Konten dari Pengguna

Ketika Kita Tak Lagi Tahan Merasa Bosan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang belakangan sering saya pikirkan: mengapa manusia mudah sekali merasa bosan?

Kita bosan dengan pekerjaan yang dulu kita inginkan. Bosan dengan rutinitas yang dahulu terasa nyaman. Bosan dengan tempat yang beberapa waktu lalu begitu ingin kita datangi. Bosan dengan makanan, tontonan, percakapan, bahkan kadang dengan orang-orang yang sebenarnya kita sayangi.

Begitu rasa bosan datang, kita segera mencari sesuatu yang lain.

Barangkali itulah sebabnya tangan kita begitu mudah meraih telepon genggam ketika tidak ada yang sedang dikerjakan. Sedang menunggu, kita membuka media sosial. Sedang makan, kita menonton video. Sebelum tidur, kita menggulir layar. Bahkan beberapa menit setelah bangun, sebelum benar-benar sadar dari tidur, kita sudah mencari sesuatu untuk dilihat.

Seolah-olah ada kekosongan yang harus segera diisi.

Saya kemudian bertanya-tanya: jangan-jangan yang menjadi persoalan bukan rasa bosannya. Jangan-jangan persoalannya justru karena kita sudah terlalu lama tidak belajar bagaimana caranya merasa bosan.

Ilustrasi dibuat dengan AI

Bosan dan Keinginan untuk Terus Bergerak

Pada dasarnya, kebosanan bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Ia merupakan pengalaman psikologis yang muncul ketika perhatian kita tidak menemukan sesuatu yang cukup menarik, menantang, atau bermakna untuk dituju.

Karena itu, manusia memang memiliki dorongan untuk keluar dari kebosanan. Kita mencari pengalaman baru, tantangan baru, pengetahuan baru. Dorongan semacam ini sebenarnya penting. Tanpa keinginan terhadap sesuatu yang baru, mungkin manusia tidak akan banyak menemukan, menciptakan, menjelajah, atau berkembang.

Masalahnya muncul ketika dorongan untuk keluar dari kebosanan berubah menjadi ketidakmampuan untuk tinggal sebentar di dalamnya.

Kita tidak lagi sekadar berkata, “Saya bosan.”

Kita mulai merasa, “Saya tidak tahan bosan.”

Perbedaannya kecil dalam kalimat, tetapi besar dalam kehidupan.

Sebab dari ketidakmampuan itulah kita mulai mencari pelarian. Dan pelarian paling mudah pada zaman ini berada tepat di dalam saku kita.

Ada sesuatu yang paradoksal di sini. Kita hidup pada masa ketika hiburan, informasi, percakapan, berita, musik, video, dan berbagai bentuk rangsangan belum pernah tersedia sebanyak sekarang. Namun, sebuah perspektif yang diterbitkan Communications Psychology pada 2024 justru mencatat meningkatnya perhatian terhadap kebosanan di era digital. Salah satu penjelasannya adalah bahwa media digital dapat meningkatkan standar rangsangan yang kita harapkan, membagi perhatian, mengurangi rasa bermakna, dan pada akhirnya membuat aktivitas yang lebih tenang terasa semakin membosankan.

Jadi mungkin ada sesuatu yang keliru dalam cara kita mencoba mengatasi kebosanan.

Kita menggunakan lebih banyak stimulasi untuk menghilangkan rasa bosan, padahal stimulasi yang terus-menerus justru dapat membuat kita semakin sulit menikmati sesuatu yang sederhana.

Kita mengejar hiburan untuk menghindari kebosanan, tetapi tanpa sadar sedang membangun manusia yang semakin tidak tahan terhadap keheningan.

Ketika Algoritma Menemukan Titik Lemah Kita

Di sinilah media sosial menjadi menarik.

Algoritma sebenarnya tidak perlu mengetahui bahwa kita sedang bosan. Ia cukup mengetahui bahwa ketika kita bosan, kita cenderung membuka aplikasi.

Setelah itu, sistem akan bekerja.

Satu video selesai. Kita geser.

Tidak menarik. Geser lagi.

Yang berikutnya lebih lucu.

Berikutnya lebih mengejutkan.

Berikutnya menyentuh sesuatu yang kita sukai.

Kemudian muncul lagi sesuatu yang membuat penasaran.

Kita terus menggulir karena tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan muncul sesudahnya.

Penelitian tentang perilaku media sosial menunjukkan bahwa pola keterlibatan pengguna dapat mengikuti prinsip reward learning. Dalam penelitian yang menganalisis lebih dari satu juta unggahan dari lebih dari 4.000 orang, perilaku pengguna menunjukkan pola yang konsisten dengan pembelajaran berbasis imbalan: manusia cenderung mengatur perilakunya untuk memperoleh imbalan sosial.

Maka kita sebenarnya sedang berhadapan dengan pertemuan antara dua hal: otak manusia yang menyukai kebaruan dan sistem digital yang semakin pandai menyediakan kebaruan.

