sebagai kegiatan penyampaian materi. Dalam rancangan programnya, kegiatan ini membawa sejumlah tujuan, mulai dari meningkatkan motivasi belajar, mengenalkan strategi belajar efektif, mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis, hingga memperkuat kecakapan literasi digital pelajar.
Pendekatan tersebut relevan dengan perkembangan pendidikan di tengah semakin luasnya penggunaan teknologi. Pada Maret 2026, pemerintah menetapkan pedoman pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta kecerdasan artifisial di berbagai jalur pendidikan. Pedoman tersebut menekankan agar teknologi digunakan secara etis, aman, bijak, dan bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan perlindungan anak.
Belajar Dasar dengan Smartwatch
Kegiatan Smart Student dimulai pada 10 Agustus dan kembali dilaksanakan pada 12 Agustus di SDN Citungku. Pada jenjang ini, mahasiswa KKN memusatkan pembelajaran pada kemampuan dasar membaca, menulis, dan menghitung.
Smartwatch digunakan sebagai salah satu media pembelajaran. Kehadiran perangkat tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi siswa dalam mengikuti materi yang selama ini lebih dekat dengan buku dan alat tulis.
Penggunaan teknologi dalam pembelajaran tidak berhenti pada persoalan membuat kegiatan terlihat lebih modern. Teknologi menjadi alat untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih kreatif dan dekat dengan keseharian anak.
Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional yang tengah mendorong digitalisasi pembelajaran. Kemendikdasmen menyebut digitalisasi pembelajaran sebagai bagian dari upaya memperluas akses terhadap pembelajaran bermutu di berbagai wilayah.
Dari Teori Listrik ke Mobil dan Kipas
Pada 11 dan 13 Agustus, giliran siswa SMPN 1 Rancakalong mengikuti Smart Student. Materi pembelajaran bergeser dari kemampuan dasar menuju pengenalan listrik dan energi surya.
Mahasiswa KKN menggunakan metode yang sederhana. Materi disampaikan melalui presentasi singkat sebelum siswa diajak melihat dan mencoba alat secara langsung.
Dua media pembelajaran menjadi perhatian siswa, yakni mobil listrik dan kipas angin listrik. Keduanya dibuat oleh mahasiswa KKN dari kelompok yang sama, Muhammad Zaidan, mahasiswa dari jurusan Teknik Elektro.
Metode praktik membuat materi listrik tidak berhenti pada istilah dan penjelasan di depan layar. Siswa dapat melihat hubungan antara konsep yang disampaikan dengan benda yang bekerja di hadapan mereka.
Pola tersebut sejalan dengan rancangan Smart Student yang memang menggunakan kombinasi penyampaian materi interaktif, permainan edukatif, diskusi, simulasi, dan praktik langsung.
Pembelajaran energi juga menjadi penting ketika teknologi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Siswa tidak hanya diperkenalkan pada listrik sebagai konsep, tetapi juga diajak melihat bagaimana energi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan.
Ketika Belajar Mulai Berbicara tentang Cita-Cita
Rangkaian Smart Student ditutup pada 14 Agustus melalui kegiatan bersama pelajar jenjang SMA. Metode yang digunakan masih menggabungkan presentasi singkat dengan praktik langsung.
Ada satu bagian yang membedakannya dari kegiatan pada jenjang sebelumnya. Mahasiswa KKN membuka ruang diskusi mengenai mimpi dan cita-cita.
Pembicaraan tentang cita-cita membawa pembelajaran keluar dari persoalan materi pelajaran. Siswa diajak melihat hubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan masa depan yang ingin mereka bangun.
Cara tersebut sejalan dengan tujuan Smart Student untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, serta kesadaran pelajar dalam menentukan tujuan dan merencanakan masa depan.
Rangkaian kegiatan selama lima hari itu memperlihatkan bahwa kebutuhan belajar siswa tidak selalu sama. Pelajar SD membutuhkan penguatan kemampuan dasar, siswa SMP dapat diperkenalkan pada konsep sains melalui praktik, sedangkan siswa SMA membutuhkan ruang untuk menghubungkan pengetahuan dengan rencana masa depan.
Teknologi Bukan Sekadar Alat
Smart Student menempatkan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai tujuan akhir. Smartwatch digunakan untuk membantu pembelajaran dasar, sedangkan mobil dan kipas listrik menjadi media untuk mengenalkan konsep energi.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital. Kementerian Komunikasi dan Digital pada Juli 2026 menyebut penetrasi internet Indonesia telah mencapai 80,6% dari total populasi. Kondisi itu membuat kemampuan masyarakat untuk menyaring informasi menjadi semakin penting.
Bagi anak dan remaja, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama dengan pendampingan. Komdigi juga mengingatkan bahwa anak tidak cukup hanya diberi akses internet, tetapi membutuhkan pendampingan untuk menghadapi informasi palsu, penipuan digital, hingga manipulasi informasi berbasis kecerdasan artifisial.
Di Desa Nagarawangi, gagasan tersebut diterjemahkan dalam bentuk pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman siswa. Dari smartwatch di tangan siswa SD, mobil listrik di hadapan siswa SMP, hingga percakapan tentang cita-cita bersama siswa SMA, Smart Student mencoba memperlihatkan bahwa belajar dapat hadir dalam banyak bentuk.
Pada akhirnya, pembelajaran bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang dapat diingat siswa. Ia juga tentang bagaimana pengetahuan membuat mereka berani mencoba, memahami sesuatu melalui pengalaman, dan mulai membayangkan ke mana mereka ingin melangkah.
