Belajar Mengelola Negara dari Nabi Yusuf

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Beberapa hari lalu saya membaca kembali Surah Yusuf. Kisahnya sebenarnya sudah sering kita dengar: Yusuf dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya, dijual ke Mesir, menghadapi godaan, dipenjara, kemudian keluar dari penjara dan menjadi pejabat penting di negeri itu.
Namun kali ini perhatian saya tertahan pada satu bagian: ketika Yusuf menghadapi ancaman kekeringan.
Raja Mesir bermimpi tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan tujuh sapi kurus dan tujuh bulir gandum hijau serta tujuh lainnya yang kering. Yusuf menafsirkannya sebagai tujuh tahun masa subur yang akan disusul tujuh tahun masa sulit. Yang menarik, Yusuf tidak berhenti pada tafsir. Ia segera menawarkan cara menghadapinya.
Selama tujuh tahun masa subur, masyarakat tetap bercocok tanam dan hasilnya disimpan. Yang dikonsumsi hanya secukupnya. Dengan demikian, ketika tujuh tahun paceklik datang, Mesir memiliki cadangan.
Di sini saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kisah tentang ketahanan pangan. Yusuf memperlihatkan bagaimana seorang pejabat publik seharusnya bekerja: membaca risiko sebelum krisis, menyusun strategi, mengelola sumber daya, lalu memastikan strategi itu benar-benar dapat dijalankan.
Relevansinya terasa ketika melihat kondisi kemarau tahun ini. BMKG sejak awal 2026 telah memperingatkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dari normal. Pada Juli, BMKG bahkan mencatat 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan sejumlah daerah mengalami hari tanpa hujan hingga lebih dari 60 hari.
Tentu kita tidak bisa menyamakan kekeringan Mesir dalam kisah Yusuf dengan kondisi iklim Indonesia sekarang. Tetapi ada prinsip pengelolaan risiko yang tetap relevan: masa sulit harus dipersiapkan ketika keadaan masih memungkinkan untuk bersiap.
Yusuf kemudian meminta kepada raja agar dirinya diberi tanggung jawab atas perbendaharaan negeri. Al-Qur'an menggambarkan alasannya dengan dua kualitas: ia mampu menjaga dan memiliki pengetahuan. Dalam konteks pengelolaan negara, dua hal ini sangat penting. Amanah tanpa kompetensi dapat menghasilkan keputusan yang keliru. Kompetensi tanpa amanah dapat menjadi masalah yang lebih besar.
Yang juga menarik, Yusuf tidak meminta jabatan sekadar karena ingin berkuasa. Ia telah memahami persoalan, memiliki rancangan, lalu meminta kewenangan yang diperlukan untuk melaksanakan rancangan tersebut.
Ini memberi pelajaran tentang hubungan antara jabatan, kompetensi, dan tanggung jawab.
Seorang pejabat semestinya tidak hanya bertanya apa yang harus dikerjakan berdasarkan target tahunan. Ia perlu melihat risiko yang mungkin muncul setelah target itu tercapai. Ketika anggaran masih tersedia, apakah ada cadangan? Ketika produksi pangan masih tinggi, apakah sistem distribusinya siap menghadapi gangguan? Ketika air masih tersedia, apakah daerah telah menyiapkan sumber air untuk musim kering?
Pertanyaan semacam itu penting karena pemerintah sering lebih mudah mengukur apa yang telah dibelanjakan daripada mengukur seberapa siap masyarakat menghadapi risiko.
Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting. Ketika kekeringan benar-benar terjadi, cadangan yang dikelola Yusuf menjadi sumber pangan bagi masyarakat. Bahkan orang-orang dari luar Mesir datang untuk memperoleh makanan.
Artinya, keberhasilan seorang pejabat tidak berhenti pada tersedianya kebijakan atau dokumen perencanaan. Ukurannya terlihat ketika kebijakan itu mampu melindungi masyarakat pada saat mereka benar-benar membutuhkan negara.
Dan mungkin bagian paling sulit diteladani justru muncul setelah Yusuf memiliki kekuasaan. Saudara-saudaranya yang dahulu membuangnya ke sumur datang kepadanya dalam keadaan membutuhkan. Yusuf memiliki kesempatan untuk membalas. Namun ia memilih memaafkan.
Di sini terlihat bahwa kompetensi dan kekuasaan tetap membutuhkan pengendalian diri.
Maka kisah Yusuf memberi gambaran pejabat publik yang cukup lengkap: berpengetahuan untuk membaca masalah, amanah dalam mengelola sumber daya, berani mengambil tanggung jawab, berpikir jauh ke depan, dan tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Kita mungkin tidak sedang mencari pejabat yang bisa menafsirkan mimpi. Yang dibutuhkan adalah pejabat yang mampu membaca tanda-tanda persoalan, mempersiapkan negara sebelum krisis, dan ketika kewenangan sudah berada di tangannya, tetap mengingat untuk siapa kewenangan itu digunakan.
Itulah barangkali salah satu pelajaran paling aktual dari kisah Yusuf: jabatan publik bukan terutama tentang seberapa tinggi seseorang ditempatkan, tetapi seberapa jauh ia mampu menjaga kepentingan masyarakat ketika keadaan berubah menjadi sulit.