Algoritma mempelajari apa yang membuat kita berhenti, apa yang membuat kita menonton lebih lama, apa yang membuat kita kembali. Kita memberikan data melalui perilaku kita, lalu sistem menggunakannya untuk memperkirakan apa yang kemungkinan akan membuat kita bertahan lebih lama.

Tidak harus ada teori konspirasi di sini.

Cukup ada insentif bisnis, teknologi rekomendasi, dan manusia yang memang menyukai sesuatu yang menarik.

Yang mengkhawatirkan justru karena semuanya bekerja dengan sangat alami.

Penelitian pada 2024 bahkan menemukan sesuatu yang terasa seperti ironi: berpindah-pindah video secara cepat untuk menghilangkan kebosanan justru dapat membuat orang semakin bosan dan merasa kurang terlibat dengan konten yang mereka tonton. Dalam tujuh eksperimen dengan lebih dari 1.200 peserta, peneliti menemukan bahwa digital switching dapat membuat pengalaman menonton terasa kurang bermakna karena orang tidak memberi cukup waktu untuk benar-benar masuk ke dalam suatu konten.

Artinya, kita bisa saja sedang menggunakan media sosial untuk melawan kebosanan, tetapi cara kita menggunakannya justru memperpanjang kebosanan itu sendiri.

Kita menggulir untuk mencari sesuatu yang menarik.

Namun karena terus menggulir, kita tidak pernah benar-benar masuk ke dalam sesuatu.

Kita berpindah sebelum sempat mengalami.

Kita Kehilangan Kemampuan Menunggu

Ada perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari yang menurut saya layak diperhatikan.

Dulu, ketika menunggu seseorang, kita menunggu.

Ketika antre, kita mengantre.

Ketika perjalanan belum sampai, kita melihat keluar jendela.

Ketika sendirian, kita mungkin melamun.

Sekarang hampir setiap jeda segera diisi.

Menunggu lima menit terasa seperti waktu yang terbuang. Padahal belum tentu.

Mungkin lima menit itu justru ruang yang dibutuhkan pikiran untuk bernapas.

Kita terlalu cepat menganggap bahwa setiap waktu harus produktif atau menghibur. Kalau tidak menghasilkan sesuatu, setidaknya harus memberikan kesenangan.

Padahal tidak semua waktu harus menghasilkan apa-apa.

Ada waktu yang memang hanya perlu dilewati.

Dan mungkin di situlah kita mulai kehilangan sesuatu yang penting: kemampuan untuk membiarkan pikiran berjalan sendiri.

Riset psikologi tentang perhatian dan mind-wandering menunjukkan bahwa pikiran yang dibiarkan mengembara tidak selalu merupakan tanda kehilangan produktivitas. Dalam konteks tertentu, pengembaraan pikiran dapat berkaitan dengan proses kreatif, pemecahan masalah, dan refleksi diri. Bahkan penelitian mengenai pengalaman menunggu menunjukkan bahwa manusia cenderung meremehkan betapa menyenangkan dan menariknya sekadar memberi kesempatan kepada pikiran untuk bekerja sendiri.

Mungkin itu sebabnya beberapa gagasan terbaik justru datang ketika kita sedang tidak mencarinya.

Saat berjalan.

Saat mandi.

Saat berkendara.

Saat memandang langit.

Saat duduk sendirian.

Bukan karena otak berhenti bekerja, tetapi karena untuk beberapa saat kita berhenti mengganggunya.

Belajar Tinggal di Dalam Rasa Bosan

Lalu bagaimana?

Haruskah kita menikmati rasa bosan atau menghilangkannya?

Saya kira bukan keduanya secara mutlak.

Yang perlu kita lakukan adalah belajar tinggal sebentar di dalam rasa bosan sebelum memutuskan apakah rasa itu memang harus dihilangkan.

Ketika bosan datang, tidak perlu langsung mengambil telepon.

Duduklah beberapa menit.

Lihat apa yang terjadi.

Mungkin muncul keinginan untuk memeriksa pesan. Biarkan.

Mungkin muncul dorongan untuk membuka media sosial. Sadari.

Mungkin pikiran terasa gelisah. Tidak perlu dilawan.

Kita tidak sedang berusaha mengosongkan pikiran. Kita hanya sedang belajar bahwa tidak setiap dorongan harus segera dituruti.

Ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya merupakan latihan penting bagi kebebasan pribadi.

Sebab ketika setiap dorongan langsung diikuti tindakan, kita perlahan kehilangan jarak antara keinginan dan keputusan.

Bosan sedikit, membuka ponsel.

Cemas sedikit, mencari hiburan.

Sepi sedikit, mencari percakapan.

Tidak nyaman sedikit, mencari pelarian.

Lama-lama kita tidak lagi memilih. Kita hanya bereaksi.

Padahal kedewasaan mungkin justru tumbuh dari kemampuan untuk berkata: saya merasa tidak nyaman, tetapi saya tidak harus segera melakukan sesuatu.

Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa kebosanan tidak selalu merusak konsentrasi dan produktivitas secara seragam. Makna dari aktivitas yang sedang dilakukan ternyata berperan penting. Ketika seseorang merasa tugasnya bermakna, dampak negatif kebosanan terhadap produktivitas dapat berkurang.

