Jangan Takut AI

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya membaca di media sosial, rupanya masih ada saja orang yang julid dan nyinyir ketika melihat sebuah karya dibuat dengan bantuan AI.
Ada sebuah poster pengumuman yang diunggah. Informasinya jelas, desainnya cukup baik, dan tujuan komunikasinya tercapai. Tetapi di kolom komentar, perhatian orang justru bergeser. Bukan lagi soal apakah informasi dalam poster itu benar, apakah pesannya mudah dipahami, atau apakah desainnya efektif. Yang dipersoalkan justru satu hal: poster itu dibuat dengan AI.
Begitu diketahui menggunakan AI, seolah-olah kualitas karyanya langsung turun beberapa tingkat.
Saya juga menemukan unggahan lain. Ada seorang ASN yang bertanya bagaimana cara efektif membuat slide presentasi dengan bantuan AI. Lagi-lagi, beberapa orang merasa perlu mencibir. Seolah-olah seorang ASN yang meminta bantuan AI berarti tidak mampu bekerja. Seolah-olah membuat sesuatu dengan bantuan teknologi adalah bentuk kemalasan. Bahkan ada yang menjadikan penggunaan AI sebagai bahan untuk mempertanyakan kemampuan orang tersebut.
Untungnya, ada juga yang membela.
Barangkali, kata mereka, ASN tersebut memang sedang memiliki banyak pekerjaan. Barangkali ia harus membuat laporan, menyiapkan bahan rapat, menyelesaikan administrasi, menghadiri berbagai agenda, dan pada saat yang sama masih dituntut menghasilkan presentasi yang baik. Dalam situasi seperti itu, mengapa menggunakan alat yang dapat membantu pekerjaan dianggap sebagai sesuatu yang memalukan?
Pertanyaan itu menurut saya justru lebih penting.
Sebab di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, kita seperti sedang memasuki fase ketika sebagian orang tidak lagi memperdebatkan apa yang bisa dilakukan AI, tetapi justru memperdebatkan apakah manusia pantas menggunakannya.
Dan menurut saya, kita sedang salah menempatkan persoalan.
Bukan Soal Bisa atau Tidak
Sejak dahulu manusia bekerja dengan bantuan alat.
Kita menggunakan kalkulator karena tidak ingin menghabiskan waktu menghitung angka yang sebenarnya bisa diselesaikan dalam hitungan detik. Kita menggunakan spreadsheet untuk mengolah data dalam jumlah besar. Kita menggunakan mesin pencari untuk menemukan informasi yang dahulu harus dicari berjam-jam di perpustakaan. Kita menggunakan aplikasi desain untuk membuat visual yang sebelumnya membutuhkan keterampilan teknis tertentu.
Tidak ada yang menganggap semua itu sebagai bentuk kecurangan.
Lalu datang AI.
Tiba-tiba sebagian orang seperti merasa ada batas moral baru. Menggunakan AI dianggap berbeda. Orang yang membuat tulisan dengan bantuan AI dicurigai malas. Orang yang membuat desain dengan AI dianggap tidak punya kemampuan desain. Orang yang membuat slide dengan AI dianggap tidak mampu berpikir.
Padahal persoalannya bukan apakah kita menggunakan AI atau tidak.
Persoalan sebenarnya adalah apa yang kita lakukan dengan AI tersebut.
AI bisa menghasilkan tulisan yang buruk. Bisa menghasilkan desain yang aneh. Bisa memberikan informasi yang keliru. Bisa pula membuat seseorang menjadi malas berpikir jika digunakan tanpa kendali.
Tetapi semua itu tidak membuktikan bahwa AI tidak berguna.
Sama seperti kalkulator tidak membuat matematika menjadi tidak berguna. Mesin pencari tidak membuat kemampuan membaca menjadi tidak penting. Kamera tidak membuat kemampuan melihat menjadi tidak berguna.
Teknologi mengubah cara manusia menggunakan kemampuannya.
