Ketahanan Air, Sebelum Air Menjadi Barang Mewah

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Belakangan saya semakin sering melihat mobil pikap membawa toren air. Air itu diantar ke rumah-rumah warga yang membelinya. Di tempat penjualan air pun terlihat kesibukan yang berbeda. Hujan belum turun, panas terasa menyengat, dan di sejumlah tempat warga mulai kesulitan mendapatkan air.
Pemandangan sederhana itu membuat saya berpikir lebih jauh. Bagaimana jika suatu hari air semakin sulit diperoleh dan kebutuhan dasar ini semakin bergantung pada kemampuan membeli?
Sebenarnya proses komersialisasi air sudah berlangsung lama. Untuk minum, banyak rumah tangga tidak lagi memasak air dari sumur atau ledeng. Mereka membeli air kemasan atau air isi ulang. Data BPS menunjukkan air kemasan bermerek dan air isi ulang telah menjadi sumber utama air minum bagi porsi besar rumah tangga di sejumlah daerah.
Selama pilihan itu lahir dari kenyamanan, kualitas, atau selera, tidak banyak persoalan. Masalahnya berbeda ketika air dibeli karena tidak tersedia sumber lain.
Di situlah saya melihat toren merah tadi sebagai tanda yang lebih penting. Air yang biasanya hadir dari sumur, jaringan perpipaan, atau sumber lokal mulai berubah menjadi barang yang harus dicari, diangkut, dan dibayar.
Jika kekeringan semakin sering atau berlangsung lebih lama, pasar air tentu akan berkembang. Itu tidak selalu buruk. Pelaku usaha dapat menyediakan pengolahan, penyimpanan, dan distribusi yang tidak mampu dilakukan pemerintah sendiri. Namun air memiliki sifat yang berbeda dari kebanyakan barang dagangan. Orang dapat mengurangi pembelian pakaian ketika harga naik. Untuk air, ruang pilihan itu sangat terbatas.
Karena itu, negara tidak boleh membiarkan akses terhadap air sepenuhnya ditentukan oleh daya beli. Bahkan secara hukum, arahnya sudah jelas. UU No. 17 Tahun 2019 menempatkan pemenuhan kebutuhan pokok minimal sehari-hari sebagai tanggung jawab negara dan memprioritaskan kebutuhan pokok ketika ketersediaan air tidak mencukupi.
Persoalannya adalah bagaimana prinsip tersebut diterjemahkan menjadi ketahanan air yang nyata.
Peringatan untuk itu sudah ada. BMKG pada 22 September 2026 menyatakan El Nino sangat kuat sedang berlangsung dan 61,08 persen Zona Musim diperkirakan mengalami awal musim hujan yang lebih lambat dari normal. Sebagian besar wilayah bahkan baru diperkirakan memasuki musim hujan pada November atau Desember.
Kondisi ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai persoalan musim. Kita perlu melihat air sebagai infrastruktur dasar kehidupan.
Ketahanan air berarti menjaga sumber air, memperbaiki penyimpanan dan distribusi, mengendalikan eksploitasi air tanah, mengurangi kebocoran, serta memastikan masyarakat memperoleh air dengan harga terjangkau ketika terjadi kekeringan. Industri air tetap dapat tumbuh, tetapi pengusahaan sumber daya air harus tunduk pada kepentingan yang lebih mendasar: masyarakat tidak boleh kehilangan akses terhadap air karena air menjadi bisnis yang terlalu menguntungkan.
Indonesia juga perlu lebih serius memikirkan sumber air alternatif. Dengan wilayah kepulauan dan garis pantai yang panjang, desalinasi air laut layak dikembangkan pada lokasi tertentu, terutama wilayah pesisir dan pulau-pulau yang sumber air tawarnya terbatas.
Arab Saudi telah mengembangkan desalinasi dalam skala besar. Saudi Water Authority menyebut kapasitas desalinasi negaranya diproyeksikan mencapai 13,3 juta meter kubik per hari dari sedikitnya 43 pabrik pada akhir 2024.
Indonesia tidak perlu meniru Saudi secara mentah. Kita memiliki kondisi hidrologis yang berbeda. Desalinasi juga membutuhkan energi dan biaya sehingga tidak cocok untuk semua daerah. Tetapi teknologi itu menunjukkan bahwa ketahanan air dapat dibangun dengan memperluas sumber pasokan, bukan hanya menunggu hujan.
Selama ini kita sangat serius membicarakan ketahanan pangan. Itu penting. Namun pangan sendiri membutuhkan air. Rumah tangga, industri, kesehatan, energi, dan hampir seluruh kegiatan ekonomi juga bergantung kepadanya.
Mungkin sudah saatnya ketahanan air ditempatkan sejajar sebagai agenda pembangunan.
Sebab persoalan air tidak dimulai ketika keran benar-benar kering. Ia dimulai ketika orang mulai harus membeli air karena tidak lagi memiliki pilihan lain.
Mobil pikap dengan toren merah yang hari-hari ini berseliweran mungkin hanya kendaraan pengantar air. Tetapi bagi saya, ia juga mengingatkan bahwa ketahanan air perlu dibangun sebelum air benar-benar menjadi barang mahal yang hanya mudah diperoleh oleh mereka yang mampu membelinya.
