Konten dari Pengguna

Ketika Mangrove Hilang, Laut Mengingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi di Tepian Teluk

Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami ketika tubuh bergerak pelan dan pikiran diberi ruang untuk mengembara. Bagi saya, momen itu kerap hadir saat berjalan kaki atau gowes di pagi hari, terutama ketika rute perjalanan menyusuri tepian teluk. Udara masih dingin, suara kota belum sepenuhnya bising, dan laut tampak seperti cermin yang menahan banyak rahasia.

Di saat-saat seperti itu, pemandangan sederhana sering berubah menjadi bahan renungan yang jauh lebih besar. Salah satu yang memantik pikiran saya adalah hutan bakau—atau dalam istilah ekologis yang lebih luas, ekosistem mangrove.

Bagi sebagian orang, bakau mungkin hanya tampak sebagai kumpulan pohon yang tumbuh di tanah berlumpur, akarnya menjulur ke segala arah, kadang terlihat kusut dan tak estetik. Namun semakin lama saya memperhatikannya, semakin saya merasa bahwa bakau—sebagai bagian dari ekosistem mangrove—sesungguhnya adalah salah satu bentuk kecerdasan alam yang paling sunyi.

Saya kerap membayangkan masa ketika manusia belum datang menghuni kawasan tepian teluk atau pesisir pantai. Barangkali sebelum rumah-rumah berdiri, sebelum beton dituang, sebelum dermaga dan pelabuhan dibangun, wilayah-wilayah itu ditutupi rimbunnya hutan mangrove. Bakau, api-api, perepat, dan vegetasi pesisir lainnya tumbuh saling menopang. Akar-akarnya saling bertaut seperti jemari yang saling mengunci, memegang tanah agar tidak mudah tercerabut oleh air.

Di sanalah kehidupan berlangsung dalam keseimbangan yang nyaris sempurna.

Daun-daun yang gugur menjadi nutrisi bagi mikroorganisme. Organisme kecil itu menjadi makanan bagi ikan muda, kepiting, udang, dan berbagai biota lain. Dalam bahasa ekologi, mangrove adalah nursery ground—tempat pembibitan alami bagi kehidupan laut. Tetapi bagi saya, istilah itu terasa terlalu teknis untuk menggambarkan makna sebenarnya. Mangrove bukan sekadar habitat. Ia adalah rahim bagi ekosistem pesisir.

Dan seperti rahim, keberadaannya sering tidak disadari justru karena ia bekerja diam-diam.

Pohon bakau (dokumentasi pribadi)

Dinding yang Tidak Dibangun Manusia

Bakau—dan seluruh ekosistem mangrove—tidak hanya memberi makan laut; ia juga melindungi daratan.

Ketika ombak datang, ketika air pasang naik, bahkan ketika gelombang besar menghantam, mangrove menjadi lapis pertahanan pertama. Ia menyerap energi air, memperlambat laju gelombang, dan mengurangi daya rusak yang mencapai daratan.

Kita sering terpesona pada teknologi besar: bendungan raksasa, tanggul beton, atau dinding laut dengan biaya triliunan rupiah. Namun jauh sebelum manusia mengenal rekayasa sipil, alam telah lebih dulu menciptakan sistem perlindungan yang bekerja tanpa tender, tanpa kontraktor, dan tanpa seremoni peresmian.

Mangrove adalah giant sea wall versi alam.

Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar dari alam: perlindungan tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras. Kadang yang lentur justru lebih kuat. Akar bakau tidak melawan air dengan kekakuan; ia menahan air dengan kelenturan.

Ada kebijaksanaan besar di situ.

Begitulah cara alam bekerja—atau, jika memakai bahasa iman, begitulah cara Tuhan menata keseimbangan. Segala sesuatu diciptakan dalam keterhubungan. Laut menjaga awan, awan menjaga hujan, hujan menjaga sungai, sungai menjaga pesisir, dan mangrove menjaga batas tempat laut berhenti dan daratan bermula.