Dan mungkin inilah yang sebenarnya sedang terjadi dengan AI.
Sebuah penelitian yang diterbitkan National Bureau of Economic Research terhadap 5.179 pekerja layanan pelanggan menemukan bahwa penggunaan AI meningkatkan produktivitas rata-rata sekitar 14 persen. Menariknya, peningkatan terbesar terjadi pada pekerja yang relatif baru atau kurang berpengalaman, yang produktivitasnya meningkat sekitar 34 persen. Peneliti menduga AI membantu menyebarkan praktik kerja terbaik dari pekerja yang lebih berpengalaman kepada pekerja lainnya.
Artinya, AI bukan selalu menggantikan kemampuan manusia.
Dalam kondisi tertentu, AI justru dapat memperluas kemampuan manusia.
Ini yang sering luput dari perdebatan di media sosial.
Kita terlalu sibuk bertanya, “Apakah ini dibuat manusia atau AI?”
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang berhasil dibuat manusia dengan bantuan AI?”
AI Tidak Menghapus Manusia
Saya memahami kekhawatiran bahwa AI dapat membuat manusia malas berpikir. Kekhawatiran itu masuk akal.
Saya sendiri tidak percaya bahwa semua pekerjaan harus diserahkan kepada AI. Justru sebaliknya, semakin banyak kita menggunakan AI, semakin penting kemampuan manusia untuk berpikir kritis.
AI bisa membuatkan rancangan presentasi. Tetapi manusia harus tahu apa yang ingin disampaikan.
AI bisa membantu menulis. Tetapi manusia harus mampu membedakan gagasan yang kuat dari kalimat yang sekadar terdengar pintar.
AI bisa menghasilkan gambar. Tetapi manusia harus menentukan apakah gambar itu sesuai konteks.
AI bisa memberikan jawaban. Tetapi manusia tetap bertanggung jawab untuk memeriksa apakah jawaban tersebut benar.
Dengan kata lain, AI tidak menghilangkan kebutuhan terhadap manusia. Ia justru menggeser letak nilai manusia.
Dulu, kemampuan teknis tertentu mungkin menjadi keunggulan utama. Sekarang, kemampuan memberi instruksi, memilih informasi, memeriksa hasil, menghubungkan berbagai gagasan, memahami konteks, dan mengambil keputusan bisa menjadi jauh lebih penting.
Dalam bahasa sederhana: AI mungkin mengurangi nilai dari sebagian pekerjaan yang bersifat rutin, tetapi meningkatkan nilai dari manusia yang tahu apa yang harus dilakukan dengan hasil pekerjaan tersebut.
Laporan Anthropic Economic Index juga menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pekerjaan tidak semata-mata berbentuk otomatisasi. Dalam analisis awalnya, penggunaan AI lebih banyak muncul sebagai augmentation, yakni AI bekerja bersama manusia untuk meningkatkan kemampuan mereka, dibandingkan otomatisasi penuh. Analisis yang lebih baru juga menunjukkan pola penggunaan yang terus berubah seiring kemampuan model berkembang.
Jadi, gambaran bahwa manusia tinggal duduk, lalu AI mengerjakan semuanya, sebenarnya terlalu sederhana.
Dalam banyak pekerjaan, hubungan manusia dan AI justru lebih mirip kolaborasi.
Manusia memberikan konteks. AI membantu mengolahnya. Manusia memeriksa. AI menawarkan alternatif. Manusia memilih. AI membantu menyempurnakan. Begitu seterusnya.
Bukan manusia versus AI.
Melainkan manusia dengan AI.
Yang Sebenarnya Kita Takuti
Karena itu saya kadang berpikir, jangan-jangan sebagian orang yang paling keras mencibir penggunaan AI sebenarnya bukan sedang mempertahankan kualitas pekerjaan.
Mereka sedang mempertahankan rasa nyaman.
