Kulit Ruam, Eksim Datang

Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta
Konten dari Pengguna
15 Mei 2022 11:15
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari SIH BELQIS AL HANIF KHAMBALI PUTRI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kulit Ruam, Eksim Datang (32185)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kulit merah. (Sumber: pexels.com)
Pernah alami eksim? Sampai sebagian hari yang dijalani hanya untuk menggaruk kulit. Bangun tidur kulit gatal, mau tidur kulit gatal, hingga sedang tertidur pun tanpa sadar tangan ini bergerak mencari di mana yang gatal.
ADVERTISEMENT
Beberapa orang di dunia menderita eksim. Seperti kisah Egis, perempuan berambut panjang yang tinggal di perbatasan Kota Depok.
Egis menderita penyakit eksim saat ia duduk di kelas 3 SMK. Eksimnya muncul pasca kecelakaan motor yang dialaminya saat itu. Kecelakaan yang membuat tubuhnya berubah dan terasa memalukan.
Di malam itu, laju motornya melewati Jl Raya Parung-Bogor. Ia diboncengi oleh temannya. Saat mereka tengah asyik berbincang, tiba-tiba saja motor dari belakang menabrak mereka di tikungan Lebak Wangi, ia terpental dan mengalami luka serius di bagian kaki kanannya, sedangkan temannya tidak mengalami luka sedikitpun.
Luka di kakinya tak kunjung sembuh, sudah dibawa ke klinik, puskesmas, ahli syaraf pun tak sembuh. Akhirnya keluarganya memutuskan membawanya berobat ke Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
Egis berangkat menggunakan transportasi kereta api, sepanjang perjalanan menuju stasiun ia dituntun oleh Ibu dan Neneknya.
Sebulan sudah di kampung halaman, akhirnya ia pulang dengan menampakan kakinya dan melangkah sepanjang jalan. Lukanya sudah mengering, namun tidak sembuh total. Ia mengalami infeksi kulit karena obat dan terapi yang dijalaninya. Di sinilah eksimnya mulai tumbuh dan ia harus tetap tersenyum menjalani hidupnya.
“Awalnya eksim tumbuh di daerah kaki yang bekas jatuh. Terus aku beli salep, tapi ternyata tidak ada efeknya. Akhirnya ke klinik, di kasih racikan salep. Sembuh di bagian itu, tapi bermunculan di bagian lainnya,” ucap Egis dengan mata yang berlinang.
Semakin hari kulitnya semakin sensitif. Ruam pada kulitnya terus bermunculan hingga menjadi bintik dan pecah karena terkena gesekan. Dari kaki menjalar ke tangan, punggung hingga pinggul. Hari-harinya tak terlewatkan dengan menggaruk kulit. Hal itu tak berhenti hingga tahun demi tahun silih berganti.
ADVERTISEMENT
Namun usahanya terus berjalan, Egis tetap bersikeras menyembuhkan kulitnya dengan pergi ke klinik untuk melakukan suntik dua minggu sekali. Namun hal itu tidak menyembuhkan kulitnya. Ia berada di titik terberat dalam hidupnya. Ia bahkan tidak tahu harus berbuat apalagi agar kulitnya dapat normal seperti dulu.
“Aku sedih banget, itu titik terberat dalam hidupku. Sampai detik inipun aku belum menemukan jalan keluarnya. Setiap mandi aku menangis melihat luka dan bekasnya menempel di tubuhku,” ucapnya yang tak tahan menahan air mata.
Menurutnya, yang lebih menyedihkan lagi jika semua aktivitas terganggu karena eksim yang menjalar ke bagian-bagian tubuh dan membekas hitam tak sama dengan kulit semula.
“Malu rasanya ketika bepergian dengan luka dan bekasnya. Cara instan ya dengan ditutupi menggunakan pakaian lengan panjang. Tapi kalau lagi tumbuh di tempat yang tidak tertutup seperti pergelangan tangan sangat rentan dengan persepsi orang,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Beberapa cara yang ia sekarang lakukan untuk mencegah timbulnya eksim yaitu dengan berusaha mencegah faktor-faktor yang menyebabkan eksim muncul. Yang paling penting tidak menggaruk walau terasa gatal, tahan-tahan, kalau perlu pakai sarung tangan. Selain itu menjaga pola makan yang baik dan tidak stress menjadi hal yang dapat mencegah kambuhnya eksim.
“Berbagai perawatan aku lakukan, aku juga memakai pelembab dan sudah tidak memakai sabun yang mengandung antiseptik, karena membuat kulit kering dan menimbulkan rasa gatal. Aku sadar ini mungkin yang terbaik, aku sudah mulai menerima dan tetap berusaha untuk bangkit lagi. Aku bersyukur masih diberi hidup dari kecelakaan malam itu,” pungkasnya sambil tersenyum manis.
Menurutnya, tidak perlu merasa malu dengan keadaan. Fokus dengan masalahnya, mencegah dan mengatasinya. Bekas luka juga akan memudar perlahan, walau tidak dengan waktu yang singkat. Terus gunakan produk-produk untuk menghilangkan bekas luka dengan komitmen.
ADVERTISEMENT
(Sih Belqis Al Hanif/Politeknik Negeri Jakarta)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020