Liang Kabori dan Jejak Manusia Puluhan Ribu Tahun

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya berkesempatan mengunjungi dua gua di Desa Liang Kabori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara: Liang Kabori dan Liang Metanduno. Di dinding keduanya terdapat gambar-gambar yang dibuat manusia pada masa yang sangat jauh dari kehidupan kita sekarang.
Yang menarik bukan hanya bentuk gambarnya, tetapi pertanyaan yang muncul di baliknya: siapa yang membuatnya, bagaimana mereka hidup, dan apa yang membuat mereka meninggalkan gambar itu di dinding gua?
Penelitian yang dipublikasikan di Nature pada Januari 2026 memberi alasan kuat untuk memandang kawasan ini secara berbeda. Sebuah cetakan tangan di Liang Metanduno diketahui memiliki usia minimum 67.800 tahun. Penanggalan dilakukan terhadap lapisan kalsit yang menutupi pigmen dengan metode uranium-series.
Angka 67.800 tahun sulit dibayangkan. Ia membawa kita jauh sebelum tulisan, negara, kota, bahkan sebelum sebagian besar hal yang kita kenal sebagai sejarah manusia.
Membayangkan Gambar itu Bermula
Tentu kita tidak tahu persis bagaimana gambar-gambar itu dibuat. Tidak ada catatan yang ditinggalkan pembuatnya. Tetapi berdiri di hadapan gambar itu membuat saya membayangkan sebuah adegan sederhana.
Seseorang baru saja kembali dari berburu. Perburuan berhasil. Ia bersama kelompoknya membawa pulang hewan yang mereka dapatkan, mengolahnya, lalu menikmati hasil buruan bersama.
Setelah makan, mungkin ada waktu ketika tidak ada pekerjaan yang harus segera dilakukan. Mereka duduk bersama. Anak-anak mendengarkan cerita. Pasangannya ikut mendengarkan. Pemburu itu kemudian menceritakan bagaimana mereka menemukan hewan tersebut, mengejarnya, dan akhirnya berhasil menangkapnya.
Ia mungkin mencoba menjelaskan seperti apa bentuk hewan itu. Besar tubuhnya, bentuk kepalanya, kaki atau tanduknya, dan bagaimana hewan itu bergerak ketika dikejar.
Tetapi menjelaskan bentuk hanya dengan kata-kata tidak selalu mudah. Mungkin pada saat itulah seseorang mengambil bahan pewarna yang tersedia di alam. Bisa jadi tanah atau mineral berwarna yang dapat meninggalkan jejak pada permukaan batu.
Dengan alat atau bahkan menggunakan tangannya sendiri, ia kemudian mencoba menggambar bentuk hewan yang baru saja menjadi bagian dari pengalaman mereka.
Dan ribuan tahun kemudian, bahkan setelah pembuatnya, anak-anaknya, dan keturunannya tidak lagi ada, gambar itu masih tersisa.
Kita tidak tahu apakah adegan tersebut benar-benar pernah terjadi. Itu adalah imajinasi. Namun, bagi saya, membayangkannya membuat gambar-gambar di Liang Kabori dan Metanduno terasa lebih dekat.
Di balik sebuah gambar mungkin pernah ada pengalaman yang ingin diceritakan. Ada seseorang yang melihat sesuatu, mengingatnya, kemudian menemukan cara untuk membuat orang lain melihat apa yang ada dalam pikirannya.
Di titik itu, manusia yang hidup puluhan ribu tahun lalu tidak terasa begitu asing.
Mereka mungkin belum mengenal tulisan. Mereka belum memiliki teknologi seperti kita. Tetapi mereka berburu, makan bersama, memiliki keluarga, bercerita kepada anak-anak, mengingat pengalaman, dan menemukan cara untuk berkomunikasi.
Penelitian di kawasan tersebut telah mendokumentasikan puluhan situs seni cadas. Namun, tidak semua gambar memiliki usia yang sama. Karena itu, angka 67.800 tahun tidak boleh dipahami sebagai usia seluruh lukisan di Liang Kabori atau Liang Metanduno.
Peneliti juga mengaitkan seni cadas tertua di Muna dengan Homo sapiens, meskipun mereka menegaskan bahwa tidak ada metode langsung untuk memastikan spesies pembuat cetakan tangan tersebut.
Justru di sinilah nilai ilmiahnya. Setiap gambar menjadi petunjuk yang harus dibaca bersama bukti lain: teknik pembuatan, pigmen, lapisan batuan, usia, bentuk gambar, dan konteks arkeologis di sekitarnya.
Liang Kabori dan Metanduno bukan sekadar tempat dengan gambar-gambar tua. Keduanya merupakan bagian dari cerita panjang mengenai bagaimana manusia bergerak, beradaptasi, berkomunikasi, dan meninggalkan jejak di kepulauan ini.
Membuat Orang Datang, Tanpa Kehilangan Nilainya
Karena itu, saya berharap semakin banyak orang datang ke Liang Kabori.
Bukan hanya wisatawan yang ingin melihat gua, tetapi juga keluarga, pelajar, mahasiswa, peneliti, komunitas, dan wisatawan dari luar Sulawesi Tenggara. Potensi wisata kawasan ini justru akan semakin besar jika pengunjung memahami cerita yang mereka lihat.
Informasi tentang usia gambar, proses penelitian, bahan pigmen, kehidupan manusia pembuatnya, serta kaitannya dengan perjalanan manusia perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Pusat informasi, museum kecil, dokumentasi digital, pemindaian tiga dimensi, dan replika dapat memperkaya pengalaman tanpa seluruh aktivitas wisata harus bergantung pada akses langsung ke dinding gua.
Masyarakat sekitar juga harus memperoleh manfaat nyata. Pemandu lokal, transportasi, penginapan, kuliner, kerajinan, dan ekonomi kreatif dapat berkembang seiring meningkatnya kunjungan.
Dengan cara itu, arkeologi tidak berhenti sebagai pengetahuan para ahli. Ia menjadi pengalaman wisata yang memberi makna sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Pada akhirnya, yang membuat Liang Kabori istimewa bukan hanya karena gambarnya berusia puluhan ribu tahun. Yang lebih menarik adalah kenyataan bahwa di balik gambar itu pernah ada manusia yang memiliki pengalaman, ingatan, keluarga, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk bercerita.
Kita mungkin tidak pernah tahu siapa namanya. Tetapi setelah puluhan ribu tahun, ia masih dapat berbicara kepada kita melalui gambar yang ditinggalkannya di dinding gua.
Tugas kita sekarang adalah membuat semakin banyak orang dapat mendengar cerita itu.
