Ketika Berbeda Disebut Futur

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya pernah mendengar judul sebuah buku: Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah. Seingat saya, buku itu bercerita tentang orang-orang yang dianggap mulai meninggalkan jalan dakwah, kehilangan semangat, atau dalam istilah yang sering digunakan, mengalami futur.
Saya tidak sedang hendak membahas isi buku itu, apalagi menilai benar atau salahnya. Yang justru mengusik pikiran saya adalah istilah berguguran atau berjatuhan itu sendiri.
Siapa sebenarnya yang berhak menentukan seseorang telah berguguran?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi semakin dipikirkan, ia membawa kita pada persoalan yang lebih rumit: bagaimana sebuah kelompok menentukan siapa yang masih berada di dalam jalan perjuangan dan siapa yang dianggap telah keluar darinya?
Sebab, jangan-jangan futur tidak selalu digunakan untuk menggambarkan keadaan spiritual seseorang. Jangan-jangan, dalam praktiknya, istilah itu kadang berubah menjadi semacam cap sosial.
Selama seseorang masih berada dalam kelompok yang sama, mengikuti cara berpikir yang sama, menggunakan rujukan yang sama, dan berjalan dalam barisan yang sama, ia dianggap istiqamah. Tetapi ketika ia mulai berbeda pandangan, mengambil jarak, lalu akhirnya memilih keluar, tiba-tiba statusnya berubah.
Ia disebut futur.
Padahal, belum tentu ada yang berubah dari dirinya.
Mungkin ibadahnya masih sama. Mungkin kepeduliannya kepada umat masih ada. Mungkin tutur katanya masih mengajak kepada kebaikan. Bahkan mungkin ia justru sedang memperjuangkan sesuatu yang menurut keyakinannya lebih baik.
Yang berubah barangkali hanya satu: ia tidak lagi berada dalam kelompok kita.
Dan di sinilah saya kira kita perlu berhenti sejenak.
Ketika Kelompok Menjadi Ukuran
Manusia memang makhluk yang membutuhkan kelompok. Kita membutuhkan orang lain untuk berbagi keyakinan, nilai, pengalaman, dan perjuangan. Kelompok memberikan rasa memiliki. Ia membuat seseorang merasa tidak berjalan sendirian.
Dalam psikologi sosial, fenomena semacam ini dikenal melalui social identity theory yang dikembangkan Henri Tajfel dan John Turner. Identitas seseorang sebagian dibentuk oleh keanggotaannya dalam kelompok. Ketika identitas kelompok menjadi penting bagi diri seseorang, ia cenderung melihat kelompoknya sebagai bagian dari dirinya dan membedakan kelompok sendiri (ingroup) dengan kelompok lain (outgroup).
Sesungguhnya ini manusiawi.
Masalahnya muncul ketika batas antara “kelompok kita” dan “kelompok mereka” mulai dianggap sebagai batas antara “yang benar” dan “yang salah”.
Di titik itu, kritik kepada kelompok terasa seperti serangan kepada diri sendiri. Perbedaan pandangan dianggap sebagai ancaman. Orang yang keluar tidak lagi dilihat sebagai seseorang yang sedang mengambil pilihan berbeda, melainkan sebagai orang yang telah meninggalkan jalan.
Padahal kelompok hanyalah wadah.
Ia penting, tetapi bukan kebenaran itu sendiri.
Saya kira ini yang sering luput kita sadari. Kita dapat begitu mencintai sebuah kelompok sampai-sampai tanpa sadar memindahkan kecintaan kepada kelompok menjadi ukuran untuk menilai kebenaran seseorang.
Selama ia bersama kita, ia baik.
Ketika ia berbeda, kita mulai mencari alasan mengapa ia salah.
Dan ketika ia benar-benar pergi, kita merasa perlu menjelaskan kepada orang lain bahwa kepergiannya adalah tanda kemunduran.
Dalam psikologi kelompok, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok memang bukan sesuatu yang asing. Conformity terjadi ketika seseorang menyesuaikan pendapat atau perilakunya dengan norma dan pandangan kelompok. Tekanan itu bisa muncul secara langsung maupun tidak langsung.