Masalah muncul ketika manusia mulai memutus rantai keterhubungan itu.

Ketika Manusia Menggeser Alam

Perubahan besar biasanya tidak datang sekaligus. Ia datang perlahan, hampir tak terasa.

Awalnya mungkin hanya satu atau dua rumah yang berdiri di tepi teluk. Lalu jumlahnya bertambah menjadi puluhan. Kemudian ratusan. Setelah itu ribuan. Sampai akhirnya jutaan manusia hidup di wilayah yang dulu sepenuhnya milik alam.

Pertumbuhan permukiman selalu membawa kebutuhan baru: lahan hunian, jalan, pelabuhan, kawasan industri, reklamasi, pusat ekonomi. Dan di titik itulah mangrove mulai dianggap sebagai penghalang pembangunan.

Pohon-pohon ditebang. Lumpur ditimbun. Akar dicabut.

Sedikit demi sedikit, ruang hidup mangrove menyusut.

Kisah ini tidak hanya terjadi di satu teluk atau satu pesisir tertentu. Ia terjadi hampir di mana-mana. Ketika manusia datang, alam dipaksa mundur.

Di sinilah saya teringat pada satu ironi yang telah lama diingatkan dalam kitab suci: manusia kerap menjadi sumber kerusakan di muka bumi. Menariknya, kerusakan itu sering tidak lahir dari niat jahat. Ia lahir dari sesuatu yang secara moral tampak netral—bahkan mulia—yakni pembangunan.

Masalahnya bukan pada pembangunan itu sendiri.

Masalahnya adalah ketika pembangunan dipahami semata sebagai ekspansi ruang ekonomi, tanpa memasukkan batas-batas ekologis sebagai fondasi berpikir.

Kita hidup dalam zaman ketika pertumbuhan sering dijadikan ukuran utama keberhasilan. Kota dianggap maju ketika gedung bertambah, pelabuhan meluas, kawasan industri berkembang. Tetapi pertanyaan penting jarang diajukan: apa yang hilang untuk memungkinkan semua itu terjadi?

Setiap reklamasi punya harga ekologis.

Setiap beton yang dicor punya biaya yang sering tidak masuk dalam neraca ekonomi.

Dan yang paling tragis, biaya itu biasanya baru dihitung ketika kerusakan telah terjadi.

Kesadaran yang Datang Terlambat

Ada satu sifat manusia yang menarik sekaligus problematik: kita sering baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya.

Mangrove adalah contoh sempurna.

Selama mangrove masih ada, sedikit orang peduli. Ia tidak menghasilkan pemandangan mewah seperti gedung pencakar langit. Ia tidak memberi kesan modern. Ia tidak menghadirkan keuntungan cepat.

Namun ketika mangrove hilang, dampaknya mulai terasa.

Abrasi datang pelan-pelan.

Daratan terkikis sedikit demi sedikit, seperti tabungan yang terus diambil tanpa pernah diisi kembali. Air laut masuk semakin jauh. Permukiman menjadi rentan. Infrastruktur yang mahal mendadak tampak rapuh di hadapan kekuatan alam.

Pada titik itulah kesadaran mulai muncul.

Lalu manusia bertanya: bagaimana menghentikan laut?

Dari pertanyaan itu lahir berbagai solusi teknologis. Salah satunya adalah pembangunan giant sea wall—tembok raksasa untuk menahan air laut agar tidak terus merangsek ke daratan.

Secara teknis, solusi semacam itu mungkin diperlukan di banyak tempat. Saya tidak menafikan urgensi rekayasa infrastruktur. Ada kondisi tertentu ketika intervensi teknologi memang tak terelakkan.

Namun saya terus dihantui satu pertanyaan yang terasa sederhana tetapi mendasar:

Mengapa kita begitu bersemangat membangun dinding buatan, tetapi terlambat menyadari nilai dinding alami yang telah lebih dulu ada?

Mengapa sesuatu baru dianggap penting ketika harus dibangun dengan beton dan anggaran besar?

