Ketika Perang Tak Punya Jalan Keluar

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada sesuatu yang melelahkan dari perang yang tidak kunjung selesai.
Pada awalnya, perang selalu tampak seperti peristiwa yang memiliki titik akhir. Ada serangan, balasan, pihak yang menang dan kalah, lalu meja perundingan. Namun semakin lama sebuah perang berlangsung, semakin kabur pula batas antara kemenangan dan kekalahan. Yang tersisa bukan lagi pertanyaan siapa yang menang, melainkan berapa banyak yang hancur sebelum semua pihak akhirnya bersedia berhenti.
Konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat memperlihatkan paradoks itu.
Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sekaligus menghantam sejumlah fasilitas dan militer. Iran kemudian membalas. Konflik yang semula mungkin dibayangkan sebagai operasi militer singkat berubah menjadi perang yang memasuki bulan kedelapan.
Gencatan senjata pernah dicapai. Upaya diplomasi juga dilakukan. Tetapi kesepakatan tidak bertahan. Ketegangan di Selat Hormuz terus mengintai. Maka istilah no war, no peace terasa semakin tepat: tidak ada perang total setiap hari, tetapi juga tidak ada perdamaian yang benar-benar bisa dipercaya.
Iran Bertahan
Iran adalah bagian paling menarik sekaligus paling tragis dari cerita ini.
Negara itu kehilangan pemimpin tertingginya, mengalami kerusakan pada sejumlah struktur militernya, dan menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar. Sanksi, gangguan perdagangan, tekanan terhadap mata uang, serta persoalan energi dan air menambah beban yang sudah lama ditanggung masyarakat.
Namun Iran tidak runtuh.
Mojtaba Khamenei kemudian menggantikan ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi. Kemampuan Iran untuk bertahan menunjukkan kombinasi geografi, pengalaman menghadapi sanksi, perang asimetris, jaringan sekutu regional, dan struktur keamanan yang terbiasa bekerja dalam tekanan.
Tetapi di sini kita perlu membedakan antara ketahanan negara dan kesejahteraan masyarakat.
Sebuah rezim dapat bertahan sementara masyarakatnya semakin miskin. Negara dapat tetap memiliki kemampuan menyerang lawan sekaligus kehilangan sebagian kemampuan menyediakan kehidupan yang layak bagi warganya.
Karena itu, kemampuan Iran bertahan tidak otomatis berarti perang tidak menghancurkannya. Pertanyaannya justru: berapa lama sebuah masyarakat dapat menanggung biaya untuk terus bertahan?
Israel Lebih Cepat Pulih?
Perbandingan dengan Israel menarik karena kedua negara menghadapi konflik yang sama, tetapi memiliki struktur ekonomi dan institusi yang berbeda.
Israel memiliki sektor teknologi tinggi, basis perusahaan swasta yang dinamis, sistem keuangan relatif stabil, institusi moneter yang kuat, serta aliansi strategis dengan Amerika Serikat. Ekonominya pun menunjukkan kemampuan rebound setelah mengalami kontraksi akibat perang.
Tetapi ini bukan berarti Israel tidak terluka. Perang tetap menekan pertumbuhan, memperbesar beban fiskal, dan menciptakan kelelahan sosial.
Jadi istilah yang lebih tepat bukan bahwa Israel “baik-baik saja”, melainkan memiliki kapasitas pemulihan yang relatif kuat.
Sebuah rumah yang fondasinya kuat tetap bisa rusak ketika dihantam badai. Tetapi ketika badai berhenti, fondasi itu membuat proses perbaikannya lebih cepat.
Iran menghadapi persoalan berbeda: sanksi berkepanjangan, ketergantungan pada minyak, keterbatasan akses finansial, serta persoalan energi dan infrastruktur membuat setiap guncangan baru memiliki efek berlapis.
Perang memperlihatkan satu hukum ekonomi yang sederhana: krisis tidak menyerang semua negara dengan cara yang sama.
Tidak Bisa Menghapus Perang?
Di tengah konflik yang tampaknya tidak menemukan jalan keluar, saya mulai merasa bahwa pertanyaan tentang “solusi tuntas” mungkin merupakan pertanyaan yang keliru.
Menghapus Israel dari peta bukan solusi. Menghapus Iran juga bukan solusi. Mengharapkan satu pemimpin jatuh lalu seluruh konflik selesai juga bukan solusi.
Bahkan mengganti manusia dengan kecerdasan buatan sebagai pengambil keputusan politik tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. AI dapat menghitung risiko lebih cepat, tetapi siapa yang menentukan nilai apa yang harus dilindungi? Siapa yang menentukan batas penderitaan yang dapat diterima?
Itu bukan pertanyaan teknis. Itu pertanyaan moral.
Karena itu, mungkin tujuan manusia bukan menciptakan dunia tanpa konflik. Tujuan yang lebih realistis adalah membangun institusi dan kebiasaan yang membuat konflik tidak mudah berubah menjadi perang, dan perang tidak mudah berubah menjadi kehancuran total.
Deterrence tetap diperlukan. Diplomasi tetap diperlukan. Tekanan internasional tetap diperlukan. Perubahan internal tetap penting. Begitu pula kemampuan berbicara dengan pihak yang tidak kita sukai.
Sebab diplomasi yang paling penting justru sering kali bukan antara orang-orang yang saling percaya. Diplomasi yang penting adalah antara pihak-pihak yang saling tidak percaya tetapi sadar bahwa perang tanpa akhir akan menghancurkan mereka bersama-sama.
Mungkin itulah pelajaran paling pahit dari perang ini.
Tidak selalu ada kemenangan yang bersih. Tidak selalu ada kekalahan yang menentukan. Tidak selalu ada perjanjian yang menyelesaikan seluruh persoalan.
Peradaban bukan kemampuan manusia menghapus konflik. Peradaban adalah kemampuan manusia menahan dirinya agar konflik tidak berubah menjadi kehancuran yang lebih besar.
Perang mengajarkan kita tentang kekuatan senjata. Perdamaian mengajarkan sesuatu yang lebih sulit: kekuatan untuk berhenti.
Dunia mungkin tidak membutuhkan solusi sempurna. Dunia membutuhkan manusia yang cukup rasional untuk menerima bahwa solusi yang tidak sempurna tetapi menghentikan penderitaan sering kali lebih berharga daripada kemenangan sempurna yang hanya meninggalkan reruntuhan.
Sebab orang-orang yang memulai perang mungkin memiliki alasan yang sangat besar. Tetapi orang-orang biasa yang membayar harganya sering kali hanya memiliki satu keinginan sederhana: pulang, hidup tenang, dan melihat hari esok.