Barangkali karena itu, keluar dari sebuah kelompok tidak pernah sesederhana mengganti alamat.
Ada identitas yang ikut ditinggalkan. Ada pertemanan yang mungkin renggang. Ada sejarah yang tidak lagi mudah diceritakan. Dan yang lebih berat, ada label yang kadang harus dibawa ke mana-mana.
Keluar Bukan Berarti Gugur
Saya membayangkan seseorang yang bertahun-tahun berada dalam sebuah kelompok dakwah.
Ia belajar di sana. Bertumbuh di sana. Menghabiskan waktu, tenaga, bahkan mungkin sebagian besar masa mudanya untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakininya baik.
Kemudian, pada satu titik, ia mulai melihat ada hal-hal yang menurutnya perlu diperbaiki.
Ia mulai bertanya.
Apakah cara yang selama ini dilakukan memang satu-satunya cara?
Apakah sesuatu harus terus dipertahankan hanya karena sudah lama menjadi kebiasaan?
Apakah kritik terhadap cara perjuangan berarti kritik terhadap tujuan perjuangan?
Apakah berbeda dalam metode berarti berbeda dalam nilai?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sebenarnya sehat. Sebuah kelompok yang hidup semestinya mampu bertanya kepada dirinya sendiri.
Sebab stagnasi sering kali tidak datang karena tidak ada orang yang memiliki gagasan baru. Stagnasi justru muncul ketika gagasan baru dianggap sebagai ancaman.
Orang yang berbeda pendapat kemudian berada dalam posisi sulit. Ia harus memilih: bertahan sambil menekan kegelisahannya sendiri, atau keluar dengan konsekuensi kehilangan label sebagai “orang dalam”.
Jika akhirnya ia memilih keluar, bukan berarti ia berhenti berjalan.
Bisa jadi ia hanya memilih jalan yang menurutnya lebih sesuai.
Bisa jadi ia masih membawa nilai-nilai yang dahulu ia perjuangkan. Ia masih membaca Al-Qur’an. Masih beribadah. Masih mengajak orang kepada kebaikan. Masih memikirkan persoalan umat. Masih peduli terhadap kesejahteraan masyarakat.
Hanya saja, ia tidak lagi melakukannya melalui pintu yang sama.
Lalu apakah ia berguguran?
Saya kira pertanyaan itu tidak boleh dijawab hanya berdasarkan keanggotaannya dalam sebuah kelompok.
Seseorang yang keluar dari sebuah organisasi belum tentu keluar dari nilai yang diperjuangkan organisasi itu. Seseorang yang berbeda manhaj belum tentu kehilangan akhlak. Seseorang yang membangun kelompok baru belum tentu sedang membangun permusuhan.
Bahkan bisa jadi ia sedang mencoba memperbaiki sesuatu yang menurutnya selama ini kurang tepat.
Tentu saja, kemungkinan sebaliknya juga ada.
Tidak semua orang yang keluar pasti benar. Tidak semua kelompok baru pasti lebih baik. Tidak semua kritik terhadap kelompok lama otomatis valid. Orang bisa saja menggunakan alasan prinsip untuk membenarkan ego. Ia bisa saja mendirikan kelompok baru bukan karena gagasan, tetapi karena ambisi.
Karena itu, saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap orang yang keluar harus dianggap benar.
Yang saya persoalkan adalah hak kita untuk terlalu cepat memberi cap.
Sebab benar dan salah tidak selalu dapat ditentukan dari kartu keanggotaan.
Ketika Perbedaan Dianggap Penyimpangan
Ada sesuatu yang menarik dalam dinamika kelompok.
Ketika orang-orang terlalu lama hidup dalam lingkungan yang memiliki pandangan serupa, mereka bisa mulai menganggap apa yang ada di dalam kelompok sebagai sesuatu yang alamiah dan tidak perlu dipertanyakan lagi.
