Konten dari Pengguna

Siapa yang Membelokkan Setang Sepeda Kita?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjalanan yang Tidak Pernah Benar-Benar Direncanakan

Saya kerap bertanya: benarkah kita memiliki kehendak bebas?

Pertanyaan itu tidak muncul ketika saya membaca buku filsafat atau mengikuti perdebatan akademik. Ia justru datang pada saat-saat yang sangat biasa: ketika saya mengayuh sepeda setiap pagi sebelum bekerja.

Saya hampir tidak pernah menentukan tujuan gowes. Tidak ada target harus mencapai pantai tertentu, bukit tertentu, atau menempuh sekian kilometer. Satu-satunya keputusan yang saya buat hanyalah jam berapa saya harus selesai. Setelah itu saya harus pulang, mandi, lalu bekerja seperti hari-hari lainnya.

Di luar batas waktu itu, saya membiarkan perjalanan berlangsung apa adanya.

Mungkin terdengar aneh. Namun justru karena tidak memiliki tujuan yang kaku, setiap persimpangan menjadi ruang kecil tempat saya mengamati sesuatu yang selama ini luput saya sadari: betapa banyak keputusan yang saya ambil tanpa benar-benar merasa sedang memutuskannya.

Di sebuah tikungan, tangan saya tiba-tiba membelokkan setang ke kiri. Beberapa menit kemudian saya sudah berada di jalan yang semula sama sekali tidak saya bayangkan akan saya lalui. Tidak ada proses berpikir yang panjang. Tidak ada rapat batin yang mempertimbangkan untung-rugi. Keputusan itu seolah muncul begitu saja.

Lalu saya bertanya dalam hati: siapa sebenarnya yang memilih jalan itu?

Sebuah Belokan, Sebuah Pertanyaan

Pagi itu pertanyaan itu kembali hadir.

Semula saya mengira akan mengambil rute yang sudah sangat akrab. Jalan itu relatif pendek dan aman untuk ukuran hari kerja. Saya tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan sehingga tidak khawatir terlambat pulang.

Namun entah mengapa, di sebuah persimpangan saya membelok.

Belokan kecil itu ternyata mengubah seluruh perjalanan.

Saya justru memutari teluk—rute yang jauh lebih panjang daripada kebiasaan saya pada hari kerja. Dulu saya pernah melakukannya, tetapi ketika hari libur. Saat itu saya bebas berlama-lama karena tidak ada pekerjaan yang menunggu.

Kali ini situasinya berbeda. Saya tetap harus memperhatikan waktu.

Anehnya, saya tidak merasa sedang mengambil keputusan besar. Saya hanya terus mengayuh.

Hadiah dari keputusan spontan itu ternyata tidak kecil.

Saya menemukan kembali sebuah pantai kecil di Lapulu yang belum pernah benar-benar saya nikmati. Saya berhenti beberapa saat di kawasan waterfront yang tenang. Dari sana rumah-rumah di perbukitan seberang teluk terlihat seperti mozaik kecil yang menempel di lereng. Perahu-perahu bergerak perlahan. Jembatan Teluk tampak berbeda ketika dilihat dari sudut yang selama ini tidak pernah saya datangi.

Tempatnya sebenarnya sudah lama ada.

Yang baru adalah cara saya menemukannya.

Saya pulang dengan tubuh sedikit lebih lelah, tetapi pikiran justru terasa lebih segar. Seolah-olah perjalanan itu tidak hanya memperluas jarak tempuh, melainkan juga memperluas cara saya memandang sesuatu yang sebenarnya sudah ada di sekitar saya.

Lapulu Beach (dokumentasi pribadi)

Kehendak Bebas atau Ilusi Kesadaran?

Pengalaman seperti itu membuat saya terus memikirkan satu pertanyaan yang tampaknya sederhana tetapi sesungguhnya sangat tua: apakah kita benar-benar memilih?

Dalam filsafat, pertanyaan ini telah diperdebatkan selama berabad-abad.

Sebagian filsuf meyakini manusia memiliki kehendak bebas sehingga pantas dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya. Sebagian lain berpendapat bahwa setiap keputusan hanyalah akibat dari rangkaian sebab-akibat yang telah bekerja sebelumnya—mulai dari genetika, pengalaman hidup, lingkungan sosial, hingga kondisi biologis otak.

Perdebatan itu menjadi semakin menarik ketika ilmu saraf modern mulai ikut berbicara.

Pada awal 1980-an, neurofisiolog Benjamin Libet melakukan eksperimen yang kemudian menjadi salah satu penelitian paling banyak dibahas mengenai kehendak bebas. Ia menemukan adanya readiness potential, yaitu aktivitas listrik di otak yang muncul beberapa ratus milidetik sebelum seseorang melaporkan secara sadar telah memutuskan untuk menggerakkan tangannya. Penelitian lanjutan dengan teknologi pencitraan otak bahkan menunjukkan bahwa pola aktivitas tertentu dapat memprediksi pilihan sederhana seseorang beberapa detik sebelum orang tersebut menyadari keputusannya.

Temuan-temuan itu memunculkan pertanyaan yang mengganggu.

Kalau otak sudah "memutuskan" lebih dulu, apa sebenarnya peran kesadaran kita?

Apakah kesadaran hanyalah juru bicara yang datang belakangan untuk menjelaskan keputusan yang sebenarnya sudah dibuat oleh jaringan saraf?

