Menanjak dari Kolam: Pentingnya Jalur Karier & Learning Path di Industri Tambak

Praktisi Budidaya dan Pemerhati SDM Akuakultur
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigit E Praptono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tepi pantai, tambak udang berdiri sebagai penopang ekonomi ribuan keluarga. Kolam-kolam itu bukan hanya tempat membesarkan hewan air, tetapi juga sumber nafkah, harapan, bahkan kebanggaan. Namun, di balik geliat produksi, ada persoalan yang jarang disorot: minimnya jalur karier yang jelas bagi pekerja tambak.
Bagi banyak anak muda pesisir, bekerja di tambak sering dipandang hanya sebagai pekerjaan kasar yang sifatnya sementara. Dari menjaga pintu air, menebar pakan, hingga membersihkan kincir, rutinitas harian berjalan tanpa kepastian jenjang karier. Akibatnya, motivasi sering merosot karena pekerjaan dianggap berhenti di titik ‘anak kolam’, tanpa ada prospek naik menjadi teknisi, supervisor, atau manajer, dan seterusnya.
Jalan Buntu di Kolam
Berbeda dengan industri manufaktur atau perbankan yang punya sistem promosi terstruktur, tambak udang kerap berjalan seadanya. Posisi teknisi atau manajer biasanya diisi orang luar, bukan dari internal pekerja. Para pekerja lapangan merasa terjebak dalam rutinitas: kerja keras, gaji pas-pasan, tanpa bayangan masa depan.
Fenomena ini menimbulkan efek domino. Turnover pekerja tinggi, tenaga berpengalaman keluar, dan tambak kehilangan pengetahuan praktis yang sebenarnya sangat berharga. Alih-alih membangun talenta jangka panjang, industri terjebak pada pola rekrutmen ulang tanpa henti.
Padahal, generasi muda saat ini punya ekspektasi berbeda. Survei PwC 2024 menyebutkan, karyawan global menempatkan peluang pengembangan keterampilan dan jenjang karier sebagai faktor utama dalam memilih pekerjaan. Generasi Z, yang kini mulai mengisi dunia kerja, lebih memilih perusahaan yang bisa memberikan ruang belajar dan berkembang, bukan sekadar gaji.
Produktivitas Ikut Terpengaruh
Minimnya jalur karier bukan hanya soal kepuasan pribadi pekerja. Ia berdampak langsung pada produktivitas tambak. Pekerja yang tidak melihat masa depan cenderung bekerja sebatas rutinitas. Kreativitas menurun, inisiatif berkurang, dan semangat memperbaiki proses nyaris padam.
Di industri tambak yang sangat bergantung pada detail teknis, mulai dari kadar oksigen hingga jadwal pemberian pakan, kelalaian sekecil apa pun bisa berdampak besar. Tanpa motivasi kuat, peluang kesalahan meningkat. Inilah yang membuat banyak tambak kesulitan menjaga konsistensi produksi meski sudah berinvestasi besar pada teknologi.
Laporan OECD dan FAO 2023 memperingatkan bahwa sektor pangan global menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil. Jika tambak udang tidak mampu menawarkan karier yang menjanjikan, bukan tidak mungkin mereka akan kehilangan tenaga kerja potensial ke sektor lain yang lebih jelas jalurnya, seperti manufaktur, logistik, atau bahkan industri digital.
Saatnya Merancang Learning Path
Mengatasi persoalan ini bukan perkara mustahil. Kuncinya ada pada perancangan learning path yang jelas dan terstruktur. Bukan hanya untuk kepentingan perusahaan, tetapi juga demi mengangkat martabat pekerjaan di tambak sebagai profesi yang bisa dibanggakan.
Pertama, perusahaan perlu membuat jenjang karier formal. Dari pekerja kolam → teknisi → supervisor → manajer tambak. Setiap level harus memiliki standar kompetensi yang jelas: keterampilan teknis, pengalaman, dan sertifikasi. Dengan begitu, pekerja bisa melihat peta jalan kariernya dan termotivasi untuk naik level.
Kedua, program pelatihan berjenjang perlu digelar. Sertifikat level 1 untuk pekerja kolam, level 2 untuk teknisi, level 3 untuk supervisor, dan seterusnya. Kolaborasi dengan SMK perikanan, politeknik, atau lembaga vokasi akan memperkuat legitimasi sistem ini. Kementerian Kelautan dan Perikanan sendiri sudah mendorong penguatan politeknik perikanan agar link and match dengan industri lebih kuat.
Ketiga, perusahaan harus mengaitkan insentif dengan kompetensi. Kenaikan gaji, bonus, atau tunjangan bisa diberikan berdasarkan keterampilan dan kinerja, bukan semata lama bekerja. Sistem ini bukan hanya adil, tetapi juga mendorong budaya belajar.
Keempat, digital learning platform bisa dimanfaatkan. Aplikasi sederhana berisi modul video, kuis, hingga micro-credential akan membantu pekerja belajar secara fleksibel, bahkan dari tambak terpencil. Proyek digitalisasi akuakultur sudah mulai digerakkan di Indonesia, dan SDM yang paham teknologi akan lebih siap menghadapi tantangan baru.
Kelima, job rotation dan mentorship bisa dijalankan. Pekerja kolam diberi kesempatan belajar monitoring kualitas air, teknisi mendapat pengalaman perencanaan produksi, dan supervisor belajar kepemimpinan. Sementara mentorship antar generasi membantu transfer pengetahuan, sekaligus meredakan potensi konflik antara pekerja senior dan junior.
Manfaat Jangka Panjang
Manfaat dari sistem karier yang jelas akan terasa luas. Pertama, loyalitas pekerja meningkat karena mereka melihat masa depan di tambak. Kedua, kualitas produksi terangkat karena pekerja lebih terampil dan termotivasi. Ketiga, industri tambak lebih mudah menarik minat generasi muda yang selama ini cenderung menjauh dari sektor perikanan.
FAO (2023) mencatat bahwa keberlanjutan akuakultur global sangat ditentukan oleh kualitas SDM, bukan hanya teknologi. Dengan sistem karier yang terstruktur, tambak bisa mencetak ‘talenta spesialis’ di bidang akuakultur, sumber daya manusia yang bukan hanya pekerja kasar, melainkan profesional yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan dunia.
Penutup
Industri tambak tidak bisa lagi hanya mengandalkan lumpur, kincir, dan keberuntungan panen. Di balik semua itu ada manusia, dengan mimpi dan masa depan yang harus dihargai.
Membangun jalur karier bukan sekadar strategi manajemen SDM, melainkan investasi jangka panjang. Ketika pekerja melihat tambak sebagai profesi yang bisa mengangkat hidupnya, mereka akan bekerja dengan hati, belajar dengan tekun, dan bertahan dengan loyal.
Tambak udang harus belajar dari sektor lain: karier tidak boleh berhenti di titik ‘anak kolam’.