Bahkan cara berpikir yang sebenarnya merupakan hasil ijtihad manusia pada suatu masa dapat perlahan berubah menjadi semacam “paket kebenaran” yang terasa tidak boleh disentuh.
Padahal, ijtihad tetaplah ijtihad.
Cara memahami suatu persoalan tetap merupakan hasil proses berpikir manusia. Ia bisa kuat, bisa lemah, bisa relevan dalam satu konteks, tetapi mungkin perlu dikaji kembali dalam konteks lain.
Dalam ilmu psikologi kelompok, ada pula fenomena group polarization: diskusi dalam kelompok dapat mendorong anggotanya bergerak menuju posisi yang lebih ekstrem dibanding kecenderungan awal mereka.
Ini bukan berarti setiap kelompok keagamaan pasti mengalami hal tersebut. Tetapi fenomenanya memberi kita satu pelajaran penting: kelompok tidak selalu membuat seseorang semakin objektif.
Kadang-kadang kelompok justru membuat keyakinan yang sudah ada menjadi semakin kuat karena terus-menerus mendapatkan penguatan dari orang-orang yang berpikiran sama.
Di sinilah perbedaan menjadi penting.
Orang yang berbeda pendapat dapat berfungsi seperti cermin. Ia memaksa kita melihat sesuatu yang selama ini mungkin tidak terlihat karena kita terlalu lama berdiri di tempat yang sama.
Minoritas dalam sebuah kelompok bahkan dapat mendorong mayoritas untuk meninjau kembali asumsi-asumsi yang selama ini dianggap mapan. Kajian psikologi sosial mengenai minority influence menunjukkan bahwa kelompok kecil yang konsisten dalam menyampaikan pandangan dapat memicu mayoritas mempertimbangkan kembali keyakinan dan prosedur yang telah lama diterima.
Karena itu, orang yang berbeda tidak selalu merupakan ancaman.
Kadang ia adalah alarm.
Kadang ia adalah koreksi.
Kadang ia justru menjadi kesempatan bagi kelompok untuk bertumbuh.
Sayangnya, kita sering baru menyadari nilai seorang pembawa kritik setelah ia benar-benar pergi.
Ketika masih berada di dalam kelompok, suaranya dianggap mengganggu. Setelah ia keluar dan ternyata gagasannya berkembang, barulah kita mulai melihat bahwa mungkin ada sesuatu yang dahulu tidak kita dengarkan.
Dakwah Tidak Boleh Menjadi Milik Kelompok
Saya kira persoalan yang lebih besar bukan tentang siapa yang benar-benar futur.
Persoalannya adalah kecenderungan manusia untuk menganggap bahwa jalan yang ditempuh kelompoknya adalah satu-satunya jalan yang sah untuk menuju kebaikan.
Padahal dakwah bukan milik organisasi tertentu.
Kebaikan bukan merek dagang.
Dan jalan menuju kemaslahatan umat tidak selalu harus melalui satu bentuk organisasi.
Kelompok diperlukan agar orang dapat bekerja bersama. Tetapi kelompok seharusnya menjadi kendaraan, bukan tujuan perjalanan.
Kendaraan bisa berbeda. Ada yang menggunakan mobil, sepeda, bus, atau berjalan kaki. Yang lebih penting adalah ke mana seseorang hendak pergi.
Tentu saja analogi ini tidak berarti semua jalan sama. Dalam kehidupan beragama ada prinsip-prinsip yang memang memiliki batas dan ketentuan. Perbedaan tidak boleh digunakan untuk menghalalkan segala sesuatu.
Tetapi di antara prinsip yang kokoh itu terdapat ruang yang luas bagi manusia untuk berpikir, berijtihad, berdiskusi, dan memilih cara perjuangan.
Di ruang itulah perbedaan seharusnya ditempatkan.
Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari dinamika manusia.
Sebab manusia bukan mesin yang diprogram untuk menghasilkan jawaban yang sama. Ia memiliki pengalaman yang berbeda, bacaan yang berbeda, lingkungan yang berbeda, tingkat pemahaman yang berbeda, dan tentu saja ego yang juga berbeda.
