Konten dari Pengguna

Tiga Kopdes di Bawah Jembatan Layang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi di akhir pekan itu saya sudah menentukan tujuan gowes. Saya ingin melampaui titik yang saya capai pada minggu sebelumnya. Bukan sesuatu yang muluk. Saya hanya ingin mengayuh pedal sedikit lebih lama, menempuh jarak sedikit lebih jauh. Arahnya tetap sama: kawasan pesisir.

Saya sudah punya pengalaman dari perjalanan sebelumnya. Di kawasan itu kendaraan yang lalu-lalang tidak terlalu banyak. Udara terasa lebih bersih karena jauh dari kepulan asap kendaraan. Saya juga bisa menyaksikan matahari pagi yang baru saja terbit dan menikmati laut ketika airnya sedang pasang. Dan benar saja, semua yang saya harapkan saya dapatkan pagi itu.

Jalanan relatif sepi. Matahari baru saja muncul dari ufuk. Air laut sedang pasang hingga mencapai batas jalan. Ada suasana yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota: jalan yang lengang, udara yang lapang, dan laut yang seolah belum terburu-buru memulai hari. Tetapi perjalanan tidak sepenuhnya mudah.

Ada beberapa tanjakan yang memaksa saya memindahkan gear belakang ke angka terkecil. Sepeda berjalan sangat pelan. Pada titik tertentu, saya hanya bisa mengayuh sambil mengatur napas dan memastikan satu hal: jangan sampai harus turun dan menuntun sepeda. Untungnya, saya berhasil melewati semuanya.

Mungkin tidak ada yang istimewa dari keberhasilan menaklukkan beberapa tanjakan. Tetapi bagi saya, gowes memang bukan semata-mata soal berapa kilometer yang berhasil ditempuh. Ada kepuasan kecil ketika tubuh yang mulai lelah tetap diajak bergerak sedikit lebih jauh dari batas sebelumnya.

Barangkali kaki saya akan terasa pegal dan linu setelahnya. Tetapi mungkin justru dari rasa pegal itulah kaki menjadi sedikit lebih kuat.

Saya kemudian tiba di sebuah jembatan layang. Dari atas jembatan itulah perjalanan sederhana tersebut mulai berubah menjadi sebuah perjalanan pikiran.

Pemandangan pagi di pesisir (foto pribadi)

Kampung di Atas Air

Di bawah jembatan, saya melihat sebuah perkampungan yang berdiri di atas air. Rumah-rumah penduduk sebagian besar masih menggunakan papan kayu. Rumah panggung dengan tiang-tiang penyangga yang sebagian terbuat dari kayu, sementara sebagian lainnya sudah menggunakan beton. Namun unsur kayu tetap menjadi bagian penting dari wajah perkampungan itu.

Atap rumah-rumah tersebut bukan genteng. Mungkin seng atau bahan lain yang saya tidak tahu persis namanya. Yang menarik perhatian saya justru warna rumah-rumah itu. Sebagian besar dicat biru.

Dari atas jembatan, perpaduan rumah panggung, air laut, kayu, dan warna biru tersebut menciptakan pemandangan yang menurut saya eksotik. Saya menebak, ini adalah sebuah perkampungan nelayan.

Saya tidak tahu persis bagaimana kehidupan orang-orang di bawah sana. Mungkin sebagian besar mereka pergi melaut sebelum matahari terbit. Mungkin ada yang memperbaiki jaring, membersihkan perahu, menjual ikan, atau melakukan pekerjaan lain yang berkaitan dengan laut. Tetapi dari kejauhan, saya melihat sesuatu yang sering luput dari perhatian kita ketika berbicara tentang pembangunan.

Sebuah kampung bukan sekadar sekumpulan rumah. Di dalamnya ada kehidupan ekonomi yang berjalan setiap hari. Ada orang yang bekerja, barang yang diproduksi, kebutuhan yang dipenuhi, transaksi yang berlangsung, dan hubungan sosial yang terbentuk secara alami. Kadang-kadang semua itu berlangsung tanpa terlihat dalam statistik ekonomi yang kita baca di kantor atau di layar komputer.

Kita sering berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dengan angka-angka besar: persentase pertumbuhan, investasi, inflasi, konsumsi, atau nilai transaksi. Tetapi di bawah jembatan itu, ekonomi mungkin sedang berlangsung dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.

Seekor ikan yang ditangkap nelayan pagi hari. Ikan yang dibeli pedagang. Uang yang kemudian digunakan untuk membeli beras. Anak yang berangkat sekolah. Bahan bakar perahu yang dibeli kembali. Dan begitu seterusnya.

