Konten dari Pengguna

Terobsesi Menjadi yang Pertama

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ini pertama kali dalam sejarah.”

Ungkapan ini sering terdengar ketika seorang pemimpin mengumumkan pencapaian. Ada kebanggaan di dalamnya, seolah-olah sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya dengan sendirinya memiliki nilai lebih. Sebuah gagasan baru mulai diwujudkan, program diluncurkan, atau strategi diperkenalkan. Bahkan ketika hasilnya belum terlihat, kebanggaan terkadang sudah lebih dahulu hadir.

Apalagi jika sesuatu yang pertama kali dalam sejarah itu sudah menghasilkan output, bahkan outcome yang nyata. Pencapaian tersebut menjadi semakin membanggakan karena bukan hanya menghadirkan sesuatu yang baru, tetapi juga meninggalkan catatan tentang siapa yang memulainya.

Saya kira, tidak ada yang salah dengan kebanggaan semacam itu. Keinginan untuk membuat terobosan dapat mendorong seseorang keluar dari kebiasaan lama, mencari cara yang lebih baik, dan menghasilkan perubahan. Organisasi pun membutuhkan pemimpin yang berani memulai sesuatu yang sebelumnya dianggap sulit dilakukan.

Namun, saya mulai melihat persoalan ketika kebaruan itu sendiri berubah menjadi tujuan. Ketika menjadi yang pertama lebih penting daripada memastikan sesuatu yang dikerjakan benar-benar bermanfaat dan bertahan lama.

Ilustrasi dibuat dengan AI

Ego di Balik Terobosan

Bagi sebagian pemimpin, menciptakan sesuatu yang belum pernah ada mungkin bukan semata-mata kebutuhan organisasi. Ada dorongan psikologis untuk meninggalkan jejak pribadi. Program baru, kebijakan baru, atau strategi baru menjadi semacam penanda bahwa pada masa kepemimpinannya telah terjadi sesuatu yang berbeda.

Dalam batas tertentu, ini manusiawi. Setiap orang tentu ingin dikenang melalui sesuatu yang dikerjakannya. Masalahnya, keinginan tersebut dapat memengaruhi cara seorang pemimpin menentukan prioritas.

Program yang sudah berjalan baik belum tentu menarik lagi karena tidak menawarkan kebanggaan sebagai pencetus. Sebaliknya, program baru terasa lebih menjanjikan karena memberikan kesempatan untuk mengumumkan sebuah terobosan. Perhatian kemudian bergeser dari pertanyaan tentang apa yang paling dibutuhkan organisasi menjadi apa yang bisa ditampilkan sebagai pencapaian baru.

Di sinilah ego berpotensi menyusup ke dalam pengambilan keputusan. Kepentingan organisasi dan ambisi pribadi mungkin tampak sejalan pada awalnya, tetapi perlahan dapat bergerak ke arah yang berbeda.

Kita pun perlu berhati-hati dalam menilai sebuah terobosan. Kebaruan tidak otomatis berarti kemajuan. Sesuatu bisa saja belum pernah dilakukan sebelumnya bukan karena tidak ada yang memikirkannya, melainkan karena memang tidak terlalu dibutuhkan. Sebaliknya, sesuatu yang sudah lama dijalankan belum tentu kehilangan relevansinya.

Ketika Program Berganti, Manfaat Terhenti

Persoalan berikutnya adalah keberlanjutan. Program yang telah dibangun dengan susah payah, bahkan sudah menunjukkan hasil yang baik, tiba-tiba kehilangan perhatian ketika pemimpin berganti atau ketika pemimpin yang sama ingin menghadirkan agenda baru.

Sumber daya kembali diarahkan untuk memulai sesuatu yang berbeda. Orang-orang sibuk menyesuaikan diri, menyusun rencana, membangun mekanisme, dan mengejar target baru. Sementara itu, pengalaman dan hasil dari program sebelumnya tidak selalu dimanfaatkan sebagai pijakan untuk berkembang.

Jika pola ini terus berulang, organisasi akan menjadi sangat produktif dalam memulai, tetapi belum tentu berhasil dalam mempertahankan hasil. Banyak energi tercurah untuk melahirkan inisiatif, sedangkan manfaat jangka panjangnya justru tidak memperoleh perhatian yang sepadan.

Padahal, tidak semua kemajuan harus diwujudkan melalui program baru. Memperbaiki program yang sudah berjalan, memperluas jangkauan manfaatnya, atau menyempurnakan mekanismenya mungkin tidak menghasilkan pengumuman yang spektakuler. Namun, justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji: kemampuan membedakan sesuatu yang perlu diganti dari sesuatu yang hanya perlu diperbaiki.

Tidak Semua Harus Dimulai dari Nol

Saya kira, kita perlu mengubah cara memandang pencapaian dalam kepemimpinan. Ukuran keberhasilan tidak seharusnya berhenti pada berapa banyak terobosan yang dilahirkan atau berapa banyak hal yang untuk pertama kalinya berhasil dilakukan.

Ada ukuran lain yang tidak kalah penting: berapa banyak manfaat yang berhasil dipertahankan, berapa banyak kelemahan yang berhasil diperbaiki, dan seberapa jauh sebuah program dapat terus bekerja tanpa bergantung pada sosok yang memulainya.

Pemimpin yang baik memang perlu berani menciptakan sesuatu yang baru. Namun, ia juga perlu memiliki kebesaran hati untuk melanjutkan sesuatu yang baik, meskipun bukan dirinya yang pertama kali menggagasnya.

Sebab, organisasi bukan panggung untuk mengabadikan nama seseorang. Ia adalah ruang kerja bersama yang keberhasilannya seharusnya melampaui masa jabatan siapa pun.

Mungkin suatu hari nanti, kita perlu memberikan penghargaan yang sama besarnya kepada pemimpin yang mampu mempertahankan keberhasilan pendahulunya. Bukan karena ia menciptakan sesuatu yang pertama kali dalam sejarah, melainkan karena ia tidak membiarkan sesuatu yang baik berhenti hanya demi menciptakan sejarah baru.