Bahkan dua orang yang sama-sama membaca ayat dan hadis yang sama bisa sampai pada kesimpulan yang berbeda mengenai persoalan tertentu.
Maka ketika seseorang memilih keluar dari sebuah kelompok karena perbedaan pemikiran, mungkin yang perlu kita lakukan bukan buru-buru mencari label untuknya.
Mungkin lebih baik kita bertanya: apa yang membuatnya pergi?
Pertanyaan itu jauh lebih dewasa daripada sekadar mengatakan, “Dia sudah berubah.”
Sebab perubahan tidak selalu berarti kemunduran.
Ada perubahan yang merupakan kematangan.
Ada perpisahan yang merupakan pertumbuhan.
Ada kepergian yang justru membuat seseorang menemukan kembali alasan mengapa dahulu ia memulai perjalanan.
Jangan Terlalu Cepat Menyebut Berguguran
Saya tidak tahu siapa saja yang sesungguhnya dimaksud ketika istilah “berguguran di jalan dakwah” digunakan.
Tetapi saya merasa kita perlu berhati-hati ketika istilah semacam itu diarahkan kepada orang-orang yang pernah berjalan bersama kita.
Jangan-jangan seseorang tidak sedang berguguran.
Jangan-jangan ia hanya sedang berjalan dengan cara yang berbeda.
Jangan-jangan ia tidak meninggalkan dakwah, melainkan meninggalkan cara berdakwah yang menurutnya perlu diperbaiki.
Jangan-jangan ia tidak meninggalkan kebaikan, tetapi sedang mencari bentuk kebaikan yang lebih sesuai dengan keyakinannya.
Dan jangan-jangan, tanpa kita sadari, kita menyebut seseorang futur bukan karena ia telah meninggalkan jalan kebaikan, tetapi karena ia telah meninggalkan kelompok kita.
Jika demikian, label itu lebih banyak berbicara tentang kita daripada tentang dirinya.
Sebab ketika kita terlalu sibuk menghitung siapa yang keluar dari barisan, kita mungkin lupa bertanya apakah barisan kita sendiri masih bergerak.
Bisa jadi kita masih berdiri di tempat yang sama, mengulang kalimat yang sama, mempertahankan cara yang sama, bukan karena semuanya masih benar dan relevan, tetapi karena kita terlalu nyaman untuk mengoreksinya.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk menentukan siapa yang gugur.
Kita tidak pernah benar-benar tahu isi hati seseorang, perjalanan batinnya, pergulatan pikirannya, atau alasan yang membuatnya mengambil sebuah keputusan.
Yang lebih penting adalah memastikan langkah kita sendiri.
Apakah kita masih berjalan menuju kebaikan?
Apakah keberadaan kita membuat orang lain lebih dekat kepada nilai-nilai yang kita yakini?
Apakah perbedaan membuat kita semakin rendah hati atau justru semakin merasa memiliki kebenaran?
Dan apakah kelompok yang kita cintai membuat kita semakin terbuka terhadap kebenaran, atau justru membuat kita hanya mampu mengenali kebenaran ketika ia datang dengan wajah yang sama seperti wajah kelompok kita?
Barangkali kedewasaan dalam berdakwah bukan hanya kemampuan mengajak orang lain masuk ke barisan kita.
Kedewasaan juga terlihat dari kemampuan menerima bahwa ada orang yang suatu hari memilih berjalan di luar barisan itu—tanpa harus kita anggap telah meninggalkan kebaikan.
Sebab boleh jadi, yang berbeda arah dengan kita bukan sedang tersesat.
Boleh jadi ia hanya sedang mengambil jalan lain menuju tujuan yang sama.
Dan mungkin, suatu hari nanti, kita akan bertemu kembali di tempat yang sama: bukan karena kita berhasil memenangkan kelompok masing-masing, tetapi karena pada akhirnya kita sama-sama menyadari bahwa yang seharusnya kita pertahankan bukanlah batas kelompok, melainkan kebaikan yang sejak awal membuat kita memilih untuk berjalan.