Ekonomi, pada akhirnya, memang tidak selalu tampak seperti grafik. Kadang-kadang ia hanya berupa kehidupan sehari-hari yang terus bergerak.

Tidak jauh dari perkampungan tersebut, saya melihat sesuatu yang lain. Beberapa vila berdiri di atas laut. Bangunannya didominasi kayu dengan jalan setapak yang memanjang dari daratan menuju vila.

Saya tentu saja langsung membayangkan bagaimana rasanya tinggal di sana. Bangun pagi, membuka pintu, lalu mendapati laut terbentang di depan mata. Tidak perlu pergi ke pantai untuk melihat air laut karena laut itu sendiri sudah menjadi halaman rumah.

Entah kapan keinginan itu bisa terwujud. Tetapi mungkin begitulah awal dari banyak keinginan. Mula-mula hanya sebuah bayangan yang muncul ketika kita melihat sesuatu yang menarik. Setelah itu, tinggal bagaimana mencari jalan untuk mewujudkannya.

Namun ada satu pemandangan lain yang membuat tangan saya spontan meraih ponsel. Di bawah jembatan panjang itu, tepat di pinggir laut, berdiri bangunan Koperasi Desa Merah Putih. Bukan hanya satu. Ada tiga.

Tiga Bangunan Kopdes Merah Putih

Ketiga bangunan itu sudah selesai dibangun dan tampaknya tinggal menunggu operasional. Letaknya tidak terlalu berjauhan. Dua di antaranya kira-kira hanya berjarak 200–300 meter. Satu lainnya memang terpisah oleh sebuah celah atau aliran sungai.

Saya kemudian mulai bertanya-tanya. Mengapa di satu kawasan yang relatif berdekatan terdapat tiga Kopdes Merah Putih? Saya tentu tidak mengetahui jawabannya.

Dugaan saya, di bawah jembatan itu memang terdapat tiga desa yang berbeda. Karena itu, masing-masing desa memiliki Kopdes sendiri. Bisa jadi pula, lokasi tersebut dipilih karena memang merupakan tempat yang paling layak atau paling mudah diakses oleh masyarakat dari masing-masing desa.

Dan kalau memang demikian, sebenarnya tidak ada yang aneh. Jarak geografis tidak selalu sama dengan batas sosial dan administratif.

Dua desa bisa berdekatan secara fisik, tetapi memiliki pemerintahan, masyarakat, kebutuhan, dan aktivitas ekonomi yang berbeda. Bahkan dua desa yang bersebelahan bisa memiliki persoalan distribusi dan akses pasar yang berbeda pula.

Karena itu, melihat tiga bangunan koperasi berdiri berdekatan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi pemborosan. Namun justru di situlah pertanyaan yang lebih penting muncul.

Bukan: mengapa ada tiga bangunan? Melainkan: apa yang akan dilakukan oleh ketiganya setelah bangunan itu selesai? Pertanyaan itu menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jarak antarbangunan.

Pemerintah memang sedang mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi desa. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 menempatkan program ini sebagai upaya percepatan pembentukan hingga 80 ribu koperasi desa/kelurahan, dengan kegiatan yang antara lain dapat mencakup sembako, simpan pinjam, klinik, apotek, cold storage, pergudangan, dan logistik. Yang juga penting, regulasi tersebut menekankan agar pengembangan koperasi memperhatikan karakteristik, potensi, dan lembaga ekonomi yang telah ada di desa atau kelurahan.

Artinya, bangunan hanyalah salah satu bagian dari cerita. Bahkan mungkin bukan bagian yang paling penting.

Koperasi baru benar-benar bermakna ketika ia menjadi institusi ekonomi yang hidup. Ada anggota yang aktif. Ada transaksi. Ada barang yang bergerak. Ada hasil produksi masyarakat yang terserap. Ada keuntungan yang kembali kepada anggota. Ada pengelola yang memiliki kemampuan. Dan yang paling penting, ada kebutuhan nyata masyarakat yang berhasil dijawab.

Presiden sendiri pada 2026 menegaskan gagasan tersebut. Koperasi Merah Putih diarahkan menjadi pusat pelayanan ekonomi desa yang terintegrasi, termasuk toko sembako, simpan pinjam, apotek, logistik, gudang, dan cold storage. Bahkan untuk desa nelayan, fasilitas pendingin dan pabrik es disebut sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat pesisir.