Tentu saja penelitian tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa kehendak bebas hanyalah ilusi. Banyak filsuf dan ilmuwan mengingatkan bahwa eksperimen semacam itu hanya menguji keputusan-keputusan sederhana—misalnya kapan menggerakkan jari—bukan keputusan kompleks seperti memilih pasangan hidup, berpindah pekerjaan, atau menentukan arah hidup. Namun, eksperimen itu cukup untuk menggoyahkan keyakinan kita bahwa setiap keputusan selalu lahir dari kesadaran penuh.

Dan justru di situlah kegelisahan saya bermula.

Intuisi yang Membentuk Jalan

Ketika saya membelokkan setang pagi tadi, mungkin otak saya sedang mengolah begitu banyak informasi yang bahkan tidak saya sadari.

Barangkali saya merindukan pemandangan laut setelah beberapa hari melewati rute yang sama.

Barangkali saya sedang mencari variasi karena otak manusia memang cenderung menyukai kebaruan.

Atau mungkin tubuh saya sedang berada dalam kondisi emosional tertentu yang membuat saya lebih terbuka terhadap petualangan kecil.

Psikolog Daniel Kahneman menyebut bahwa sebagian besar keputusan sehari-hari diambil oleh apa yang ia sebut sebagai System 1: cara berpikir yang cepat, intuitif, dan otomatis. Kesadaran rasional yang lambat sering kali baru datang belakangan untuk memberikan alasan yang terdengar logis.

Mungkin benar.

Tetapi saya juga merasa ada sesuatu yang hilang jika seluruh pengalaman manusia direduksi menjadi sekadar reaksi biologis.

Sebab hidup bukan hanya kumpulan impuls listrik.

Ia juga kumpulan makna.

Jalan yang Memilih Kita

Semakin sering saya bersepeda, semakin saya merasa bahwa perjalanan selalu memiliki cara mengejutkan untuk memperlihatkan dirinya.

Kadang-kadang kita mengira sedang mencari jalan.

Padahal jalanlah yang sedang membentuk cara kita melihat dunia.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering memuja kemampuan merencanakan. Kalender penuh. Target jelas. Agenda tersusun rapi. Semua seolah harus dapat diprediksi.

Padahal sebagian pengalaman paling bermakna justru lahir dari ruang yang tidak sepenuhnya kita kendalikan.

Banyak pertemanan berawal dari kebetulan.

Banyak ide besar muncul ketika seseorang sedang berjalan tanpa tujuan.

Banyak penemuan ilmiah bahkan lahir karena peneliti menemukan sesuatu yang sama sekali tidak sedang mereka cari.

Kehidupan tampaknya memang menyukai paradoks.

Kita membutuhkan rencana agar tidak tersesat.

Namun kita juga membutuhkan ruang kosong agar dapat menemukan sesuatu yang tak pernah masuk ke dalam rencana.

Barangkali itulah yang terjadi pada perjalanan saya pagi tadi.

Saya memang tidak merencanakan pantai kecil itu.

Tetapi justru karena tidak merencanakannya, saya benar-benar melihatnya.

Barangkali Kehendak Bebas Bukan Soal Mengendalikan Segalanya

Saya tidak tahu apakah manusia benar-benar memiliki kehendak bebas.

Saya juga tidak yakin ilmu pengetahuan akan segera memberikan jawaban yang memuaskan. Sebab pertanyaan itu berada di perbatasan antara filsafat, psikologi, neurosains, bahkan pengalaman hidup yang sangat personal.

Namun saya mulai curiga bahwa selama ini saya mungkin mengajukan pertanyaan yang kurang tepat.

Barangkali kehendak bebas bukan berarti kita menjadi penguasa mutlak atas setiap keputusan.

Mungkin yang lebih penting justru kemampuan untuk menyadari dorongan-dorongan yang bekerja di dalam diri kita. Menyadari kebiasaan, rasa takut, intuisi, pengalaman masa lalu, dan berbagai pengaruh yang diam-diam ikut membelokkan "setang" kehidupan kita. Kesadaran semacam itu tidak membuat kita sepenuhnya bebas, tetapi setidaknya membuat kita tidak sepenuhnya digerakkan tanpa tahu oleh apa.

Ada kebijaksanaan yang lahir bukan dari menguasai seluruh perjalanan, melainkan dari kesediaan berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua tikungan harus dipetakan sejak awal.

Pagi itu saya pulang dengan tubuh yang sedikit lebih letih, tetapi hati yang jauh lebih ringan. Saya menemukan tempat-tempat yang tidak saya cari, menikmati sudut teluk yang belum pernah saya lihat dengan cara yang sama, dan membawa pulang sebuah pertanyaan yang belum selesai dijawab.

Mungkin memang begitu cara kehidupan bekerja.

Kita menetapkan waktu pulang, tetapi tidak selalu dapat menentukan ke mana jalan akan membawa kita. Kita merasa sedang memilih arah, padahal mungkin arah itu juga sedang memilih kita.

Dan mungkin, di situlah letak kebebasan yang sesungguhnya: bukan dalam keyakinan bahwa kita mengendalikan seluruh perjalanan, melainkan dalam kesediaan untuk tetap sadar, tetap ingin tahu, dan tetap terbuka ketika sebuah belokan kecil menghadirkan kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah kita rencanakan. Karena pada akhirnya, hidup barangkali bukan hanya soal sampai di tujuan, melainkan juga tentang keberanian memberi ruang bagi kejutan-kejutan yang diam-diam membentuk siapa diri kita.