Ada perbedaan besar antara mengatakan, “Saya memilih tidak menggunakan AI karena saya merasa cara kerja saya sekarang lebih baik,” dengan mengatakan, “Orang yang menggunakan AI berarti malas dan tidak punya kemampuan.”
Yang pertama adalah pilihan.
Yang kedua adalah penghakiman.
Dan saya kira kita perlu berhati-hati dengan penghakiman semacam itu.
Sebab sering kali kita tidak tahu apa yang sedang dihadapi seseorang.
Kita hanya melihat satu slide yang ia buat. Kita tidak melihat dua puluh dokumen yang harus ia baca sebelumnya. Kita tidak melihat rapat yang harus ia hadiri. Kita tidak melihat tenggat waktu yang mengejar. Kita tidak melihat pekerjaan lain yang menumpuk di mejanya.
Kita hanya melihat hasil akhirnya, kemudian merasa memiliki hak untuk menghakimi alat yang digunakannya.
Dalam dunia kerja, terutama bagi pekerja pengetahuan seperti ASN, persoalannya bukan sekadar bekerja keras. Kita juga dituntut bekerja cerdas.
Pekerjaan birokrasi hari ini tidak sederhana. Ada surat, laporan, data, bahan paparan, rapat, koordinasi, regulasi, aplikasi, pengawasan, dan berbagai pekerjaan administratif yang berjalan bersamaan. Dalam situasi seperti itu, menemukan alat yang dapat menghemat waktu bukanlah aib.
Justru bisa menjadi bentuk adaptasi.
Data Microsoft dan LinkedIn pada 2024 menunjukkan 92 persen knowledge workers di Indonesia yang mereka survei telah menggunakan AI generatif di tempat kerja. Bahkan 76 persen responden di Indonesia mengaku membawa perangkat atau solusi AI mereka sendiri ke tempat kerja.
Angka itu tentu bukan alasan untuk menggunakan AI secara serampangan. Tetapi ia menunjukkan satu hal penting: fenomenanya sudah terjadi.
AI bukan lagi sesuatu yang berada di luar kantor, di luar birokrasi, atau hanya digunakan oleh orang-orang teknologi.
Ia sudah masuk ke meja kerja.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah AI akan masuk ke dunia kerja.
Pertanyaannya adalah apakah kita siap ketika AI sudah menjadi bagian normal dari pekerjaan.
Jangan Bangga Terlambat
Di sinilah saya justru merasa agak geli ketika melihat orang-orang yang begitu bangga mengatakan bahwa mereka tidak membutuhkan AI.
Silakan.
Saya sungguh tidak keberatan.
Kalau Anda merasa lebih nyaman bekerja dengan cara sendiri, teruskan.
Kalau Anda merasa kemampuan manusia jauh lebih penting daripada AI, bagus.
Kalau Anda yakin bisa mengerjakan semuanya tanpa bantuan AI, silakan buktikan.
Saya bahkan tidak merasa perlu berdebat dengan mereka.
Tidak perlu pula sibuk menjelaskan bahwa AI semakin canggih. Tidak perlu memaksa mereka memahami bagaimana teknologi ini dapat membantu pekerjaan. Tidak perlu membuktikan bahwa kita bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dengan bantuan AI.
Biarkan saja.
Sebab teknologi tidak membutuhkan persetujuan kita untuk berkembang.
Dulu mungkin ada orang yang menganggap komputer hanya akan membuat manusia malas. Ada pula yang merasa lebih bangga menulis dengan mesin ketik daripada komputer. Ketika internet muncul, banyak orang menganggapnya sekadar tren. Ketika telepon pintar berkembang, sebagian orang merasa telepon biasa sudah cukup.
Tidak ada yang salah dengan semua pilihan itu.
Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang menganggap pilihan pribadinya sebagai ukuran kecerdasan orang lain.
Saya bahkan punya pikiran yang sedikit nakal.
Jika ada orang yang terus-menerus mencibir penggunaan AI, biarkan saja.
Tidak perlu buru-buru mengajarinya.