Maka saya membayangkan kembali tiga bangunan yang saya lihat dari atas jembatan tadi. Jika memang ketiganya berada di desa yang berbeda, saya berharap masing-masing kelak memiliki alasan keberadaannya sendiri.

Saya teringat dua minimarket ternama yang kadang bisa berdiri hanya beberapa puluh atau ratus meter satu sama lain. Bahkan tidak jarang keduanya berhadap-hadapan. Tidak ada yang merasa aneh. Mengapa?

Karena kita memahami bahwa yang menentukan keberlangsungan minimarket bukan semata-mata jaraknya, melainkan apakah ada konsumen yang datang, apakah barangnya tersedia, apakah harga kompetitif, dan apakah bisnis tersebut menghasilkan keuntungan.

Koperasi tentu berbeda dengan minimarket. Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin bisa kita ambil: keberadaan fisik tidak otomatis menunjukkan keberhasilan sebuah institusi.

Sebuah minimarket bisa memiliki bangunan yang bagus tetapi tutup jika tidak memiliki pelanggan. Demikian pula koperasi dapat memiliki kantor yang megah, gudang, kendaraan, bahkan berbagai fasilitas pendukung, tetapi tetap tidak menjadi kekuatan ekonomi desa jika tidak ada aktivitas usaha yang benar-benar hidup di dalamnya.

Di sinilah saya kira tantangan terbesar Kopdes Merah Putih justru dimulai setelah kamera berhenti mengambil gambar pembangunan. Yang perlu dilihat adalah apa yang terjadi setelahnya.

Apakah nelayan dapat menjual ikan dengan harga yang lebih baik? Apakah hasil tangkapan tidak lagi rusak karena tersedia cold storage? Apakah kebutuhan pokok masyarakat dapat diperoleh dengan harga yang wajar? Apakah pelaku usaha kecil memperoleh akses pembiayaan? Apakah koperasi mampu menjadi pembeli hasil produksi masyarakat? Apakah keuntungan kembali kepada anggota dan memperkuat modal koperasi?

OECD dalam kajiannya mengenai perkembangan koperasi juga menekankan bahwa koperasi akan lebih mampu bertahan ketika kekuatan tradisionalnya—kepercayaan sosial dan keterlibatan komunitas—bertemu dengan investasi pada inovasi, kemampuan digital, riset, serta jejaring antarkoperasi. Dengan kata lain, koperasi bukan hanya soal bangunan dan modal, tetapi juga tentang kapasitas manusia dan kemampuan beradaptasi.

Bagi saya, ini penting karena koperasi memiliki satu modal yang tidak dimiliki semua jenis badan usaha: kedekatan dengan komunitas. Koperasi seharusnya tahu siapa nelayan yang membutuhkan es. Ia tahu siapa petani yang kesulitan menjual hasil panen. Ia tahu kapan masyarakat membutuhkan sembako. Ia tahu siapa anggota yang membutuhkan pembiayaan.

Tetapi kedekatan saja tidak cukup. Kepercayaan masyarakat harus dibalas dengan profesionalisme. Semangat gotong royong harus bertemu dengan tata kelola yang baik. Ide ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan menjadi model bisnis yang masuk akal.

Dari Kayuhan ke Sebuah Harapan

Pagi itu sebenarnya saya hanya ingin gowes lebih jauh daripada minggu sebelumnya. Saya tidak sedang mencari bahan tulisan. Tidak sedang melakukan pengamatan pembangunan. Apalagi sengaja mencari persoalan untuk dipikirkan. Saya hanya ingin bersepeda di tepi laut.

Saya berangkat untuk melatih kaki agar lebih kuat. Tetapi di bawah jembatan panjang di tepi laut, pikiran saya justru diajak menempuh perjalanan yang lain: tentang kampung nelayan dan tiga koperasi yang sedang menunggu kehidupannya dimulai.

Saya berharap setahun lagi, ketika saya kembali melewati jembatan itu, saya tidak hanya melihat bangunan koperasi yang masih berdiri. Saya ingin melihat aktivitas. Ada nelayan yang membawa ikan ke koperasi. Ada kendaraan yang mengangkut hasil tangkapan. Ada warga yang membeli kebutuhan sehari-hari. Ada anak muda yang bekerja di sana. Ada transaksi yang berlangsung. Ada orang-orang yang datang bukan untuk berfoto di depan bangunan, melainkan karena memang membutuhkan layanan koperasi. Atau ada barang-barang kebutuhan yang bisa saya beli.

Kalau itu terjadi, berarti tiga koperasi di bawah jembatan itu mampu mengayuh ekonomi desa mereka sendiri.