Konten dari Pengguna

Baubau yang Belum Selesai

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kurun waktu lima bulan, saya dua kali berkunjung ke Baubau. Dua perjalanan itu justru membuat saya menyadari bahwa masih banyak yang belum saya jelajahi. Bukan hanya di Baubau, tetapi juga di berbagai sudut Pulau Buton.

Di Pantai Nirwana dan Lakeba, saya menemukan laut dengan air yang bening dan pasir yang membuat saya sulit menahan diri untuk tidak turun ke air. Tidak harus berenang jauh. Berendam atau sekadar mengapung beberapa saat sudah cukup.

Pengalaman berbeda saya dapatkan di Benteng Wolio. Dari salah satu sisi benteng, saya bisa memandang kota sekaligus laut. Benteng yang merupakan peninggalan Kesultanan Buton itu memiliki keliling sekitar 2,74 kilometer dan luas sekitar 23,3 hektare. Dibangun sejak masa Sultan La Elangi dan dilanjutkan pada masa Sultan La Buke, kawasan ini bukan hanya bangunan pertahanan, tetapi bagian dari sejarah panjang kehidupan Kesultanan Buton.

Saya pernah mendengar ungkapan bahwa Baubau adalah kota yang romantis karena memiliki bukit dan laut. Setelah melihatnya sendiri, orang akan mengerti dari mana kesan itu muncul.

Namun, perjalanan itu juga membawa saya pada pikiran lain: keindahan saja tidak cukup untuk membuat orang tinggal lebih lama atau datang kembali.

Salah satu pemandangan di Kota Baubau (foto pribadi)

Dari tempat menjadi pengalaman

Baubau tidak kekurangan tempat untuk didatangi. Dinas Pariwisata Kota Baubau menyebut Benteng Keraton Buton, Batu Sori, Hutan Pinus Samparona, Pantai Nirwana dan Muara Lakologou sebagai lima destinasi wisata andalan. Pemerintah juga telah mengembangkan berbagai fasilitas di sejumlah kawasan wisata.

Yang mungkin perlu diperkuat adalah cara menjualnya.

Wisatawan sekarang dapat melihat foto pantai, benteng dan pemandangan kota sebelum berangkat. Bahkan banyak orang sudah mengetahui seperti apa sebuah tempat sebelum menginjakkan kaki di sana. Karena itu, keunggulan sebuah destinasi tidak selalu terletak pada objek yang dimiliki, tetapi pada pengalaman yang tidak mudah diperoleh hanya dengan melihat layar telepon.

Benteng Keraton Buton misalnya, dapat lebih jauh dihadirkan sebagai pengalaman sejarah. Pengunjung tidak hanya melihat tembok, gerbang dan pemandangan dari atas bukit, tetapi diajak memahami bagaimana Kesultanan Buton dahulu menjalankan pemerintahan, kehidupan masyarakatnya, perdagangan, pertahanan dan hubungannya dengan laut.

Sejarah tidak harus selalu disampaikan melalui papan informasi. Ia bisa hadir melalui cerita pemandu lokal, rute berjalan kaki, kuliner, pertunjukan, benda-benda sejarah dan interaksi dengan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan. Tentu semua itu harus tetap memperhatikan prinsip pelestarian karena Benteng Keraton Buton merupakan cagar budaya.

Alasan untuk kembali

Dua kali saya berkunjung kembali ke Baubau justru menunjukkan satu hal sederhana: masih banyak yang belum saya lihat.

Bagi saya, ini bukan kekurangan. Justru bisa menjadi cara pandang dalam mengembangkan pariwisata.

Baubau tidak harus dipasarkan sebagai tempat yang dapat “dituntaskan” dalam satu atau dua hari. Wisatawan dapat diberi alasan untuk kembali. Kunjungan pertama untuk mengenal sejarah dan budaya, kunjungan berikutnya untuk pantai dan laut, perjalanan lain untuk kuliner, alam, atau menjelajahi bagian Pulau Buton yang belum sempat didatangi.

Dengan cara itu, masyarakat sekitar destinasi juga memiliki ruang yang lebih besar untuk terlibat. Mereka bukan hanya diminta menjaga kebersihan tempat wisata, tetapi dapat menjadi bagian dari pengalaman melalui kuliner, homestay, pemandu lokal, kerajinan, transportasi, pertunjukan budaya dan cerita mengenai daerahnya sendiri.

Ada satu gagasan yang menurut saya bahkan lebih besar: Baubau tidak harus berhenti sebagai destinasi. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk menjelajahi Pulau Buton.

Dengan kekayaan sejarah, pantai, laut, budaya dan bentang alam yang tersebar di pulau itu, perjalanan wisata dapat dibuat lebih panjang. Baubau menjadi titik awal, lalu wisatawan bergerak menuju berbagai pengalaman lain di Pulau Buton.

Ukuran keberhasilan pariwisata akhirnya tidak hanya berapa banyak orang datang. Lama tinggal, keinginan untuk kembali, serta seberapa jauh aktivitas wisata menghidupkan ekonomi masyarakat juga layak diperhatikan.

Dua kali datang dalam beberapa bulan terakhir justru membuat saya merasa belum selesai dengan Baubau. Masih ada pantai yang belum saya datangi, tempat yang belum saya lihat, dan cerita yang belum saya dengar. Ada sesuatu tentang kota ini yang membuat perjalanan berikutnya terasa selalu punya alasan.