Ini membuat saya berpikir bahwa persoalannya bukan sekadar bagaimana mengusir bosan, tetapi juga bagaimana menemukan kembali makna dalam sesuatu yang kita jalani.

Sebab hampir semua hal yang berharga memiliki bagian yang membosankan.

Membaca buku tidak selalu menarik.

Menulis tidak selalu menyenangkan.

Berolahraga tidak selalu terasa ringan.

Bekerja tidak selalu menggairahkan.

Merawat keluarga tidak selalu mudah.

Bahkan mencintai seseorang pun tidak setiap hari menghadirkan perasaan yang sama.

Kalau kita hanya bertahan pada sesuatu ketika ia memberikan reward, kita akan menjadi manusia yang selalu berpindah sebelum sempat menemukan kedalaman.

Mungkin yang Perlu Kita Lawan Bukan Kebosanan

Saya mulai berpikir bahwa sumber masalah manusia mungkin bukan rasa bosan itu sendiri.

Bosan adalah bagian dari pengalaman manusia.

Yang lebih berbahaya adalah ketika kita menganggap setiap kebosanan sebagai sesuatu yang harus segera diperbaiki.

Karena dari sanalah kita dapat masuk ke dalam siklus yang tidak pernah selesai.

Kita bosan, lalu mencari sesuatu yang baru.

Sesuatu yang baru akhirnya menjadi biasa.

Setelah menjadi biasa, kita bosan lagi.

Kita mencari sesuatu yang baru lagi.

Begitu seterusnya.

Pekerjaan baru.

Tempat baru.

Barang baru.

Tontonan baru.

Hubungan baru.

Pengalaman baru.

Dan kita mengira yang kurang dari hidup kita adalah sesuatu yang baru, padahal mungkin yang kurang adalah kemampuan untuk menemukan kedalaman dari sesuatu yang sudah kita miliki.

Ada perbedaan antara kehidupan yang kaya pengalaman dan kehidupan yang terus-menerus membutuhkan pengalaman baru agar terasa hidup.

Yang pertama memperluas kehidupan.

Yang kedua mungkin sedang melarikan diri dari dirinya sendiri.

Karena itu, mungkin kita perlu sesekali melakukan sesuatu yang sangat sederhana: membiarkan diri kita bosan.

Berjalan tanpa musik.

Duduk tanpa ponsel.

Menunggu tanpa membuka layar.

Makan tanpa menonton.

Membaca tanpa berpindah aplikasi.

Memandang keluar jendela tanpa merasa harus mengabadikannya.

Bukan sebagai ritual anti-teknologi. Bukan pula sebagai usaha kembali ke masa lalu.

Melainkan sebagai cara sederhana untuk mengambil kembali sesuatu yang perlahan kita serahkan kepada dunia digital: kemampuan mengatur perhatian kita sendiri.

Sebab ketika perhatian kita selalu diperebutkan, kebebasan tidak selalu berarti mampu melakukan apa pun yang kita inginkan.

Kadang-kadang kebebasan justru berarti mampu tidak melakukan sesuatu yang sangat ingin kita lakukan.

Termasuk tidak membuka ponsel ketika bosan.

Tidak menggulir ketika gelisah.

Tidak mencari hiburan ketika suasana menjadi sunyi.

Tidak selalu membutuhkan sesuatu untuk mengisi ruang kosong.

Barangkali pada akhirnya kita tidak perlu belajar mencintai kebosanan.

Cukup belajar untuk tidak takut kepadanya.

Sebab mungkin kebosanan hanyalah sebuah pintu. Di baliknya ada keheningan yang selama ini kita hindari. Ada pikiran yang belum sempat kita dengarkan. Ada kenangan yang belum selesai kita pahami. Ada gagasan yang belum menemukan tempat. Ada bagian dari diri kita yang selama ini tenggelam karena terlalu banyak suara dari luar.

Dan mungkin, setelah cukup lama duduk di sana, kita akan menemukan sesuatu yang sederhana: ternyata tidak ada yang kurang dari hidup hanya karena tidak ada sesuatu yang sedang terjadi.

Hari boleh berjalan biasa-biasa saja.

Tidak ada notifikasi penting.

Tidak ada video yang harus ditonton.

Tidak ada berita yang harus diketahui.

Tidak ada tempat baru yang harus didatangi.

Tidak ada pengalaman baru yang harus dikejar.

Kita hanya duduk, bernapas, dan membiarkan waktu berjalan.

Dan untuk pertama kalinya, mungkin kita tidak lagi bertanya, “Apa yang bisa membuat saya tidak bosan?”

Kita mulai bertanya:

“Bisakah saya tetap merasa utuh ketika tidak ada sesuatu yang istimewa sedang terjadi?”

Barangkali di situlah kebosanan berhenti menjadi musuh.

Ia berubah menjadi ruang.

Dan di dalam ruang yang kosong itu, kita perlahan menemukan kembali diri sendiri.