Biarkan ia merasa unggul karena masih mengerjakan semuanya secara manual. Sementara itu, kita belajar diam-diam. Kita memahami cara memberikan instruksi yang baik. Kita belajar memeriksa hasil AI. Kita memahami batas-batasnya. Kita menggunakannya untuk merangkum dokumen, mengembangkan gagasan, membuat rancangan, mengolah informasi, atau sekadar menjadi teman berpikir ketika kepala sudah terlalu penuh.
Bukan untuk menggantikan otak.
Justru untuk memberi otak ruang mengerjakan hal-hal yang lebih penting.
Sebab ada perbedaan antara menggunakan AI agar tidak berpikir dan menggunakan AI agar kita bisa berpikir lebih banyak tentang hal yang lebih penting.
Yang pertama memang berbahaya.
Yang kedua adalah keterampilan.
Dan keterampilan itu, seperti keterampilan lainnya, membutuhkan latihan.
Pada Akhirnya, Kita Semua Akan Beradaptasi
Saya tidak tahu apakah semua orang akan menggunakan AI dengan cara yang sama. Tentu tidak.
Akan selalu ada orang yang menolak. Akan selalu ada orang yang skeptis. Akan selalu ada orang yang memilih bekerja dengan cara lama.
Dan itu bukan masalah.
Yang menjadi masalah adalah ketika kita berhenti belajar hanya karena merasa cara kita selama ini sudah cukup.
Sebab perubahan teknologi sering kali tidak terasa seperti revolusi ketika ia sedang berlangsung. Ia masuk perlahan melalui hal-hal kecil. Satu fitur baru. Satu aplikasi baru. Satu kebiasaan baru. Satu pekerjaan yang tiba-tiba bisa selesai dalam sepuluh menit, padahal sebelumnya membutuhkan dua jam.
Lalu suatu hari kita sadar: cara lama sudah berubah.
Mungkin itu pula yang sedang terjadi dengan AI.
Hari ini seseorang bisa saja mencibir ASN yang menggunakan AI untuk membuat slide. Besok, mungkin ia sendiri akan bertanya kepada AI bagaimana menyusun bahan presentasi. Lusa, mungkin ia akan meminta AI merapikan tulisannya. Minggu berikutnya, mungkin ia sudah mulai menggunakannya tanpa merasa perlu bercerita kepada siapa pun.
Dan saya tidak akan terkejut.
Sebab pada akhirnya manusia sangat pandai beradaptasi ketika keadaan memaksanya.
Karena itu, saya tidak terlalu tertarik untuk memenangkan perdebatan tentang apakah AI itu baik atau buruk.
Saya lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih sederhana: ketika teknologi berubah, apakah kita ikut belajar berubah?
Sebab masa depan mungkin bukan milik orang yang paling pandai menggunakan AI. Bukan pula semata-mata milik orang yang paling pintar tanpa AI.
Masa depan lebih mungkin menjadi milik mereka yang tahu kapan harus menggunakan AI, kapan harus meragukannya, kapan harus memeriksanya, dan kapan harus mengatakan: “Tidak, bagian ini tetap harus saya kerjakan sendiri.”
Barangkali di situlah kecerdasan manusia yang sesungguhnya.
Bukan pada kemampuan untuk menolak alat baru demi mempertahankan kebanggaan lama. Tetapi pada kemampuan untuk mengambil sesuatu yang baru, mengujinya, memahami batasnya, lalu menggunakannya tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.
Jadi, kalau hari ini masih ada orang yang nyinyir ketika melihat kita menggunakan AI, tidak usah terlalu dipikirkan.
Biarkan mereka.
Kita tidak perlu menang dalam perdebatan.
Kita cukup belajar.
Sebab dalam perlombaan yang panjang, sering kali bukan orang yang paling keras berteriak yang sampai lebih dulu.
Melainkan mereka yang diam-diam terus berjalan, sementara yang lain masih sibuk menjelaskan mengapa mereka tidak perlu berjalan ke arah sana.
