Menghitung Lapak Bensin di Pinggir Jalan

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya iseng menghitung jumlah penjual bensin di pinggir jalan sepanjang kira-kira setengah kilometer.
Saya menghitung lapak yang berada di tepi jalan, baik di sisi kanan maupun kiri. Termasuk beberapa lapak yang sedang kosong, tetapi saya tahu tempat itu digunakan untuk menjual bensin.
Anda tahu berapa jumlahnya?
13 lapak.
So what?
Mungkin tidak ada yang istimewa dari angka itu. Tetapi kalau kita berhenti sebentar dan mencoba membacanya, angka tersebut sebenarnya cukup menarik.
Bayangkan, dalam jarak sekitar setengah kilometer saja ada 13 orang atau keluarga yang menjadikan penjualan bensin sebagai sumber penghasilan. Kalau pola serupa tersebar di sepanjang jalan dalam satu kota, jumlahnya tentu bisa mencapai ratusan, bahkan mungkin ribuan. Saya tidak tahu angka persisnya dan tidak ingin mengarang statistik dari pengamatan sederhana.
Tetapi justru pengamatan sederhana itulah yang membuat saya berpikir.
Di Balik Angka yang Terlihat Kecil
Mari kita hitung secara kasar.
Misalnya satu lapak menjual 30 liter bensin. Jika terdapat ribuan lapak, jumlah bensin yang berpindah melalui jalur eceran itu tentu bukan angka kecil.
Saya kemudian berhenti menghitung.
Sebab pertanyaan berikutnya menjadi agak tidak nyaman: dari mana bensin itu diperoleh, bagaimana rantai pasoknya berjalan, dan mengapa usaha semacam ini bisa terus hidup?
Saya tidak tahu jawabannya secara menyeluruh. Atau mungkin saya ingin pura-pura tidak tahu.
Sebab ada sisi lain yang juga nyata. Di balik setiap lapak ada orang yang sedang mencari penghasilan. Bisa jadi ia tidak memiliki pekerjaan formal. Bisa jadi modalnya terbatas. Bisa jadi menjual bensin adalah salah satu dari sedikit pilihan ekonomi yang tersedia baginya.
Karena itu, melihat fenomena ini hanya sebagai persoalan distribusi bensin tentu terlalu sederhana.
Ada ekonomi masyarakat bawah yang tumbuh dari kebutuhan sehari-hari.
Namun ada satu hal yang lebih menarik lagi: lapak-lapak itu tidak mungkin bertahan kalau tidak ada pembelinya.
Mereka buka hari ini karena kemarin ada yang membeli. Mereka kulakan lagi karena stok sebelumnya habis. Dan mereka terus berada di pinggir jalan karena ada orang yang memilih berhenti di sana.
Artinya, pasar itu sesungguhnya kita ciptakan bersama.
Ada pengendara yang tidak ingin mengantre di SPBU. Ada yang hanya membutuhkan beberapa liter. Ada yang merasa lapak bensin lebih dekat dengan rumahnya. Ada pula yang mungkin sekadar memilih cara yang paling praktis.
Dalam ekonomi, permintaan menciptakan ruang bagi penawaran. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, hubungan itu sering kali hadir begitu biasa sehingga kita tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang perlu dipikirkan.
Kita berhenti, membeli, lalu pergi.
Padahal dari transaksi kecil itu muncul pekerjaan, perputaran uang, sekaligus sebuah ekosistem ekonomi informal.
Jangan Hanya Menghitung Liter
Karena itu, 13 lapak yang saya temukan dalam jarak setengah kilometer tadi sebenarnya bukan sekadar 13 lapak.
Di sana ada angka yang mungkin besar. Ada kebutuhan masyarakat. Ada pilihan konsumen. Ada pekerjaan. Ada rantai pasok. Dan tentu saja ada persoalan yang mungkin tidak sederhana.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua yang berlangsung di baliknya pasti benar atau harus dibiarkan begitu saja. Pemerintah tetap perlu memastikan distribusi energi berjalan sesuai aturan, tepat sasaran, dan tidak membuka ruang bagi penyimpangan.
Tetapi mungkin kita juga perlu melihatnya dengan kacamata yang lebih utuh.
Sebab sering kali kita terlalu cepat melihat sesuatu hanya dari sisi aturan, sementara di baliknya ada manusia yang sedang berusaha bertahan hidup.
Saya kembali mengingat angka tadi: 13 lapak dalam setengah kilometer.
Mungkin angka itu kecil kalau dilihat sebagai statistik. Tetapi jika kita membayangkan orang-orang di belakang setiap lapak, angka itu berubah menjadi cerita tentang bagaimana masyarakat menciptakan jalannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan.
Dan mungkin di situlah persoalannya menjadi lebih menarik.
Bukan hanya berapa liter bensin yang terjual, tetapi mengapa pasar itu ada, siapa yang membutuhkannya, dan mengapa begitu banyak orang merasa perlu berada di sana.
Kadang-kadang, untuk memahami ekonomi sebuah kota, kita tidak perlu lebih dulu membuka laporan statistik.
Cukup berjalan di pinggir jalan, lalu menghitung apa yang kita lihat.
