Ketika Timeline Tak Lagi Milik Kita

Praktisi Pemerintahan, Alumnus UPN Veteran - Disclamer: Tulisan tidak mewakili pandangan dari organisasi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada satu momen yang datang tanpa banyak tanda: rasa jenuh terhadap media sosial. Ia tidak meledak, tidak dramatis, melainkan merayap pelan seperti kelelahan yang tak sempat disadari. Saya sampai di titik itu—ketika membuka media sosial bukan lagi menjadi kebiasaan yang menyenangkan, melainkan rutinitas yang menguras sesuatu yang sulit dijelaskan. Barangkali bukan sekadar waktu, tetapi juga kejernihan pikiran.
Dulu, hubungan saya dengan media sosial terasa lebih sederhana. Saya mengikuti orang yang saya kenal atau yang saya anggap relevan. Timeline menjadi semacam ruang yang bisa saya kurasi—meski tidak sepenuhnya sempurna, setidaknya ada ilusi kendali. Namun kini, lanskap itu berubah. Timeline tidak lagi terasa sebagai ruang pribadi. Ia menjelma seperti pasar yang riuh, di mana siapa pun bisa berteriak, dan entah bagaimana, suara-suara itu sampai juga ke telinga saya.
Algoritma dan Ilusi Pilihan
Perubahan ini bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari cara kerja algoritma yang semakin canggih sekaligus semakin agresif. Platform media sosial tidak lagi sekadar menampilkan apa yang kita pilih, tetapi apa yang mereka anggap akan membuat kita bertahan lebih lama. Dalam logika ini, perhatian menjadi komoditas, dan algoritma adalah pedagang yang tak pernah lelah menawarkan barang dagangannya.
Penelitian dalam bidang psikologi digital menunjukkan bahwa algoritma cenderung mengutamakan konten yang memicu emosi kuat—marah, takut, atau terkejut—karena emosi semacam itu meningkatkan keterlibatan (engagement). Dalam studi yang diterbitkan di Nature Human Behaviour (2021), disebutkan bahwa konten bermuatan emosi negatif lebih cepat menyebar dan lebih sering mendapat respons dibandingkan konten netral atau positif. Artinya, apa yang kita lihat di timeline bukanlah cerminan realitas, melainkan hasil seleksi yang dirancang untuk memancing reaksi.
Di titik ini, pilihan kita menjadi semu. Kita merasa bebas, tetapi sebenarnya diarahkan. Kita merasa memilih, tetapi sesungguhnya dipilihkan. Saya bisa membisukan satu akun, tetapi segera muncul akun lain dengan nada serupa. Seperti menutup satu pintu, hanya untuk menemukan jendela lain terbuka tanpa izin.
Invasi Halus ke Ruang Batin
Yang membuatnya melelahkan bukan hanya banyaknya informasi, tetapi sifatnya yang invasif. Postingan-postingan itu datang tanpa diminta, menyusup ke dalam ruang yang seharusnya menjadi wilayah privat: pikiran kita sendiri. Ada semacam pelanggaran yang tidak kasat mata—batas antara dunia luar dan ruang batin menjadi kabur.
Di sinilah saya mulai mempertanyakan: mengapa saya harus mendengarkan opini orang-orang yang tidak saya kenal? Mengapa saya harus memberi tempat bagi narasi yang tidak saya pilih? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi di tengah arus informasi yang begitu deras, ia menjadi penting.
Dalam Attention Economy, perhatian manusia dipandang sebagai sumber daya terbatas. Ketika perhatian kita terus-menerus ditarik ke berbagai arah, kemampuan kita untuk berpikir mendalam pun terkikis. Nicholas Carr, dalam bukunya The Shallows, mengingatkan bahwa paparan informasi yang terfragmentasi dapat mengurangi kapasitas kita untuk berkonsentrasi dan merenung secara mendalam. Apa yang hilang bukan hanya fokus, tetapi juga kedalaman berpikir.
Saya mulai merasakan itu. Pikiran menjadi mudah lelah, bukan karena banyak berpikir, tetapi karena terlalu sering terganggu.
Kebisingan yang Terasa Normal
Jika diperhatikan lebih jauh, sebagian besar percakapan di media sosial bergerak dalam pola yang sama. Ada tuduhan yang dibungkus keyakinan, ada opini yang lebih menyerupai serangan, dan ada respons yang tak kalah kerasnya. Semua saling bertabrakan, membentuk semacam kebisingan kolektif yang terus berputar.
Yang mengkhawatirkan, kebisingan ini perlahan dianggap normal. Kita terbiasa melihat konflik, terbiasa membaca kemarahan, bahkan terbiasa terlibat di dalamnya. Padahal, jika kita mundur sejenak, kita akan menyadari betapa sedikitnya ruang untuk percakapan yang jernih dan reflektif.
Fenomena ini juga berkaitan dengan apa yang disebut sebagai negativity bias—kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan hal-hal negatif dibandingkan yang positif. Media sosial, dengan algoritmanya, memperkuat bias ini. Akibatnya, kita merasa dunia lebih buruk dari yang sebenarnya, dan tanpa sadar, kita ikut menyumbang pada siklus tersebut.
Di titik tertentu, saya merasa lelah. Bukan hanya lelah membaca, tetapi lelah menjadi bagian dari arus yang tidak saya pilih.
Memilih Sunyi sebagai Sikap
Maka, muncul satu pilihan yang terasa sederhana sekaligus radikal: berhenti. Menutup aplikasi, bahkan menghapusnya dari perangkat yang setiap hari saya genggam. Keputusan ini bukan bentuk pelarian, melainkan upaya untuk mengambil kembali kendali atas apa yang saya konsumsi.
Ada anggapan bahwa menjauh dari media sosial berarti mengasingkan diri dari dunia. Namun bagi saya, justru sebaliknya. Dengan menjauh, saya merasa memiliki kembali ruang untuk benar-benar hadir—baik dalam percakapan nyata maupun dalam dialog dengan diri sendiri.
Keheningan yang saya temukan bukanlah kekosongan, melainkan ruang. Ruang untuk berpikir tanpa distraksi, untuk membaca tanpa tergesa, untuk meresapi tanpa harus segera bereaksi. Dalam keheningan itu, saya mulai mendengar kembali suara yang sempat tenggelam: suara saya sendiri.
Tentu saja, ini bukan ajakan untuk sepenuhnya meninggalkan media sosial. Platform tersebut tetap memiliki nilai—sebagai sarana informasi, koneksi, dan ekspresi. Namun, yang perlu kita sadari adalah bahwa relasi kita dengan media sosial tidak bersifat netral. Ia membentuk cara kita melihat dunia, bahkan cara kita memahami diri sendiri.
Karena itu, barangkali yang lebih penting bukan sekadar bagaimana kita menggunakan media sosial, tetapi sejauh mana kita masih memiliki kendali atasnya.
Pada akhirnya, ini bukan hanya soal teknologi, tetapi soal pilihan. Pilihan untuk menyaring, untuk membatasi, untuk mengatakan cukup. Di tengah dunia yang semakin bising, memilih sunyi bisa menjadi bentuk perlawanan yang paling tenang—dan mungkin, yang paling perlu.