Barangkali masalah kita bukan semata kekurangan teknologi, melainkan cara pandang yang terlalu antroposentris.

Kita terbiasa melihat alam sebagai objek yang dapat diatur, dieksploitasi, atau dikoreksi. Padahal sering kali yang perlu dikoreksi justru cara berpikir kita sendiri.

Melampaui Retorika Lingkungan

Hari ini, kesadaran ekologis sebenarnya semakin sering terdengar. Kita mendengar istilah keberlanjutan, transisi hijau, pembangunan berwawasan lingkungan, ekonomi biru, restorasi mangrove.

Semua terdengar indah.

Tetapi sering kali berhenti sebagai retorika.

Bahasa lingkungan mudah dijadikan kosmetik politik. Ia tampil dalam pidato, dokumen perencanaan, konferensi, dan kampanye korporasi. Namun di lapangan, kepentingan jangka pendek kerap tetap menjadi penentu utama.

Inilah paradoks kita.

Kita tahu kerusakan sedang terjadi.

Kita paham risikonya.

Kita memiliki data.

Kita punya teori.

Tetapi pengetahuan tidak otomatis melahirkan tindakan.

Mengapa?

Mungkin karena persoalan ekologis pada akhirnya bukan sekadar persoalan pengetahuan, melainkan persoalan moral dan imajinasi.

Kita rusak bukan karena tidak tahu, tetapi karena gagal merasakan keterhubungan.

Selama laut dianggap “di luar sana,” selama mangrove dianggap “urusan aktivis lingkungan,” selama kerusakan ekologis dipahami sebagai masalah generasi mendatang, maka tindakan nyata akan terus tertunda.

Padahal, krisis ekologis selalu bermula dari krisis cara memandang dunia.

Belajar Rendah Hati pada Alam

Pada akhirnya, refleksi tentang bakau dan mangrove membawa saya pada satu kesadaran yang lebih luas.

Mungkin persoalan terbesar manusia modern bukan hanya soal kerusakan lingkungan, tetapi ilusi superioritas.

Kita terlalu percaya bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan dengan lebih banyak teknologi, lebih banyak beton, lebih banyak intervensi.

Padahal tidak semua solusi harus diciptakan dari nol.

Sebagian solusi sebenarnya sudah disediakan alam. Tugas kita bukan selalu menciptakan, tetapi kadang cukup menjaga.

Mangrove mengajarkan kerendahan hati itu.

Ia mengingatkan bahwa kekuatan tidak selalu tampil megah. Bahwa perlindungan tidak selalu keras. Bahwa sesuatu yang tampak liar dan sederhana bisa menyimpan fungsi yang jauh lebih penting daripada struktur paling modern sekalipun.

Barangkali masa depan pesisir bukan sekadar soal memilih antara tembok laut atau restorasi mangrove. Yang lebih penting adalah membangun cara pandang baru: pembangunan yang tidak memusuhi ekologi, kemajuan yang tidak menyingkirkan alam, dan kebijakan yang tidak menganggap lingkungan sebagai variabel sisa.

Karena pada akhirnya, laut selalu mengingat.

Ia mengingat hutan yang ditebang.

Ia mengingat akar yang dicabut.

Ia mengingat ruang yang dirampas.

Dan ketika keseimbangan terlalu jauh terganggu, laut akan menjawab dengan caranya sendiri—melalui abrasi, banjir rob, atau gelombang yang tak lagi bisa ditahan.

Pertanyaannya bukan apakah laut akan bereaksi.

Pertanyaannya adalah: sebelum itu terjadi, apakah kita masih punya kerendahan hati untuk belajar dari mangrove?

Sebab mungkin, di zaman yang begitu percaya pada beton dan baja, justru akar-akar yang tumbuh di lumpur itulah yang sedang mengajarkan sesuatu yang paling penting tentang peradaban: bahwa bertahan hidup bukan hanya soal membangun lebih tinggi, tetapi juga tentang menjaga apa yang sejak awal menopang kita.